Senin, 09 Februari 2026

Harga Cabai Rawit Bergerak Dinamis, Warnai Perdagangan Awal Februari

Harga Cabai Rawit Bergerak Dinamis, Warnai Perdagangan Awal Februari
Harga Cabai Rawit Bergerak Dinamis, Warnai Perdagangan Awal Februari

JAKARTA - Perubahan harga pangan kembali menjadi sorotan pada awal Februari 2026. 

Cabai rawit muncul sebagai komoditas dengan fluktuasi harga yang cukup signifikan di berbagai wilayah. Kondisi ini mencerminkan dinamika distribusi dan pasokan yang belum merata.

Harga Cabai Rawit Naik di 189 Wilayah Februari 2026, Termahal Rp200.000 per Kg menjadi gambaran situasi pasar terkini. 

Baca Juga

Menteri Perdagangan Ingin Minyak Goreng Selain Minyakita Juga Miliki Harga Terjangkau

Badan Pusat Statistik mencatat sebanyak 189 kabupaten dan kota mengalami peningkatan indeks perubahan harga cabai rawit. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan pekan sebelumnya.

Peningkatan ini menunjukkan tekanan harga yang meluas di berbagai daerah. Lonjakan wilayah terdampak menjadi indikator penting pergerakan inflasi pangan. Cabai rawit kembali menjadi penyumbang utama volatilitas harga.

Sebaran Kenaikan Harga di Berbagai Wilayah

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan perkembangan kenaikan harga cabai rawit. Ia mengatakan cabai rawit mengalami kenaikan IPH di 52,50 persen wilayah Indonesia. Kondisi ini terjadi pada pekan pertama Februari 2026.

“Jadi disparitas harganya untuk cabai rawit cukup tinggi juga dan juga jumlah kabupaten/kota yang mengalami peningkatan IPH-nya untuk cabai rawit cukup banyak juga,” kata Ateng. 

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa lonjakan harga tidak hanya terjadi secara lokal. Kenaikan berlangsung luas di berbagai daerah.

Jumlah wilayah yang terdampak meningkat tajam dibandingkan periode sebelumnya. Pada pekan kelima Januari 2026, kenaikan IPH tercatat di 82 kabupaten dan kota. Lonjakan ini menunjukkan perubahan harga yang cepat.

Kenaikan Harga dan Perbandingan Bulanan

Hingga pekan pertama Februari 2026, harga cabai rawit tercatat mengalami peningkatan signifikan. Harga naik sebesar 9,82 persen dibandingkan Januari 2026. Kenaikan tersebut mendorong harga rata-rata menjadi Rp61.138 per kilogram.

Pada Januari 2026, harga cabai rawit berada di level Rp57.492 per kilogram. Angka tersebut hampir menyentuh batas atas harga acuan penjualan. Pergerakan harga yang cepat memperlihatkan tekanan pasar yang kuat.

Harga acuan penjualan cabai rawit ditetapkan pada kisaran Rp40.000 hingga Rp57.000 per kilogram. Kenaikan harga Februari membuat nilai jual melampaui batas tersebut. Kondisi ini memicu perhatian terhadap stabilitas harga.

Disparitas Harga dan Batas Acuan

Ateng menjelaskan pergerakan harga cabai rawit terhadap HAP. “Di Januari ini hampir merapat HAP-nya untuk yang di cabai rawit yaitu Rp57.492 [per kilogram], sedangkan HAP-nya Rp57.000 [per kilogram]. Nah di bulan Februari sudah Rp63.000 [per kilogram],” ujarnya. Pernyataan ini menggambarkan lonjakan harga yang melampaui acuan.

Data BPS menunjukkan disparitas harga cabai rawit yang cukup lebar. Harga tertinggi tercatat mencapai Rp200.000 per kilogram. Sementara itu, harga terendah dibanderol Rp20.000 per kilogram.

Perbedaan harga ini mencerminkan ketimpangan distribusi antarwilayah. Faktor geografis dan pasokan menjadi penentu utama. Kondisi ini membuat pengendalian harga menjadi tantangan tersendiri.

Wilayah dengan Lonjakan Harga Tertinggi

Harga cabai rawit tertinggi ditemukan di sejumlah wilayah timur Indonesia. “Harga tertingginya di sini di Kabupaten Nduga sampai dengan sekitar Rp200.000, kemudian Mappi [Rp190.000 per kilogram], kemudian juga Intan Jaya sampai dengan Rp170.000 [per kilogram],” ujarnya. Data tersebut menunjukkan tekanan harga yang ekstrem.

Selain harga tertinggi, BPS juga mencatat wilayah dengan perubahan IPH paling signifikan. Kabupaten Situbondo tercatat sebagai daerah dengan perubahan IPH tertinggi. Nilainya mencapai 97,40 persen.

Di wilayah tersebut, harga cabai rawit mencapai Rp69.533 per kilogram. Angka ini tercatat 21,99 persen di atas HAP. Kondisi ini menunjukkan kenaikan yang cukup tajam.

Ateng juga menyebutkan daerah lain yang mengalami kenaikan signifikan. “Demikian juga di kota Pasuruan, kabupaten Blitar, Nganjuk, Pamekasan, Sidoarjo, Trenggalek, sampai dengan Pacitan,” pungkasnya. Daerah-daerah tersebut turut menyumbang tekanan harga nasional.

Pergerakan harga cabai rawit pada awal Februari menunjukkan volatilitas tinggi. Lonjakan harga di banyak wilayah menjadi indikator penting dinamika pangan nasional. Pemantauan dan pengendalian harga menjadi langkah krusial menjaga stabilitas pasar.

Alif Bais Khoiriyah

Alif Bais Khoiriyah

Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Penghargaan Satyalancana Diserahkan Pemerintah untuk PNS Berprestasi di Natuna

Penghargaan Satyalancana Diserahkan Pemerintah untuk PNS Berprestasi di Natuna

Lemhannas Sampaikan Belasungkawa Mendalam atas Meninggalnya Agus Widjojo

Lemhannas Sampaikan Belasungkawa Mendalam atas Meninggalnya Agus Widjojo

DPR RI Fokus Percepatan Ekonomi Papua Lewat Pembentukan Panitia Khusus Strategis

DPR RI Fokus Percepatan Ekonomi Papua Lewat Pembentukan Panitia Khusus Strategis

Tips Mudah Membuat Mochi Kenyal Tanpa Menggunakan Tepung Ketan

Tips Mudah Membuat Mochi Kenyal Tanpa Menggunakan Tepung Ketan

Resep Dimsum Ayam Wortel Bisa Jadi Ide Usaha Rumahan Menguntungkan

Resep Dimsum Ayam Wortel Bisa Jadi Ide Usaha Rumahan Menguntungkan