Harga Minyak Melonjak, Bursa Asia Melemah dan Imbal Hasil Obligasi Naik

Ilustrasi saham asia (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Jumat, 11 September 2026 | 21:38:57 WIB

JAKARTA – Pasar saham Asia tertekan pada Jumat ini akibat kenaikan harga minyak dan tingginya imbal hasil obligasi yang mendorong investor mengambil sikap waspada. Kenaikan futures saham AS dan penguatan sejumlah saham berbasis AI belum mampu menahan penurunan secara keseluruhan.

Penurunan di pasar Asia melanjutkan tren negatif Wall Street yang melemah empat hari beruntun setelah harga minyak mentah Brent melampaui $100 dan imbal hasil Treasury merangkak naik. Dalam sesi perdagangan Asia, futures Nasdaq 100 menguat 0,4%, sedangkan futures S&P 500 naik 0,5%.

Indeks harga produsen AS mencatat kenaikan 0,4% pada Agustus, yang mendorong inflasi produsen tahunan mencapai 5,4%. Perkembangan ini memperkuat dugaan bahwa Federal Reserve berpotensi menaikkan suku bunga pada pekan mendatang, dengan probabilitas pasar mendekati 70%.

Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada rilis data harga konsumen Jumat ini untuk melihat dampak kenaikan biaya energi terhadap tingkat inflasi umum.

Tekanan jual melanda bursa Asia yang didominasi sektor teknologi, di mana kekhawatiran makroekonomi menggerus penguatan saham chip pada awal pekan.

Indeks MSCI Asia Pacific menyusut 1,3%, sementara KOSPI Korea Selatan tergerus 1,8%, Nikkei 225 Jepang merosot 1,9%, dan Hang Seng Hong Kong terkoreksi 0,5%.

Secara mingguan, pergerakan pasar bursa cenderung bervariasi dengan KOSPI masih mencatat kenaikan sekitar 2,5%, sementara Nikkei melemah 2,6%.

Saham semikonduktor memimpin penurunan di wilayah tersebut. SK Hynix melorot 3,4% meski bertahan naik 12,7% dalam sepekan, sedangkan Samsung Electronics berkurang 3,9% dengan kenaikan mingguan sebesar 5,3%.

Pelemahan ini terjadi di tengah berlanjutnya optimisme terhadap investasi infrastruktur AI, yang menunjukkan betapa cepatnya dinamika makroekonomi memengaruhi kinerja sektor pertumbuhan.

Di pasar Jepang, saham Kioxia anjlok 7,8% dan TDK melemah 3,1%, sementara Taiwan Semiconductor Manufacturing terkikis 1,43%.

Sektor AI tetap menunjukkan daya tarik tersendiri. Saham Oracle melesat lebih dari 6% pada perdagangan pascabursa setelah melaporkan pertumbuhan layanan cloud yang melampaui estimasi serta backlog yang mencapai $664 miliar.

Indeks Shanghai Composite terkoreksi lebih dari 1,9%, dan saham-saham teknologi Hong Kong melemah dengan Alibaba turun 0,9%, Meituan 1,1%, serta Tencent 0,2%.

Sebaliknya, Shanghai Enflame Technology yang didukung Tencent melesat sekitar 200% pada debut perdananya di Shanghai setelah mengumpulkan dana 6,12 miliar yuan ($912 juta).

Pasar obligasi Asia juga menghadapi tekanan jual. Imbal hasil obligasi tiga tahun Australia melesat ke 5,05%, sementara imbal hasil dua tahun Selandia Baru melonjak 24 basis poin, dan imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun mendekati 5%.

Di pasar kawasan lain, Nifty 50 India terkikis 0,6%, Straits Times Singapura turun 0,3%, dan Indeks Harga Saham Gabungan Indonesia melemah 1,4%.

Indeks S&P/ASX 200 Australia turun 1,26%, sedangkan NZX 50 Selandia Baru terkoreksi 0,6%.

Perkembangan harga minyak tetap menjadi perhatian utama bagi pasar global. Harga Brent berada di kisaran $107,66 per barel setelah sempat mendekati $110, memicu kenaikan mingguan sebesar hampir 13%.

Ketegangan di sekitar Selat Hormuz mengganggu arus pengiriman energi. Selain itu, pergerakan pasukan Houthi ke kawasan Mokha dekat Selat Bab al-Mandeb memicu kekhawatiran tambahan pada jalur logistik kawasan.

Reporter: Akbar