JAKARTA – Nilai tukar rupiah pada pasar spot ditutup melemah pada sesi perdagangan Kamis (10/9/2026). Posisi kurs rupiah berada pada angka Rp 17.547 per dollar Amerika Serikat (AS).
Mengutip data Bloomberg, nilai mata uang garuda merosot 36 poin atau 0,21 persen jika dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya di angka Rp 17.511 per dollar AS.
Di saat yang sama, indeks dollar AS (DXY) yang mencatat kekuatan greenback atas enam mata uang utama dunia, terpantau merosot 0,10 persen ke level 98,721 pada pukul 15.00 WIB.
Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan bahwa meski pemerintah memberi sinyal posisi anggaran negara dalam keadaan aman, ancaman risiko fiskal dari tingginya harga minyak dunia masih membayangi stabilitas ekonomi.
Lonjakan harga minyak mentah menimbulkan kekhawatiran di berbagai sektor. Salah dampak utamanya, kenaikan harga minyak secara otomatis membengkakkan alokasi dana subsidi serta kompensasi energi, mencakup bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG).
“Jika penerimaan negara tidak mampu mengimbangi lonjakan pengeluaran subsidi, risiko pelebaran defisit anggaran di atas target akan meningkat,” ujar Ibrahim, Kamis sore ini sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Selain itu, skema impor minyak berharga mahal bakal meningkatkan tingkat kebutuhan atas dollar AS. Kondisi tersebut berpeluang memberikan beban tekanan bagi nilai tukar mata uang dalam negeri.
Bila pemerintah terpaksa mengoreksi harga BBM dalam negeri demi memangkas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), langkah tersebut berisiko memicu lonjakan inflasi sekaligus menekan tingkat daya beli masyarakat.
Pemerintah pada umumnya mengandalkan penyangga fiskal atau fiscal buffer, seperti peningkatan pemasukan dari ekspor komoditas lain akibat rezeki nomplok atau windfall, guna menjaga stabilitas anggaran.
Namun, tingginya ketidakpastian di pasar global menjadikan kewaspadaan pada kesinambungan fiskal tetap diutamakan.
Meskipun begitu, laju tekanan penurunan berhasil tertahan oleh tingkat sentimen konsumen pada Agustus yang menembus angka tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Hal ini didorong oleh menguatnya kondisi keuangan rumah tangga serta prospek ekonomi yang kian cerah.
Kendati lonjakan konsumsi belum diimbangi dengan kenaikan pendapatan, masyarakat masih bergantung pada fenomena “makan tabungan” demi menopang pengeluaran harian.
Di sisi lain, Amerika Serikat (AS) dan Iran terlibat dalam serangkaian aksi serangan terparah terhadap armada kapal sejak konflik pecah pada Februari.
Dinamika tersebut berlangsung di tengah kembali memanasnya pertempuran kedua belah pihak seusai sempat mereda sejenak pada Agustus.
Iran mengklaim telah menyerang 10 kapal di kawasan Selat Hormuz dan sekitarnya pada Rabu. Di saat bersamaan, pihak AS menyatakan telah membalas dengan menenggelamkan lima kapal tanker minyak milik Iran.
Kelompok Houthi di Yaman yang memperoleh dukungan dari Iran turut melancarkan serangan ke fasilitas infrastruktur energi Arab Saudi pekan ini. Aksi tersebut kian memperbesar kecemasan atas potensi gangguan pasokan energi.
Serangan kelompok Houthi semakin memperburuk kekhawatiran bahwa timbulnya gangguan pasokan di wilayah Teluk akan meluas hingga ke luar area Selat Hormuz.
Skenario tersebut berpeluang semakin memangkas volume ketersediaan minyak dunia. Presiden AS Donald Trump menyampaikan kepada awak media pada Rabu bahwa perang menghadapi Iran bakal berakhir seusai gelaran pemilihan umum sela pada November.
Namun, laporan majalah Wall Street Journal membeberkan bahwa jajaran penasihat utama Trump memberikan peringatan soal kemungkinan konflik yang terus bergejolak hingga sisa periode jabatan Trump.
Hal ini mengingat minimnya indikasi penurunan tensi eskalasi konflik antara pihak AS dan Iran.
Sementara itu, para pelaku pasar saat ini bersiap mencermati rilis data Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) AS pada Kamis serta data inflasi Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) pada Jumat besok.
Berbagai laporan tersebut dapat menyajikan petunjuk terkait arah penetapan kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada agenda pertemuan pekan depan, khususnya mengenai apakah bank sentral AS bakal menaikkan suku bunga demi meredam gejolak harga.
Berdasarkan analisis CME FedWatch Tool, pasar memproyeksikan peluang sekitar 60 persen untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan bank sentral AS pekan depan.