5 Cara Mencegah Stunting Menurut Kementerian Kesehatan
- Rabu, 04 Maret 2026
Jakarta - Cara mencegah stunting dimulai dengan pemahaman bahwa kondisi ini adalah gangguan pertumbuhan anak akibat kekurangan gizi, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang kurang memadai.
Anak yang mengalami stunting biasanya memiliki tinggi badan lebih dari dua standar deviasi di bawah median pertumbuhan anak menurut World Health Organization (WHO).
Menurut WHO, pertumbuhan linier anak menjadi indikator penting kesehatan dan perkembangan, karena berhubungan dengan risiko penyakit, kapasitas belajar, dan produktivitas di masa depan.
Baca JugaApa Saja Kelebihan dan Kekurangan Behel Self-Ligating? Simak Ini!
Selain itu, stunting juga memengaruhi perkembangan kognitif, bahasa, sensorik, dan motorik anak secara keseluruhan.
Dengan menjaga asupan gizi seimbang, kebersihan, serta stimulasi psikososial sejak dini, orang tua dapat berperan aktif dalam pertumbuhan optimal anak sebagai upaya cara mencegah stunting.
Pengertian Stunting
Stunting merupakan kondisi di mana panjang atau tinggi badan anak lebih rendah dibandingkan dengan standar normal sesuai usianya.
Dengan kata lain, anak mengalami gangguan pertumbuhan sehingga tubuhnya terlihat lebih pendek dibandingkan teman seusianya.
Penyebab utama kondisi ini adalah kekurangan nutrisi dalam jangka waktu panjang.
Tidak semua anak pendek mengalami stunting, namun setiap anak yang tergolong stunting pasti memiliki tinggi badan di bawah normal.
Anak dikategorikan stunting ketika panjang atau tinggi badannya berada di bawah -2 standar deviasi (SD) menurut grafik pertumbuhan anak (GPA) dari WHO, terutama pada anak di bawah usia 2 tahun yang membutuhkan penanganan segera.
Tubuh pendek ini terjadi akibat kekurangan gizi yang telah berlangsung lama, sehingga pertumbuhan tinggi badan anak terhambat.
Penyebab Stunting
Stunting muncul karena kombinasi berbagai faktor, termasuk kekurangan asupan gizi, infeksi berulang, bayi lahir prematur, dan berat badan lahir rendah (BBLR).
Masalah gizi yang menyebabkan stunting bisa dimulai sejak dalam kandungan dan berlanjut setelah lahir.
Kurangnya Asupan Gizi Saat Hamil
Sekitar 20% kasus stunting mulai terbentuk ketika bayi masih dalam kandungan. Hal ini disebabkan oleh nutrisi ibu hamil yang kurang mencukupi, sehingga janin menerima asupan gizi yang terbatas.
Pertumbuhan janin pun terhambat, dan efeknya bisa berlanjut setelah kelahiran. Oleh karena itu, pemenuhan gizi ibu selama kehamilan sangat penting.
Asupan Gizi Anak Tidak Memadai
Kondisi stunting juga dapat disebabkan oleh makanan balita yang kurang memenuhi kebutuhan, terutama pada usia di bawah 2 tahun.
Faktor seperti pemberian ASI eksklusif yang tidak tepat, MPASI berkualitas rendah, atau posisi menyusui yang kurang optimal dapat memengaruhi pertumbuhan.
Kekurangan protein, mineral zinc (seng), dan zat besi menjadi faktor utama yang memengaruhi tinggi badan anak balita.
Berdasarkan literatur Gizi Anak dan Remaja, masalah ini biasanya mulai terlihat sejak anak berusia 3 bulan dan pertumbuhan mulai melambat hingga usia 3 tahun.
Grafik tinggi badan menurut umur (TB/U) akan mengikuti kurva standar namun tetap berada di bawah posisi normal.
Anak usia 2–3 tahun yang mengalami penurunan grafik TB/U sedang dalam proses stunting, sedangkan anak di atas 3 tahun yang menunjukkan posisi rendah menandakan stunting telah terjadi (stunted).
Faktor Lain yang Mempengaruhi Stunting
Selain masalah gizi dan kesehatan, beberapa faktor lain turut berkontribusi terhadap stunting, antara lain:
- Pengetahuan ibu yang terbatas tentang gizi sebelum, selama, dan setelah kehamilan.
- Akses terbatas ke pelayanan kesehatan, termasuk layanan prenatal dan postnatal.
- Keterbatasan akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak.
- Terbatasnya ketersediaan makanan bergizi karena harga yang tinggi.
Pencegahan stunting dapat dilakukan dengan memastikan ibu hamil dan anak mendapat asupan gizi yang cukup, akses kesehatan yang baik, serta lingkungan yang bersih dan sehat.
Ciri-ciri Anak Mengalami Stunting
Seorang anak dapat dikatakan stunting hanya berdasarkan hasil pengukuran panjang atau tinggi badan dibandingkan dengan standar usia, bukan sekadar dugaan.
Selain tubuh yang lebih pendek dari anak seusianya, stunting juga menunjukkan beberapa tanda khas, antara lain:
- Pertumbuhan tinggi badan melambat dibandingkan teman sebayanya.
- Wajah terlihat lebih muda atau imut dibandingkan anak seusianya.
- Perkembangan gigi lebih lambat dari normal.
- Kemampuan fokus dan daya ingat dalam belajar kurang optimal.
- Anak berusia 8–10 tahun cenderung lebih pendiam dan jarang melakukan kontak mata dengan orang di sekitarnya.
- Berat badan balita stagnan atau bahkan cenderung menurun.
- Perkembangan fisik anak terhambat, misalnya keterlambatan menarche pada anak perempuan.
- Anak lebih rentan terhadap berbagai penyakit infeksi.
Untuk memastikan tinggi badan anak sesuai standar, penting melakukan pemeriksaan rutin di fasilitas kesehatan.
Anda dapat membawa anak ke dokter, bidan, posyandu, atau puskesmas setiap bulan untuk memantau pertumbuhan dan mendeteksi potensi stunting sejak dini.
Cara mencegah stunting
Untuk mencegah gangguan pertumbuhan yang dapat memengaruhi perkembangan anak akibat stunting, berikut ini dijelaskan beberapa langkah penting, sesuai data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Indonesia:
1. Memenuhi kebutuhan gizi sejak kehamilan
Upaya pencegahan gangguan pertumbuhan pada anak sebaiknya dimulai sejak masa kehamilan dengan memastikan ibu mendapatkan asupan gizi yang cukup dan berkualitas.
Ibu hamil disarankan mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang, serta bila diperlukan suplemen sesuai anjuran dokter atau tenaga medis.
Selain itu, pemeriksaan rutin ke dokter atau bidan sangat penting untuk memantau kesehatan ibu dan janin, memastikan tumbuh kembang bayi di dalam kandungan berjalan optimal, serta mendeteksi masalah sejak awal sebelum menjadi lebih serius.
2. Memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama
Air susu ibu memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan dan daya tahan tubuh bayi.
Para ibu disarankan memberikan ASI secara eksklusif hingga anak berusia enam bulan.
Kandungan protein whey dan kolostrum yang ada dalam ASI dapat meningkatkan sistem kekebalan bayi yang masih rentan terhadap infeksi.
Pemberian ASI eksklusif juga membantu memenuhi kebutuhan gizi bayi secara alami sehingga berperan dalam mencegah terjadinya gangguan pertumbuhan atau stunting.
3. Memberikan MPASI sehat setelah enam bulan
Ketika bayi memasuki usia enam bulan, pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) menjadi sangat penting.
Makanan ini harus kaya nutrisi mikro dan makro yang mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak.
MPASI yang tidak mencukupi kualitas dan kuantitas nutrisinya dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, sehingga pemilihan jenis makanan, porsinya, dan cara penyajiannya perlu diperhatikan agar anak menerima gizi optimal setiap harinya.
4. Pemantauan pertumbuhan anak secara konsisten
Orangtua wajib melakukan pemantauan rutin terhadap perkembangan tinggi badan, berat badan, dan indikator kesehatan anak lainnya.
Pemeriksaan secara berkala di fasilitas kesehatan, seperti posyandu, puskesmas, atau klinik anak, memungkinkan deteksi dini jika terdapat masalah pertumbuhan.
Dengan pemantauan ini, tindakan perbaikan dapat segera dilakukan sehingga risiko terjadinya gangguan tumbuh kembang atau stunting dapat diminimalkan.
5. Menjaga kebersihan lingkungan sekitar anak
Lingkungan yang bersih dan higienis sangat berpengaruh pada kesehatan dan pertumbuhan anak.
Anak-anak yang tinggal di lingkungan yang kotor atau kurang sehat lebih rentan terserang penyakit infeksi, yang dapat menghambat perkembangan tubuh dan meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan.
Oleh karena itu, orangtua harus memastikan rumah, area bermain, dan fasilitas di sekitar anak selalu dalam kondisi bersih dan aman, sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal tanpa gangguan kesehatan.
Sebagai penutup, menjaga asupan gizi ibu dan anak, memberikan ASI eksklusif, MPASI bergizi, dan lingkungan bersih adalah langkah penting cara mencegah stunting.
Enday Prasetyo
Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Prudential Optimis Unitlink Saham Masih Miliki Peluang Pertumbuhan Tahun Ini
- Rabu, 04 Maret 2026











