Jepang Resmi Tak Lagi Punya Panda Setelah 50 Tahun, Ini Alasannya
JAKARTA - Suasana sendu bercampur haru terlihat jelas di Kebun Binatang Ueno, Tokyo, ketika ribuan orang rela datang hanya untuk satu tujuan: mengucapkan selamat tinggal kepada dua panda kembar kesayangan Jepang, Xiao Xiao dan Lei Lei. Keduanya dijadwalkan kembali ke Tiongkok pada akhir Januari 2026. Perpisahan ini bukan peristiwa biasa, sebab kepulangan mereka menandai momen penting: Jepang resmi tidak lagi memiliki panda untuk pertama kalinya dalam 50 tahun terakhir.
Dilansir Reuters dan Associated Press, kepulangan Xiao Xiao dan Lei Lei terjadi di tengah hubungan diplomatik Jepang dan Tiongkok yang kembali memanas. Karena itu, bagi banyak warga Jepang, kepergian dua panda ini bukan hanya soal hilangnya satwa favorit, tetapi juga menjadi tanda bahwa simbol hangatnya “diplomasi panda” mulai meredup—tradisi yang telah berjalan sejak 1972 dan pernah menjadi pengikat emosi masyarakat dua negara.
Perpisahan tersebut pun berubah menjadi momen emosional kolektif. Antrean panjang, undian tiket, hingga rasa kehilangan yang diungkapkan langsung oleh pengunjung memperlihatkan bahwa panda bukan sekadar hewan di kebun binatang. Di Jepang, panda telah menjadi bagian dari budaya populer, penghibur, sekaligus magnet ekonomi.
Ribuan Orang Antre Perpisahan dengan Panda
Kebun Binatang Ueno dipenuhi pengunjung yang ingin melihat Xiao Xiao dan Lei Lei untuk terakhir kalinya. Antusiasme begitu tinggi hingga pihak kebun binatang menerapkan sistem undian. Ribuan orang mendaftar demi mendapatkan tiket perpisahan, dan yang beruntung menang undian hanya diberi kesempatan singkat: satu menit untuk melihat panda kembar berusia empat tahun tersebut.
Bagi sebagian besar orang Jepang, momen itu terasa sangat personal. Panda dianggap sebagai “teman” yang memberi ketenangan di tengah rutinitas hidup yang padat. Bahkan, sejumlah pengunjung datang dengan ekspresi sedih, seolah sedang melepas anggota keluarga.
Salah satu pengunjung, Machiko Seki, 54 tahun, yang bekerja di sektor keuangan, menyampaikan rasa terima kasihnya secara emosional kepada Reuters.
Kalimat itu menggambarkan betapa besar kedekatan emosional publik Jepang terhadap panda. Kehadiran mereka selama puluhan tahun bukan hanya hiburan, melainkan juga semacam “penawar stres” yang sederhana namun bermakna bagi banyak orang.
Panda Bukan Sekadar Ikon, Tapi Mesin Ekonomi
Kehadiran panda di Jepang bukan hanya berdampak secara emosional, melainkan juga nyata secara ekonomi. Menurut Katsuhiro Miyamoto, profesor ilmu ekonomi di Universitas Kansai, ketiadaan panda akan memukul pemasukan kebun binatang dan sektor terkait secara signifikan.
Ia memperkirakan dampak ekonomi akibat tidak adanya panda bisa mencapai sekitar 20 miliar yen, atau sekitar Rp 2,18 triliun per tahun.
Angka itu menjelaskan bahwa panda memiliki nilai lebih dari sekadar daya tarik visual. Kehadiran mereka mendorong kunjungan wisata, penjualan suvenir, hingga perputaran ekonomi di sekitar lokasi kebun binatang. Efek domino ini menjadi alasan mengapa publik dan banyak pihak berharap Jepang dapat kembali memiliki panda dalam waktu dekat.
Sebagai pecinta panda, Miyamoto juga menegaskan harapan agar Jepang kembali menerima panda secepatnya.
Harapan tersebut tampaknya sejalan dengan perasaan para pengunjung yang datang bersama keluarga dan anak-anak demi melihat langsung Xiao Xiao dan Lei Lei untuk terakhir kalinya.
Diplomasi Panda yang Mendingin
Jika ditarik ke belakang, kisah panda di Jepang sebenarnya bermula dari sebuah momen diplomatik besar pada 1972. Saat itu, China menghadiahkan sepasang panda Kang Kang dan Lan Lan sebagai simbol normalisasi hubungan diplomatik antara Jepang dan China. Peristiwa itu menjadi tonggak lahirnya istilah “diplomasi panda,” karena panda digunakan sebagai simbol persahabatan sekaligus pendekatan politik yang lembut.
Sejak 1972, Jepang hampir selalu memiliki panda di kebun binatangnya. Bahkan, negeri itu sempat mengalami booming panda nasional, di mana panda menjadi ikon budaya populer dan menarik perhatian publik dalam skala besar.
Namun, kebijakan tersebut berubah pada 1984. China tidak lagi memberikan panda sebagai hadiah, melainkan menerapkan sistem pinjam. Artinya, panda yang dikirim ke luar negeri tetap menjadi milik China, termasuk anak panda yang lahir di negara lain.
Dalam konteks ini, Xiao Xiao dan Lei Lei, meskipun lahir di Kebun Binatang Ueno pada 2021, tetap berstatus milik China dan harus dipulangkan sesuai perjanjian.
Ketegangan Politik Ikut Membayangi Kepulangan Panda
Dalam beberapa bulan terakhir, hubungan Jepang dan Tiongkok kembali menegang. Salah satu pemicunya adalah pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang menyebut serangan Tiongkok ke Taiwan bisa memicu respons militer dari Jepang. Pernyataan itu kemudian menuai kecaman dari Beijing.
Di tengah situasi seperti ini, isu panda pun ikut menjadi sorotan karena selama ini keberadaan panda kerap dianggap sebagai simbol hubungan baik. Ketika hubungan menghangat, panda hadir. Ketika hubungan memburuk, panda pun bisa menjadi “indikator” merenggangnya komunikasi.
Ketika ditanya apakah China akan mengirim panda pengganti untuk Jepang, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, memberikan jawaban yang terdengar diplomatis namun tetap menyiratkan posisi politik tertentu.
Ia menyampaikan bahwa masyarakat Jepang yang rindu panda dapat datang langsung ke China untuk melihatnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa peluang panda kembali ke Jepang belum tentu tertutup, namun juga tidak bisa dilepaskan dari dinamika hubungan kedua negara.
Akhir 50 Tahun Panda di Jepang, Publik Masih Berharap Kembali
Kepulangan Xiao Xiao dan Lei Lei bukan hanya menutup satu bab kecil dalam sejarah Kebun Binatang Ueno, tetapi juga menandai berakhirnya era panjang panda di Jepang. Selama setengah abad, panda telah menjadi simbol yang melekat dalam kehidupan masyarakat Jepang—dari ikon wisata hingga lambang persahabatan antarnegara.
Namun, walaupun perpisahan ini terasa berat, harapan tetap hidup. Antrean panjang, pesan emosional pengunjung, hingga perhitungan dampak ekonomi menunjukkan satu hal: panda masih sangat dicintai di Jepang.
Kini, publik menunggu apakah hubungan diplomatik dapat kembali mencair, sehingga suatu hari panda bisa hadir lagi di Jepang. Sampai saat itu tiba, perpisahan di Ueno akan dikenang sebagai momen ketika Jepang untuk pertama kalinya dalam 50 tahun harus mengatakan: selamat tinggal, panda.