Saham Oracle Rebound, Earnings 10 September Jadi Penentu Tren

Ilustrasi Saham Oracle mengalami rebound 26 persen menjelang laporan keuangan Q1 FY2027 pada 10 September 2026. (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 08 September 2026 | 22:48:49 WIB

JAKARTA - Oracle Corporation ($ORCL) merupakan perusahaan software dan infrastruktur cloud asal Amerika Serikat yang dalam beberapa tahun terakhir memperkuat bisnisnya sebagai salah satu penyedia infrastruktur cloud untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI) melalui Oracle Cloud Infrastructure (OCI).

Oracle dijadwalkan menyampaikan laporan keuangan kuartal pertama tahun fiskal 2027 (Q1 FY2027) pada Kamis, 10 September 2026 setelah penutupan pasar. Laporan tersebut menjadi perhatian investor setelah saham ORCL sempat merosot lebih dari 55 persen dari level tertinggi sepanjang masa.

Saham ORCL diperdagangkan pada $153,75 per 3 September 2026. Harga tersebut mencatat rebound 26 persen dalam satu bulan terakhir, tetapi masih berada 55,5 persen di bawah rekor tertinggi $345,72.

Rata-rata target harga dari 44 analis berada di $242,69 dengan rating Buy dan potensi kenaikan 63,3 persen. Namun, perbedaan pandangan analis masih cukup lebar, dengan Citi menetapkan target $330, sedangkan RBC Capital memberikan target $190.

Oracle akan merilis hasil Q1 FY2027 pada Kamis, 10 September 2026 setelah penutupan pasar, dilanjutkan conference call pada pukul 16.00 CT. Jadwal tersebut telah dikonfirmasi melalui pengumuman investor Oracle pada 2 September 2026.

Laporan keuangan tersebut mencakup periode Juni-Agustus 2026. Investor akan mencermati apakah rekor remaining performance obligations (RPO) sebesar $638 miliar mulai mendorong pertumbuhan pendapatan cloud yang kuat, sekaligus melihat perkembangan arus kas bebas yang masih tertekan akibat besarnya belanja modal untuk infrastruktur AI.

Menjelang laporan keuangan tersebut, pasar melihat Oracle melalui dua sudut pandang yang berbeda. Di satu sisi, RPO sebesar $638 miliar memberikan prospek pertumbuhan pendapatan yang kuat. Di sisi lain, kebutuhan dana besar untuk membiayai ekspansi infrastruktur AI menimbulkan kekhawatiran terhadap arus kas perusahaan.

Investor juga menunggu kepastian apakah Oracle mampu mempertahankan pertumbuhan pendapatan sebesar 27-29 persen yang menjadi panduan manajemen. Selain itu, pasar memperhatikan rencana pendanaan sekitar $40 miliar melalui utang dan ekuitas baru pada FY2027 untuk membiayai belanja modal infrastruktur AI.

Manajemen Oracle memberikan panduan pendapatan FY2027 sebesar $90 miliar dengan EPS non-GAAP $8,05. Karena itu, hasil kuartal pertama akan menjadi salah satu indikator penting untuk melihat apakah perusahaan masih berada di jalur pencapaian target tersebut, terutama melalui pertumbuhan Oracle Cloud Infrastructure (OCI).

Pada 3 September 2026, saham ORCL berada di level $153,75 dengan rentang perdagangan harian $146,19-$156,77. Kapitalisasi pasar Oracle tercatat sekitar $443,74 miliar.

Saham ORCL telah menguat 26 persen dalam sebulan terakhir dari titik terendah Juli. Namun, saham tersebut masih sekitar 55,5 persen di bawah rekor tertinggi $345,72. Kondisi ini menjadi perhatian Citi yang membuka status "90-day upside catalyst watch" dengan earnings 10 September dan investor day pada akhir Oktober sebagai dua katalis potensial.

Pada laporan FY2026 penuh yang dirilis Juni 2026, Oracle membukukan pendapatan $67,4 miliar atau tumbuh 17 persen secara tahunan. EPS non-GAAP mencapai $7,63 atau naik 27 persen, sedangkan EPS GAAP sebesar $5,83 atau meningkat 34 persen.

Pada kuartal keempat FY2026, pendapatan Oracle mencapai rekor $19,2 miliar atau meningkat 21 persen. Pendapatan cloud melonjak 47 persen menjadi $9,9 miliar, sementara Cloud Infrastructure (IaaS) tumbuh 93 persen menjadi $5,8 miliar.

Di sisi valuasi, koreksi saham lebih dari 55 persen dari level tertingginya membuat sebagian analis, termasuk Citi, menilai harga saham saat ini menarik. Namun, investor juga perlu memperhatikan arus kas bebas yang negatif sebesar $23,69 miliar pada FY2026, sementara belanja modal mencapai $55,66 miliar.

RPO Oracle meningkat 363 persen secara tahunan menjadi $638 miliar, bertambah $85 miliar hanya dalam satu kuartal. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh kontrak AI dalam skala besar.

Manajemen menyebut RPO tersebut memberikan "visibilitas luar biasa" terhadap pertumbuhan pendapatan ke depan, dengan 12 persen dari RPO diperkirakan dikonversi menjadi pendapatan dalam 12 bulan berikutnya dan 34 persen dalam 24 bulan mendatang.

Selain fundamental, pergerakan saham juga menjadi perhatian. Setelah turun lebih dari 50 persen dalam rentang 30-40 hari, ORCL telah rebound 26 persen dari titik terendah Juli. Laporan keuangan 10 September akan menjadi ujian apakah pemulihan tersebut didukung kinerja fundamental atau hanya bersifat teknikal dalam jangka pendek.

Investor day Oracle pada akhir Oktober 2026 juga menjadi katalis tambahan yang diperhatikan Citi. Kombinasi earnings 10 September dan agenda investor tersebut membuat periode September-Oktober menjadi fase penting bagi sentimen pasar terhadap saham ORCL.

Di sisi risiko, Oracle mencatat arus kas bebas negatif sebesar $23,69 miliar pada FY2026 dengan belanja modal mencapai $55,66 miliar untuk memperluas infrastruktur AI. Perusahaan juga berencana menghimpun sekitar $40 miliar dana baru melalui utang dan ekuitas pada FY2027.

Utang non-current Oracle telah meningkat menjadi $124,7 miliar dan berpotensi bertambah seiring rencana pendanaan tambahan tersebut. Peningkatan beban bunga di tengah arus kas bebas yang masih negatif menjadi salah satu risiko finansial yang perlu diperhatikan investor.

Selain itu, terdapat 36 transaksi jual bersih oleh pihak insider dalam periode terakhir. Rentang target harga analis yang sangat luas, yakni $110 hingga $400, juga menunjukkan adanya perbedaan besar dalam menilai prospek dan valuasi saham Oracle.

Per 7 September, saham ORCL diperdagangkan di $158,83 atau naik 3,11 persen dan bertambah $4,79. Harga tersebut berada di atas rata-rata pergerakan 20 hari (MA20) sebesar $148,28 dan rata-rata pergerakan 50 hari (MA50) sebesar $139,85.

Namun, harga saham masih berada di bawah rata-rata pergerakan 200 hari (MA200) sebesar $168,78. Kondisi tersebut menunjukkan tren penurunan jangka panjang secara teknikal belum sepenuhnya berbalik. Saham perlu menembus MA200 untuk memberikan konfirmasi pembalikan tren yang lebih kuat.

Indikator Stochastic RSI (14,14,3,3) berada pada level 80,05 (%K) dan 51,34 (%D). Posisi %K telah mencapai batas atas area overbought, sedangkan %D masih berada di zona netral. Perbedaan tersebut mencerminkan kenaikan yang cepat dan tajam sehingga masih terdapat peluang konsolidasi atau koreksi dalam jangka pendek.

Oracle dijadwalkan mengumumkan hasil Q1 FY2027 pada Kamis, 10 September 2026 setelah penutupan pasar. Laporan tersebut akan menjadi salah satu indikator penting untuk melihat kemampuan perusahaan mempertahankan pertumbuhan di tengah tingginya kebutuhan belanja modal AI.

RPO Oracle yang mencapai $638 miliar memberikan visibilitas terhadap potensi pendapatan mendatang. Namun, kondisi arus kas bebas negatif, kenaikan utang, kebutuhan pendanaan baru, serta rentang target analis yang lebar tetap menjadi sejumlah faktor risiko yang perlu diperhatikan investor.

Reporter: Ibtihal