ANTM Jadi Pilihan Utama dari 4 Saham BUMN Tambang, Ini Targetnya

Ilustrasi Empat emiten pertambangan milik pemerintah terus menggenjot ekspansi bisnis tahun ini. (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Jumat, 11 September 2026 | 22:54:21 WIB

JAKARTA – Empat emiten pertambangan milik pemerintah terus menggenjot ekspansi bisnis tahun ini. Dari keempat perusahaan tersebut, mana yang memiliki prospek investasi paling menarik?

Anggota holding pertambangan MIND ID yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), yakni PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Timah Tbk (TINS), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA), terus memperluas bisnisnya.

Di tengah besarnya kebutuhan investasi, keempat emiten tambang pelat merah tersebut masih menjadi perhatian investor, terutama karena prospek harga komoditas dan peluang pembagian dividen.

PT Vale Indonesia Tbk (INCO), misalnya, memproyeksikan belanja modal atau capital expenditure (capex) hingga US$ 1,1 miliar pada 2027. Angka tersebut menjadi kebutuhan investasi tertinggi perseroan selama periode ekspansi Indonesia Growth Project (IGP).

IGP meliputi tiga proyek utama, yakni IGP Pomalaa, IGP Morowali, dan pengembangan Blok Sorowako. Proyek-proyek tersebut mencakup pengembangan tambang serta fasilitas pengolahan nikel, termasuk smelter dengan teknologi High-Pressure Acid Leach (HPAL).

Direktur Vale Indonesia Rizky Andhika Putra mengatakan, kebutuhan capex INCO pada 2026 diperkirakan hampir US$ 700 juta. Belanja modal tersebut antara lain dialokasikan untuk pengembangan tambang, proyek HPAL, serta sustaining capex.

Menurut Rizky, kebutuhan investasi akan mencapai puncaknya pada 2027 dengan nilai hingga US$ 1,1 miliar. Tingginya kebutuhan capex terutama dipengaruhi oleh investasi pada smelter-smelter baru berbasis HPAL.

Setelah mencapai puncak pada 2027, kebutuhan capex INCO diperkirakan masih berada pada level tinggi pada 2028. Perseroan menyiapkan sekitar US$ 800 juta, terutama untuk menunjang pengembangan proyek HPAL di Sorowako.

Di sisi lain, INCO masih memprioritaskan penyelesaian proyek-proyek pertumbuhan tersebut. Besarnya kebutuhan investasi membuat pembagian dividen perlu disesuaikan dengan kebutuhan pendanaan ekspansi.

Sementara itu, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) turut mengalokasikan belanja modal untuk memperkuat bisnis emas dan nikel, termasuk membangun ekosistem baterai kendaraan listrik.

Dalam bisnis emas, Antam mengembangkan fasilitas manufaktur logam mulia di Gresik. Fasilitas tersebut dirancang untuk meningkatkan kapasitas produksi logam mulia sekaligus memenuhi kebutuhan pasar domestik.

Pada sektor nikel, Antam mengembangkan sejumlah proyek hilirisasi, termasuk smelter berbasis HPAL dan proyek rotary kiln electric furnace (RKEF) di kawasan Feni Haltim (FHT), Halmahera Timur.

Proyek RKEF tersebut memiliki nilai investasi sekitar US$ 1,4 miliar dengan kapasitas sekitar 88.000 ton nickel pig iron (NPI) per tahun. Antam memiliki 40% kepemilikan dalam proyek tersebut dan menargetkan operasional pada 2027.

Sementara proyek HPAL dikembangkan Antam bersama mitranya dengan fasilitas yang dirancang menghasilkan 55.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun. Proyek ini menjadi bagian dari pembangunan ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Aneka Tambang Arini Kasmira mengatakan, setiap investasi perseroan tetap dievaluasi berdasarkan arus kas, penciptaan nilai, dan tingkat pengembalian investasi.

Dengan pendekatan tersebut, ekspansi Antam tidak semata-mata mengejar peningkatan skala bisnis, tetapi juga memperhatikan tingkat return bagi pemegang saham.

Berbeda dengan INCO dan ANTM yang agresif mengembangkan bisnis nikel, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mulai meningkatkan sumber pertumbuhan melalui bisnis non-batubara dan produk turunan batubara.

Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA Turino Yulianto mengatakan, perusahaan menargetkan bisnis non-batubara dan produk turunan batubara berkontribusi sekitar 20% terhadap total pendapatan dalam tiga hingga empat tahun mendatang.

Untuk mencapai target tersebut, PTBA menyiapkan sejumlah proyek hilirisasi. Beberapa di antaranya meliputi coal to dimethyl ether (DME), metanol, synthetic natural gas (SNG), kalium humat, dan artificial graphite.

PTBA juga memperluas bisnis energi terbarukan melalui pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), termasuk dengan memanfaatkan lahan pascatambang.

Diversifikasi tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap penjualan batubara mentah sekaligus menghasilkan sumber pendapatan baru dalam jangka panjang.

Di antara empat saham anggota MIND ID tersebut, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menempatkan ANTM sebagai pilihan utama.

Menurut Elandry, kombinasi eksposur Antam terhadap emas dan nikel memberikan diversifikasi sumber pertumbuhan bagi perseroan.

Harga emas yang masih tinggi dinilai dapat menjadi penopang kinerja ANTM. Sementara itu, bisnis nikel berpeluang tumbuh apabila keseimbangan antara permintaan dan pasokan komoditas tersebut mulai membaik.

Setelah ANTM, Elandry menempatkan TINS sebagai pilihan kedua. Prospek harga timah masih menjadi katalis bagi kinerja PT Timah, terutama didukung permintaan dari industri elektronik dan semikonduktor.

TINS juga sebelumnya membukukan pemulihan produksi yang signifikan pada semester I-2026. Produksi bijih timah mencapai 12.232 ton Sn, naik sekitar 75% secara tahunan. Prospek harga timah turut ditopang kebutuhan industri semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI).

INCO menempati urutan ketiga. Menurut Elandry, cerita investasi Vale Indonesia lebih sesuai untuk investor dengan horizon menengah hingga panjang.

Besarnya ekspansi hilirisasi membuka peluang pertumbuhan, tetapi investor tetap perlu memperhatikan risiko eksekusi proyek serta sensitivitas kinerja terhadap pergerakan harga nikel.

Sementara itu, PTBA berada di posisi terakhir. Elandry menilai saham PTBA masih menarik bagi investor yang mengejar arus kas dan dividend yield. Namun, potensi pertumbuhan struktural batubara dinilai lebih terbatas dibandingkan komoditas logam.

Elandry merekomendasikan beli atau akumulasi ANTM dengan target harga Rp 4.300-Rp 4.700. Untuk TINS, ia merekomendasikan buy on weakness dengan target Rp 4.700-Rp 5.000.

INCO dinilai menarik untuk diakumulasi dengan target harga Rp 6.200-Rp 7.000. Adapun PTBA dinilai layak untuk hold atau buy on weakness bagi investor yang mengejar dividen, dengan target harga Rp 3.200-Rp 3.400.

Rekomendasi tersebut tetap merupakan pandangan analis dan bukan jaminan terhadap kinerja saham. Investor juga perlu mempertimbangkan perkembangan harga komoditas, realisasi proyek, kebutuhan belanja modal, valuasi, serta kebijakan dividen masing-masing emiten.

Reporter: Ibtihal