JAKARTA – Futures indeks saham AS bergerak stabil pada Kamis malam menjelang rilis data inflasi konsumen utama. Sementara itu, saham Oracle menguat usai mencetak laba solid yang didorong oleh kecerdasan buatan.
S&P 500 Futures bergerak stabil di tingkat 7.600,75 poin pada pukul 07:17 WIB. Nasdaq 100 Futures melorot 0,09 persen ke posisi 29.108,25 poin, sedangkan Dow Jones Futures bertahan di angka 52.105,0 poin.
Pergerakan futures cenderung menentu usai sesi negatif di Wall Street akibat laporan inflasi produsen yang tinggi memperkuat kekhawatiran kenaikan suku bunga. Selain itu, perselisihan yang terus berlanjut antara AS dan Iran menopang kenaikan harga minyak serta menahan kehati-hatian pasar.
Saham Oracle Corporation (NYSE:ORCL) melonjak 4,3 persen dalam perdagangan pasca-penutupan setelah perusahaan cloud tersebut melampaui estimasi laba kuartalan dan menaikkan proyeksi tahunannya.
Perusahaan turut mencatat pembakaran kas yang lebih rendah dari perkiraan, sehingga memicu optimisme bahwa investasi AI skala besar mulai memberikan imbal hasil tanpa memperburuk neraca keuangan.
Oracle mengamankan kontrak cloud AI tambahan bernilai lebih dari $30 miliar pada kuartal tersebut, yang mendorong backlog pendapatannya menyentuh $664 miliar dan melampaui estimasi analis.
Perseroan menaikkan estimasi laba disesuaikan fiskal 2027 sebesar lima sen menjadi $8,10 per saham, sambil mempertahankan target belanja di rentang $90 miliar-$95 miliar.
Hasil kinerja yang kuat ini meredakan kekhawatiran investor terkait beban pengeluaran AI dan imbal hasil investasi yang diragukan. Sebelumnya, kecemasan tersebut sempat menekan harga saham hingga memangkas nilai lebih dari 20 persen sepanjang tahun 2026.
Di antara saham berkapitalisasi besar lainnya pada perdagangan pasca-penutupan, Adobe Systems Incorporated (NASDAQ:ADBE) melemah 2 persen setelah mengeluarkan panduan yang sedikit mengecewakan meski mencatat laba kuartalan yang kuat.
Perhatian pasar kini berfokus pada rilis data inflasi indeks harga konsumen bulan Agustus pada hari Jumat untuk membaca arah suku bunga.
Angka CPI utama diperkirakan bertahan di tingkat 3,4 persen, sedangkan CPI inti diproyeksikan melandai halus ke posisi 2,4 persen.
Para pelaku pasar tetap mewaspadai risiko inflasi yang persisten, terutama setelah rilis data indeks harga produsen bulan Agustus yang cukup panas pada hari Kamis.
Laporan tersebut mendorong para trader meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada pekan depan. Prosentase peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin naik menjadi 66,7 persen dari sebelumnya 60,4 persen menurut CME Fedwatch.
Imbal hasil obligasi AS menguat pada hari Kamis yang melampaui berbagai langkah penekanan dari Washington sekaligus menambah beban tekanan pada Wall Street.
Indeks S&P 500 terkoreksi 0,58 persen, NASDAQ Composite melemah 0,65 persen, dan Dow Jones Industrial Average melorot 0,6 persen.