Bursa Asia Menguat, Saham China Tertekan Usai Keputusan The Fed
JAKARTA - Saham-saham Asia menguat tipis pada Kamis (17/9/2026) setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023. Fokus Ketua Kevin Warsh pada inflasi membantu meredakan aksi jual yang sebelumnya terjadi di pasar obligasi.
Futures ekuitas AS menguat dalam perdagangan Asia. Nasdaq 100 Futures dan S&P 500 Futures masing-masing naik 0,7% setelah Wall Street melemah menyusul keputusan The Fed.
Bank sentral AS secara bulat menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4%. Proyeksi The Fed menunjukkan masih ada satu kenaikan lagi pada tahun ini. Pasar uang kini memperkirakan peluang sekitar 50% untuk kenaikan lain pada Oktober, sementara kenaikan pada Desember sudah sepenuhnya diperhitungkan.
Sementara itu, obligasi Treasury memangkas kerugian. Imbal hasil dua tahun turun 1 basis poin menjadi 4,72% setelah mencapai level tertingginya sejak 2024 pada sesi sebelumnya. Imbal hasil tenor 10 tahun dan 30 tahun masing-masing turun sekitar dua basis poin.
Strategi DBS Philip Wee mengatakan keputusan The Fed juga memperkuat independensinya dari Gedung Putih, yang menempatkannya dalam jalur konflik dengan Presiden Donald Trump, yang telah menyerukan agar suku bunga dipangkas ke 1% atau lebih rendah.
Indeks MSCI Asia Pacific naik 0,4%, sementara KOSPI Korea Selatan menguat 0,3% dan Nikkei 225 Jepang naik 0,4%. Namun, Hang Seng Hong Kong turun 1,1%, sedangkan CSI 300 melemah 0,4%.
Saham semikonduktor Asia bergerak beragam setelah futures AS rebound pascakeputusan The Fed. SK Hynix turun 0,9%, sementara Samsung Electronics tidak berubah di 253.500 won.
Kioxia Jepang turun 2%, Murata Manufacturing melemah 2,4%, dan Largan kehilangan 1,7%.
Pergerakan tersebut terjadi di tengah kekhawatiran mengenai prospek belanja AI serta dampak biaya pinjaman yang lebih tinggi terhadap valuasi saham teknologi.
Saham semikonduktor China bergerak beragam. NAURA Technology naik 0,7%, SMIC turun 2,4%, sedangkan Cambrian Technologies melemah 1,5%. Di Hong Kong, Z.AI melonjak 4,7% dan MiniMax naik 5,3%. Sementara itu, Alibaba turun 1,5%, Tencent melemah 1,6%, dan Meituan anjlok 2,6%.
Bank of England secara luas diperkirakan mempertahankan suku bunga pada Kamis, meskipun investor akan mencermati tanda-tanda bahwa tingginya harga energi dapat mendorong kenaikan suku bunga pada November. Bank of Japan diperkirakan menaikkan suku bunga pada Jumat dan memberikan sinyal bahwa pengetatan lebih lanjut masih mungkin dilakukan.
Harga minyak Brent diperdagangkan di sekitar US$105,75 per barel setelah turun hingga 5% pada Rabu karena sebagian kekhawatiran mengenai pasokan mulai mereda.
Arab Saudi berupaya memulihkan sekitar setengah kapasitas pipa East-West dalam beberapa hari ke depan setelah serangan drone memaksanya ditutup pada pekan lalu. Sementara itu, Trump mengatakan perang dengan Iran akan berakhir "sangat segera." sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di kawasan Asia lainnya, TOPIX Jepang naik 0,7%, S&P/ASX 200 Australia menguat 0,3%, NZX 50 Selandia Baru naik 0,9%, dan Straits Times Singapura menguat 0,4%.
Nifty 50 India naik 0,6%, SET Thailand bertambah 0,9%, PSEi Filipina naik 0,79%, sementara KLCI Malaysia sedikit tergelincir dan Jakarta Composite Indonesia diperdagangkan mendatar.
Fokus pasar selanjutnya beralih ke keputusan Bank of England dan Bank of Japan. Investor juga mencermati apakah sikap The Fed yang lebih hawkish dapat mengendalikan inflasi tanpa memicu perlambatan pertumbuhan yang lebih luas.