Indo Premier Optimis Prospek Komoditas, Batu Bara Jadi Favorit
JAKARTA – Indo Premier Sekuritas menilai prospek komoditas masih positif, namun investor perlu selektif. Batu bara termal menjadi pilihan utama, disusul emas, lalu logam dasar.
Analis Indo Premier, Ryan Winipta, menyebut harga emas sempat reli hingga US$4.600 per ons troi (+15% sejak Juli 2026), tetapi momentum melemah setelah pernyataan hawkish Ketua The Fed di Jackson Hole.
Meski begitu, Indo Premier tetap bullish terhadap emas karena utang nasional AS menembus US$40 triliun. Koreksi harga emas dinilai sebagai peluang masuk.
Di sisi lain, batu bara dinilai lebih menarik karena katalis kuat dari penurunan produksi China, kekeringan di jalur sungai Indonesia, dan potensi permintaan musim dingin. Harga batu bara termal maupun kokas naik 3–9 persen secara bulanan.
Permintaan Eropa juga berpotensi meningkat akibat rendahnya penyimpanan gas dan penurunan energi terbarukan.
Indo Premier menilai saham AADI dan PTBA relatif terlindungi dari dampak kekeringan sungai. Keduanya diperdagangkan di kisaran 5–6 kali proyeksi PER 2026, dengan dividend yield masing-masing sekitar 8 persen (AADI) dan 7 persen (PTBA).
Untuk emas, Indo Premier merekomendasikan EMAS dan MDKA. Sementara logam dasar, khususnya nikel, menjadi pilihan terakhir karena risiko tambahan kuota RKAB yang bisa menekan harga.
Dengan preferensi komoditas batu bara > emas > logam dasar, Indo Premier menilai batu bara lebih menarik untuk jangka pendek, sementara emas tetap prospektif dalam jangka menengah-panjang.