Sabtu, 21 Februari 2026

Surplus Neraca Pembayaran RI Jadi Indikator Positif bagi Pertumbuhan Ekonomi

Surplus Neraca Pembayaran RI Jadi Indikator Positif bagi Pertumbuhan Ekonomi
Surplus Neraca Pembayaran RI Jadi Indikator Positif bagi Pertumbuhan Ekonomi

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa neraca pembayaran Indonesia pada triwulan IV 2025 mencatat surplus sebesar 6,1 miliar dolar AS. 

Surplus ini didorong oleh defisit transaksi berjalan yang tetap terkendali. Kondisi ini sekaligus memperkuat ketahanan eksternal Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Direktur Eksekutif BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan kinerja NPI membaik dan mendukung stabilitas ekonomi. “Surplus ini menunjukkan prospek ekonomi Indonesia tetap positif,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya menjaga momentum surplus ini pada kuartal-kuartal mendatang.

Baca Juga

Broker Properti Tingkatkan Layanan dan Kompetensi Profesional Demi Kepuasan Klien

Secara keseluruhan, defisit transaksi berjalan triwulan IV 2025 tercatat 2,5 miliar dolar AS atau 0,7 persen dari PDB. Angka ini lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencatat surplus 4 miliar dolar AS. Pemerintah memandang kondisi ini sebagai indikator kuatnya stabilitas ekonomi domestik.

Neraca Perdagangan dan Jasa

Neraca perdagangan nonmigas tetap membukukan surplus meski lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya. Perlambatan ekonomi global dan kontraksi harga komoditas menjadi faktor yang memengaruhi. Sementara itu, neraca perdagangan migas mencatat defisit lebih tinggi seiring meningkatnya kegiatan ekonomi domestik.

Defisit neraca jasa juga meningkat karena jumlah kunjungan wisatawan mancanegara menurun. Namun, surplus neraca pendapatan sekunder mengalami peningkatan. Hal ini dipengaruhi oleh kenaikan remitansi dari Pekerja Migran Indonesia (PMI).

BI mencatat defisit neraca pendapatan primer meningkat akibat kenaikan pembayaran dividen di akhir tahun. “Kondisi ini masih terkendali dan tidak mengganggu stabilitas eksternal,” jelas Ramdan. Surplus pada neraca sekunder membantu menyeimbangkan defisit pada komponen lainnya.

Transaksi Modal dan Finansial

Transaksi modal dan finansial triwulan IV 2025 mencatat surplus 8,3 miliar dolar AS. Hal ini berbalik dibandingkan triwulan III 2025 yang sempat mencatat defisit 8 miliar dolar AS. Surplus ini menjadi sinyal positif bagi persepsi investor terhadap perekonomian Indonesia.

Investasi langsung tetap mencatatkan surplus sebagai cerminan kepercayaan investor terhadap iklim bisnis. Ramdan menekankan, aliran masuk modal asing menunjukkan minat yang tinggi pada pasar Indonesia. Investasi portofolio dan pinjaman luar negeri turut memberikan kontribusi positif terhadap surplus ini.

Secara keseluruhan, kombinasi surplus modal dan finansial dengan transaksi berjalan yang terkendali memperkuat neraca pembayaran. Hal ini menandakan Indonesia mampu menghadapi dinamika pasar global. BI menekankan pentingnya menjaga stabilitas ini agar berdampak positif pada perekonomian domestik.

Kinerja Tahunan Neraca Pembayaran

Selama 2025, transaksi berjalan mencatat defisit 1,5 miliar dolar AS atau 0,1 persen dari PDB. Defisit ini jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 8,6 miliar dolar AS. Peningkatan surplus neraca perdagangan barang, terutama ekspor manufaktur, menjadi faktor utama.

Surplus neraca pendapatan sekunder juga meningkat signifikan. Hal ini didorong oleh penerimaan remitansi PMI yang lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Sebaliknya, defisit jasa dan pendapatan primer meningkat akibat kenaikan defisit jasa telekomunikasi dan pembayaran dividen.

Transaksi modal dan finansial tahun 2025 mencatat defisit 4,2 miliar dolar AS. Keluarnya aliran modal asing pada investasi portofolio dan investasi lainnya menjadi faktor utama. Meski begitu, posisi cadangan devisa tetap meningkat menjadi 156,5 miliar dolar AS pada akhir tahun.

Cadangan Devisa dan Proyeksi 2026

Posisi cadangan devisa Indonesia cukup kuat, setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah. Angka ini berada jauh di atas standar kecukupan internasional yang sekitar tiga bulan impor. Hal ini menegaskan ketahanan eksternal yang terjaga dengan baik.

BI memprakirakan kinerja NPI pada 2026 tetap baik. Defisit transaksi berjalan diperkirakan berada di kisaran 0,9 persen hingga 0,1 persen dari PDB. “Kami terus mencermati dinamika ekonomi global dan memperkuat respons kebijakan secara sinergis dengan Pemerintah,” ungkap Ramdan.

Bank Indonesia menekankan sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas terkait sebagai kunci. Strategi ini diharapkan menjaga ketahanan eksternal sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan fondasi ini, Indonesia siap menghadapi tantangan global dan memanfaatkan peluang investasi.

Alif Bais Khoiriyah

Alif Bais Khoiriyah

Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Cara Daftar Member Indomaret: Panduan Mendapatkan Untung Maksimal

Cara Daftar Member Indomaret: Panduan Mendapatkan Untung Maksimal

Ekspansi Strategis, PublikaLabs Rambah Industri Perfilman Lewat Kolaborasi dengan Langit 7 Studio

Ekspansi Strategis, PublikaLabs Rambah Industri Perfilman Lewat Kolaborasi dengan Langit 7 Studio

Broker Properti Tingkatkan Layanan dan Kompetensi Profesional Demi Kepuasan Klien

Broker Properti Tingkatkan Layanan dan Kompetensi Profesional Demi Kepuasan Klien

Wajib Pajak Kini Semakin Mudah Lapor SPT Tahunan Secara Online

Wajib Pajak Kini Semakin Mudah Lapor SPT Tahunan Secara Online

Pertumbuhan Ekonomi Syariah Indonesia Diprediksi Tembus 5,7 Persen Tahun Ini

Pertumbuhan Ekonomi Syariah Indonesia Diprediksi Tembus 5,7 Persen Tahun Ini