Harga Minyak Tembus USD100, Saham ENRG-MEDC Cs Menguat

Ilustrasi Saham sektor minyak dan gas menguat pada Jumat (11/9/2026), seiring harga minyak dunia menembus di atas USD100 per barel. (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Jumat, 11 September 2026 | 22:25:18 WIB

JAKARTA – Saham sektor minyak dan gas (migas) menguat pada Jumat (11/9/2026), mengikuti kenaikan harga minyak dunia yang menembus level di atas USD100 per barel di tengah meningkatnya risiko gangguan pasokan akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.08 WIB, saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) naik 3,42 persen menjadi Rp1.505 per unit.

Penguatan juga terjadi pada saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) yang meningkat 2,94 persen dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) yang menguat 1,91 persen.

Saham PT Elnusa Tbk (ELSA) tumbuh 1,37 persen, PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) terapresiasi 1,23 persen, sementara PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) naik 0,65 persen.

Kenaikan saham migas tersebut terjadi setelah harga minyak melonjak lebih dari 6 persen pada Kamis (10/9), dengan dua harga acuan utama berhasil menembus USD100 per barel.

Meningkatnya serangan terhadap kapal sejak perang Iran dimulai turut memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan lebih lanjut pada pasokan minyak yang sudah berada dalam kondisi ketat.

Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman terdekat ditutup melonjak 6,34 persen menjadi USD107,63 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah Amerika Serikat (AS), West Texas Intermediate (WTI), naik 6,69 persen menjadi USD102,48 per barel.

Kedua harga acuan tersebut berada di level tertinggi sejak 19 Mei dan sekaligus membukukan kenaikan harian terbesar dalam hampir dua bulan.

Dari sisi geopolitik, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengambil alih kendali atas Pelabuhan Mocha di Yaman pada Kamis. Kondisi ini meningkatkan ancaman terhadap aktivitas pelayaran di Laut Merah.

Aktivitas pelayaran di kawasan Teluk juga masih terbatas melalui Selat Hormuz, seiring meningkatnya serangan terhadap kapal tanker dalam beberapa hari terakhir.

Kepala Pengembangan Bisnis XS.com Simon-Peter Massabni menyebut serangan dari Yaman terhadap fasilitas energi Arab Saudi menambah sumber risiko baru bagi pasar minyak. Kekhawatiran pasar kini tidak hanya berfokus pada Iran dan Selat Hormuz.

"Ancaman tersebut tidak lagi terbatas pada satu titik sempit, tetapi kini mencakup potensi gangguan yang menyebar ke jalur ekspor regional, fasilitas produksi minyak, serta infrastruktur energi lainnya," kata Massabni, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Presiden AS Donald Trump juga memperingatkan bahwa AS dapat menyerang Pickaxe Mountain di Iran, yang terletak di dekat fasilitas pengayaan uranium Natanz yang mengalami kerusakan parah.

Trump menyatakan perang kemungkinan berlangsung hingga melewati pemilihan umum paruh waktu AS pada November.

Situasi tersebut membuat pasar minyak menghadapi risiko gangguan pasokan yang semakin meluas, sekaligus memperkuat sentimen terhadap saham-saham migas di Bursa Efek Indonesia.

Reporter: Ibtihal