Saham INET Turun 31,90 Persen, Analis Rekomendasi Buy
JAKARTA - Harga saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) masih mengalami tekanan sepanjang 2026 meskipun perseroan mencatatkan kinerja positif. Kondisi tersebut membuat analis memberikan rekomendasi beli saham INET dengan target harga yang lebih tinggi.
Pada perdagangan Selasa (15/9), saham INET ditutup di Rp 322, turun 10 poin atau 3,01% secara harian. Sejak awal 2026, saham perusahaan sektor komunikasi tersebut telah melemah 31,90%.
Harga saham INET juga telah turun signifikan dari level tertingginya, yakni Rp 685 yang dicapai pada 6 Januari 2026.
Di tengah tekanan harga saham, INET justru mencatat pertumbuhan kinerja yang signifikan sepanjang semester I-2026. Salah satu faktor yang mendorong kenaikan laba bersih adalah lonjakan pendapatan dari bisnis penyedia alih daya.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, INET mencatat laba bersih sebesar Rp 33,67 miliar pada periode Januari-Juni 2026. Angka tersebut meningkat 340% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan laba bersih semester I-2025 yang sebesar Rp 7,65 miliar.
Kenaikan laba bersih tersebut sejalan dengan pertumbuhan pendapatan bersih perseroan. Pada semester I-2026, pendapatan INET mencapai Rp 926,45 miliar, melonjak 1.958% yoy dibandingkan dengan Rp 45 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada semester I-2026, pendapatan INET berasal dari dua segmen usaha.
Segmen penyedia alih daya (outsourcing) memberikan kontribusi pendapatan sebesar Rp 782,86 miliar. Sementara itu, segmen penyedia layanan internet mencatat pendapatan Rp 143,58 miliar.
Pertumbuhan pendapatan tersebut turut meningkatkan laba bruto perseroan. Laba bruto INET tercatat sebesar Rp 122,11 miliar pada semester I-2026, naik 627,5% dibandingkan Rp 16,78 miliar pada semester I-2025.
Direktur Utama PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk, Muhammad Arif, mengatakan peningkatan kinerja keuangan tersebut menunjukkan semakin kuatnya skala usaha perseroan.
"Kinerja semester I-2026 menunjukkan INET berada pada jalur pertumbuhan yang semakin kuat. Pertumbuhan pendapatan, laba bruto, dan laba usaha menjadi dasar penting bagi Perseroan untuk menjaga disiplin operasional dan memperkuat struktur bisnis secara berkelanjutan," kata Arif dalam keterangannya, Senin (14/9/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Arif menambahkan, pertumbuhan laba menjadi salah satu indikator penting bagi perseroan untuk mempertahankan kualitas kinerja keuangan. Karena itu, INET terus berupaya menyeimbangkan pertumbuhan pendapatan dengan pengendalian beban dan peningkatan profitabilitas.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menilai peningkatan kinerja INET terutama didorong oleh pertumbuhan pendapatan yang sangat signifikan pada semester I-2026.
"Hal ini tercermin dari pendapatan yang tumbuh hampir 20 kali lipat menjadi Rp 926,45 miliar, sehingga turut mendorong laba bersih naik 340% menjadi Rp 33,67 miliar," kata Azis kepada Kontan, Selasa (15/9/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menyebut kontribusi pendapatan outsourcing menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan pendapatan tahunan INET.
Segmen tersebut mencatat pendapatan Rp 782,86 miliar pada semester I-2026. Sebelumnya, pada semester I-2025, belum ada kontribusi dari pos pendapatan tersebut.
"Ini mencerminkan ekspansi skala usaha melalui konsolidasi entitas baru ke dalam grup, sejalan dengan lonjakan total aset 703,69% dan ekuitas 787,42% yang memberikan basis modal lebih kuat untuk pertumbuhan ke depan," ujar Abida Selasa (15/9/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Meski demikian, Abida mengingatkan bahwa prospek INET akan ditentukan oleh keberhasilan integrasi entitas anak usaha baru dalam meningkatkan profitabilitas.
Hal itu perlu diperhatikan karena beban pokok pendapatan juga mengalami peningkatan signifikan sebesar 2.750% seiring dengan ekspansi skala bisnis perseroan.
Dari sisi valuasi, Abida menyoroti kapitalisasi pasar INET yang berada di kisaran Rp 7,7 triliun. Dengan laba bersih semester I-2026 sebesar Rp 33,67 miliar, kondisi tersebut menunjukkan bahwa valuasi INET sudah berada pada level premium.
Menurut Abida, valuasi tersebut mencerminkan ekspektasi pasar terhadap potensi sinergi jangka panjang dari entitas yang telah digabungkan.
Di sisi lain, Azis memberikan rekomendasi buy untuk saham INET dengan target harga Rp 400 per saham.
Rekomendasi tersebut diberikan berdasarkan ekspektasi terhadap pertumbuhan kinerja serta prospek bisnis perseroan.
Investor tetap perlu mencermati perkembangan integrasi entitas baru, pertumbuhan pendapatan, pengendalian beban pokok pendapatan, serta kemampuan INET mengubah pertumbuhan skala usaha menjadi profitabilitas yang berkelanjutan.