Sabtu, 07 Maret 2026

Menhub Dudy Prediksi Pergerakan Pemudik Lebaran 2026 Capai 143,9 Juta Orang

Menhub Dudy Prediksi Pergerakan Pemudik Lebaran 2026 Capai 143,9 Juta Orang
Menhub Dudy Prediksi Pergerakan Pemudik Lebaran 2026 Capai 143,9 Juta Orang

JAKARTA - Mudik Lebaran selalu menjadi fenomena sosial terbesar di Indonesia setiap tahunnya. 

Pergerakan masyarakat dalam jumlah sangat besar menuntut kesiapan pemerintah dalam mengatur transportasi, infrastruktur, dan berbagai layanan pendukung. Untuk menghadapi musim mudik tahun ini, pemerintah mulai memetakan potensi pergerakan masyarakat agar perjalanan dapat berlangsung aman dan lancar.

Prediksi Jumlah Pemudik Lebaran Tahun Ini

Baca Juga

BMKG Ungkap Prakiraan Cuaca Terbaru, Hujan Diprediksi Merata di Jabodetabek Hari Ini

Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi memprediksi sebanyak 143,9 juta orang bakal melakukan perjalanan mudik pada periode Lebaran 2026. Menurutnya, angka 143,9 juta diperoleh dari hasil survei potensi pergerakan masyarakat selama musim mudik tahun ini.

"Pada survei tahun ini (Lebaran 2026), jumlah masyarakat yang akan melakukan pergerakan sebesar 143,9 juta," kata Dudy Purwagandhi saat jumpa pers di Jakarta.

Meski jumlah tahun ini lebih rendah 1,75 persen dibandingkan tahun sebelumnya, pemerintah tetap menyiapkan berbagai antisipasi. Hal ini karena pengalaman sebelumnya menunjukkan realisasi pergerakan masyarakat kerap melampaui hasil survei.

"Kalau dihadapkan dengan survei, memang ada penurunan sebesar 1,75 persen, namun kami bagaimana pengalaman sebelumnya, bahwa ada lonjakan antara survei dan realisasi, maka kami harus mengantisipasi apabila ternyata timbul lonjakan dengan angka yang berbeda dari survei tersebut," katanya.

Menurut Dudy, sebagian besar masyarakat melakukan perjalanan untuk merayakan Idul Fitri di kampung halaman. Tradisi berkumpul bersama keluarga tetap menjadi alasan utama masyarakat melakukan perjalanan jauh setiap musim Lebaran.

Provinsi dan Kota Asal Pemudik Terbanyak

Berdasarkan paparan Dudy, lima provinsi dengan jumlah pemudik terbanyak berasal dari Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Banten. Wilayah-wilayah tersebut memang memiliki populasi besar sekaligus menjadi pusat aktivitas ekonomi nasional.

"Jadi ada lima besar memang ada banyak, kami urutkan berdasarkan jumlahnya, namun yang lima besar jumlah provinsi asal itu jumlah yang terbanyak di antaranya Jawa Barat, DKI, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Banten. Itulah asal provinsi dari masyarakat yang akan melakukan pergerakan," jelas Dudy.

Sementara itu, tujuan mudik paling banyak berada di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Sulawesi Selatan. Daerah-daerah tersebut menjadi tujuan utama karena banyak perantau berasal dari wilayah tersebut.

Jika dilihat lebih rinci berdasarkan kota, wilayah dengan jumlah pemudik terbanyak yang menjadi titik keberangkatan adalah Jakarta Timur, Bogor, Bekasi, Jakarta Selatan, dan Jakarta Barat. Wilayah tersebut dikenal sebagai kawasan padat penduduk dan pusat mobilitas masyarakat pekerja.

Sedangkan kota tujuan utama para pemudik antara lain Kebumen, Yogyakarta, Surabaya, Banyumas, dan Bandung. Kota-kota tersebut tercatat sebagai daerah dengan jumlah pemudik paling tinggi pada musim Lebaran tahun ini.

"Dengan kota tujuan lima besarnya kami mencatat adalah Kebumen, Yogyakarta, Surabaya, Banyumas, dan Bandung," paparnya.

Destinasi Wisata Favorit Selama Libur Lebaran

Selain perjalanan antarprovinsi, sejumlah destinasi wisata di sekitar Jabodetabek juga diperkirakan dipadati pengunjung selama libur Lebaran. Fenomena ini sering terjadi karena banyak masyarakat memilih berlibur singkat bersama keluarga setelah merayakan hari raya.

Salah satu destinasi yang diperkirakan ramai adalah kawasan Puncak di Kabupaten Bogor. Wilayah tersebut sejak lama dikenal sebagai tempat favorit masyarakat untuk berlibur karena memiliki udara sejuk dan panorama alam yang menarik.

"Kabupaten Bogor dengan tujuan Cianjur, Puncak menjadi salah satu kegiatan yang favorit," ungkap Dudy.

Lonjakan pengunjung ke kawasan wisata juga menjadi perhatian pemerintah dalam mengatur lalu lintas. Pengaturan rekayasa lalu lintas biasanya dilakukan untuk mencegah kemacetan panjang di jalur menuju destinasi wisata populer.

Mobil Pribadi Jadi Moda Transportasi Paling Dominan

Dari sisi moda transportasi, Dudy menyebut mobil pribadi menjadi pilihan utama masyarakat untuk melakukan perjalanan mudik. Persentase penggunaan kendaraan pribadi mobil mencapai sekitar 52,68 persen dari total perjalanan masyarakat.

"Moda transportasi yang digunakan oleh masyarakat ternyata yang paling besar adalah penggunaan kendaraan pribadi mobil sekitar 52,68 persen, disusul dengan motor dan bus, kemudian kapal penyeberangan, pesawat, dan seterusnya kereta api," ucap dia.

Untuk jalur perjalanan, pemudik yang menggunakan mobil diperkirakan bakal memanfaatkan sejumlah ruas jalan utama seperti jalan tol Trans Jawa dan Trans Sumatra. Selain itu, jalur arteri di Pulau Jawa juga tetap menjadi pilihan penting bagi masyarakat yang tidak menggunakan jalan tol.

"Adapun pilihan jalur masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi atau mobil pribadi sebagai besar adalah akan menggunakan jalan tol, jalan tol Trans Jawa, kemudian Trans Sumatra, kemudian juga ada jalur lintas Tengah Jawa, jalur lintas Utara, Pantura, dan jalur lintas Selatan. Mereka juga menuju arah Bogor, Puncak," kata Dudy.

Dominasi kendaraan pribadi menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola transportasi nasional. Pemerintah biasanya menyiapkan berbagai strategi seperti rekayasa lalu lintas, pembatasan kendaraan tertentu, hingga pengaturan arus balik.

Harga Tiket Pesawat dan Upaya Pemerintah Menekan Biaya Perjalanan

Lebih lanjut, Menhub Dudy mengatakan tarif pesawat memang selalu menjadi isu yang muncul setiap musim liburan, khususnya saat arus mudik Lebaran. Kenaikan harga tiket sering menjadi perhatian masyarakat karena permintaan perjalanan meningkat tajam.

Katanya, kenaikan harga tiket sebenarnya mengikuti mekanisme pasar. Ketika permintaan perjalanan meningkat tajam sementara jumlah kursi penerbangan terbatas, harga tiket secara otomatis terdorong naik.

"Dan kalau dari saya ingin menyampaikan bahwa memang kalau peak season, ini sebenarnya rumus ekonomi gitu ya. Ketika ada high demand kemudian supply kendaraan-kendaraan sedikit, berarti harganya pasti naik," ujar Dudy.

Dia melanjutkan kondisi tersebut tak hanya terjadi pada masa Lebaran, tetapi juga pada berbagai periode libur panjang atau acara besar yang memicu lonjakan perjalanan masyarakat. Hal ini menjadi fenomena umum dalam industri transportasi udara di berbagai negara.

Meski demikian, pemerintah berupaya menekan dampak kenaikan harga melalui berbagai kebijakan stimulus agar masyarakat tetap bisa mendapatkan tiket dengan harga yang lebih terjangkau. Seperti diskon tiket pesawat 17-18 persen pada masa Lebaran tahun ini.

"Jadi pemerintah berupaya supaya masyarakat dapat membeli tiket dengan harga yang terjangkau. Ini yang terus-menerus dilakukan oleh pemerintah supaya bisa membantu masyarakat," papar dia.

Selain itu, Menhub Dudy juga mendorong maskapai menambah penerbangan tambahan atau extra flight pada rute-rute yang mengalami lonjakan permintaan. Langkah ini dilakukan agar jumlah kursi penerbangan yang tersedia bisa meningkat selama periode mudik.

"Kami menyikapinya dengan melakukan penambahan extra flight. Jadi kami mencoba memetakan bagaimana permintaannya di rute-rute tertentu, apabila dibutuhkan, maka extra flight itu akan diberikan," ungkap Dudy.

Dengan tambahan penerbangan, pemerintah berharap jumlah kursi pesawat yang tersedia bisa meningkat sehingga mampu mengakomodasi lebih banyak penumpang. Upaya ini juga diharapkan dapat membantu menstabilkan harga tiket selama musim mudik Lebaran.

Meski demikian, Dudy saat ini belum mengambil langkah perubahan kebijakan tarif karena masih mempertimbangkan keluhan masyarakat mengenai harga tiket pesawat. Pemerintah terus memantau situasi agar kebijakan yang diambil tetap seimbang bagi masyarakat dan industri penerbangan.

"Kondisinya sekarang belum dilakukan saja, masyarakat banyak yang mengeluhkan mengenai tarif pesawat," jelas dia.

Di sisi lain, keterbatasan jumlah pesawat juga menjadi faktor penting yang mempengaruhi harga tiket. Menurut Dudy, jumlah armada pesawat di Indonesia hingga kini belum sepenuhnya pulih seperti sebelum pandemi COVID-19.

Sebelum pandemi, jumlah pesawat yang beroperasi di Indonesia mencapai sekitar 700 unit. Namun saat ini jumlahnya sekitar setengah dari angka tersebut. "Jadi pada saat sebelum COVID-19 itu pesawat sampai berapa? 700 (unit), sekarang yang tersedia setengahnya," ungkapnya.

Alif Bais Khoiriyah

Alif Bais Khoiriyah

Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Jadwal Perjalanan KRL Solo–Jogja Sabtu 7 Maret 2026 Lengkap untuk Para Penumpang

Jadwal Perjalanan KRL Solo–Jogja Sabtu 7 Maret 2026 Lengkap untuk Para Penumpang

Strategi Jasa Marga Diperkuat Demi Kelancaran Arus Mudik Lebaran Nasional

Strategi Jasa Marga Diperkuat Demi Kelancaran Arus Mudik Lebaran Nasional

Bus Sinar Jaya Buka Akses Transportasi Mudah Menuju Pantai Parangtritis dan Baron

Bus Sinar Jaya Buka Akses Transportasi Mudah Menuju Pantai Parangtritis dan Baron

7 Resep Olahan Nasi Bergizi yang Cocok untuk Menu Diet Keluarga

7 Resep Olahan Nasi Bergizi yang Cocok untuk Menu Diet Keluarga

Bahaya Merokok Saat Berbuka Puasa yang Dapat Mengganggu Kesehatan Tubuh

Bahaya Merokok Saat Berbuka Puasa yang Dapat Mengganggu Kesehatan Tubuh