Wall Street Memerah, Harga Minyak Dunia Tembus 100 Dollar AS

Ilustrasi Bursa saham Amerika Serikat (AS) berakhir melemah pada perdagangan Rabu (9/9/2026). (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Kamis, 10 September 2026 | 22:05:47 WIB

JAKARTA - Bursa saham Amerika Serikat (AS) berakhir melemah pada perdagangan Rabu (9/9/2026). Tekanan terhadap pasar muncul akibat lonjakan harga minyak mentah yang menembus US$ 100 per barel serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjelang publikasi data inflasi.

Pada akhir perdagangan indeks S&P 500 turun 0,48% menjadi 7.636,46. Nasdaq melemah 0,64% ke 26.253,34, sedangkan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,77% menjadi 52.381,02.

S&P 500 kini berada sekitar 2% di bawah rekor penutupan yang dicapai pada 13 Agustus. Meski demikian, indeks tersebut masih membukukan kenaikan sekitar 12% sepanjang 2026.

Harga minyak Brent melonjak melewati US$ 100 per barel di tengah kekhawatiran mengenai pasokan minyak global serta kembali meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Perang Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang telah memasuki bulan ketujuh memicu kekhawatiran terhadap kemungkinan meluasnya konflik di kawasan tersebut.

Kenaikan harga minyak juga berpotensi meningkatkan inflasi sehingga menjadi perhatian investor dalam melihat arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Sektor energi S&P 500 menjadi satu-satunya sektor yang mencatat penguatan, yakni sebesar 1,1%. Sementara itu, seluruh sektor lainnya berakhir di zona merah.

Tekanan terhadap pasar saham turut berasal dari peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik ke level tertinggi sejak November 2023.

Kenaikan itu terjadi setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana pembelian obligasi pemerintah dengan tenor 10 hingga 20 tahun senilai hingga US$ 6 miliar.

Nilai pembelian tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan sejumlah analis yang memprediksi pembelian sekitar US$ 8 miliar hingga US$ 10 miliar.

Peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah yang dipandang sebagai aset bebas risiko dapat membuat saham menjadi kurang menarik bagi investor.

“Hal itu membuat pasar sedikit khawatir, terutama karena belum banyak yang bisa dijadikan pegangan terkait ekspektasi laba hingga kita memasuki musim laporan keuangan kuartal ketiga,” ujar Rob Haworth, senior investment strategist di U.S. Bank Wealth Management, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Investor selanjutnya menantikan data Producer Price Index (PPI) AS yang akan dirilis Kamis serta data inflasi konsumen atau Consumer Price Index (CPI) pada Jumat.

Kedua data tersebut akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan suku bunga The Fed. Pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 60% The Fed menaikkan suku bunga dalam pertemuan kebijakan pekan depan.

Saham Teknologi Bergerak Beragam

Pergerakan saham teknologi berlangsung bervariasi. Apple turun 0,3% setelah menggelar peluncuran smartphone pertamanya di bawah CEO baru John Ternus.

Sebaliknya, saham Meta melonjak lebih dari 6%. Penguatan tersebut membantu mengurangi tekanan terhadap S&P 500 setelah perusahaan media sosial itu memperkenalkan asisten kecerdasan buatan (AI) yang mampu menjalankan berbagai tugas secara otomatis, mulai dari mengirim email, menjual mobil hingga melakukan pemesanan perjalanan.

Saham Alphabet turun 2,3% setelah perusahaan induk Google tersebut mengumumkan rencana investasi sedikitnya US$ 15,1 miliar untuk membangun infrastruktur AI di Finlandia dalam dua tahun mendatang. Investasi itu mencakup kesepakatan besar terkait pasokan listrik tenaga nuklir.

Sementara itu, Philadelphia Semiconductor Index naik 0,37%. Saham Advanced Micro Devices (AMD) menguat 3%.

Di luar sektor teknologi, saham Dow turun 0,6% setelah Bloomberg melaporkan perusahaan kimia tersebut tengah mempertimbangkan untuk mengakhiri kemitraan senilai US$ 20 miliar dengan Saudi Aramco.

Reporter: Ibtihal