IHSG Tertekan 0,14 Persen, Simak Saham yang Jadi Pemberat

Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik melemah hingga masuk zona merah dengan koreksi 0,14% ke posisi 6.668 pada Sesi I perdagangan Kamis (10/9/2026). (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Kamis, 10 September 2026 | 22:06:22 WIB

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik melemah hingga masuk zona merah dengan koreksi 0,14% ke posisi 6.668 pada Sesi I perdagangan Kamis (10/9/2026). Saham Bank BRI (BBRI) hingga Telkom Indonesia (TLKM) menjadi sejumlah saham yang memberikan tekanan terhadap indeks.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG sempat melaju hingga mencapai level tertinggi 6.712. Namun, setelah itu pergerakan indeks berangsur melemah hingga menyentuh 6.655.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar atau big caps turut menjadi pemberat IHSG sepanjang Sesi I. Sektor transportasi, kesehatan, dan keuangan mencatat pelemahan paling dalam dengan masing-masing terkoreksi 0,56%, 0,48% dan 0,35%.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan nilai transaksi mencapai Rp11,54 triliun dari perdagangan sejumlah 24,05 miliar saham. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 1,49 juta kali.

Berikut sejumlah saham yang menjadi top laggards pada Sesi I Kamis (10/9/2026):

  1. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mengurangi 7,33 poin
  2. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengurangi 6,65 poin
  3. PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mengurangi 6,14 poin
  4. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mengurangi 2,96 poin
  5. PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) mengurangi 2,47 poin
  6. PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) mengurangi 1,66 poin
  7. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mengurangi 1,64 poin
  8. PT Bank Mega Tbk (MEGA) mengurangi 1,1 poin
  9. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mengurangi 0,92 poin
  10. PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) mengurangi 0,92 poin

IHSG yang sempat dibuka menguat pada pagi hari kemudian berbalik melemah dan masuk ke zona merah. Pergerakan tersebut terjadi di tengah perkembangan terbaru yang membuat sentimen pasar berada dalam kondisi penuh pertimbangan.

Investor cenderung wait-and-see menjelang keputusan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) dalam pertemuan 16 September 2026. Ekspektasi pasar masih terbagi, dengan kecenderungan rate hike yang menjadi salah satu sentimen berat bagi IHSG.

Panin Sekuritas menyebut, jika USD kembali merespons dengan penguatan, rupiah berpotensi kembali mengalami tekanan sehingga foreign inflow berpeluang tertahan.

“Pasar juga tengah mengacu pada aksi korporasi yang dapat menjadi momentum seiring katalis makro yang relatif minim,” papar Panin Sekuritas dalam catatannya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sisi lain, Panin Sekuritas juga melihat kondisi makro masih relatif akomodatif. Salah satunya tercermin dari nilai tukar rupiah yang menguat hingga berada di bawah level Rp17.600/US$, sehingga menopang sentimen pasar dalam jangka pendek.

Reporter: Ibtihal