Wall Street Membuka September dengan Tekanan dan Penurunan Signifikan
JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat melemah pada perdagangan Selasa (1/9/2026), mengawali September dengan tekanan. Aksi jual di pasar obligasi global dan lonjakan harga minyak mentah menjadi sentimen negatif.
Tiga indeks utama Wall Street kompak ditutup di zona merah. Ketegangan di Timur Tengah mendorong harga minyak lebih tinggi, sementara yield obligasi pemerintah naik ke level tertinggi dalam beberapa tahun.
Ross Mayfield, analis strategi investasi Baird, mengatakan, “Setelah komentar hawkish Kevin Warsh pada Jumat, terjadi serangan di Iran dan harga minyak naik. Ini merupakan kombinasi sempurna untuk hari yang risk-off di pasar yang diperdagangkan dekat level tertinggi sepanjang masa,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Secara historis, September dikenal sebagai bulan dengan kinerja terburuk bagi pasar saham AS. Data Finaeon menunjukkan sejak 1926, September mencatat rata-rata imbal hasil negatif, terutama pada tahun pemilu sela.
Ekspektasi suku bunga The Fed juga berubah. CME FedWatch Tool mencatat probabilitas 68,2 persen kenaikan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan September, naik tajam dari 39,6 persen sepekan sebelumnya.
Jay Hatfield dari InfraCap menilai The Fed ingin menunjukkan independensinya dari pemerintahan AS.
Data ekonomi AS menunjukkan tanda pelemahan. Laporan JOLTS mencatat perputaran tenaga kerja melambat, PMI manufaktur kehilangan momentum, dan belanja perumahan menurun.
Kinerja Indeks Utama Wall Street (1/9/2026):
- Dow Jones Industrial Average: turun 418,97 poin (0,79%) ke 52.766,93
- S&P 500: turun 54,67 poin (0,71%) ke 7.631,47
- Nasdaq Composite: turun 271,11 poin (1,03%) ke 26.099,77
Dari 11 sektor S&P 500, energi naik didukung lonjakan harga minyak, sementara consumer discretionary turun paling besar. Dow Jones Transportation Average anjlok 2,5 persen, dan Philadelphia SE Semiconductor Index turun 2,1 persen.
Di NYSE, saham turun mengungguli saham naik dengan rasio 2,8 banding 1. Sebanyak 143 saham mencatat level tertinggi baru, sementara 410 saham mencatat level terendah baru.
Pergerakan ini menegaskan kombinasi tekanan geopolitik, inflasi, dan faktor musiman yang membuat Wall Street memulai September dengan tren negatif.