JAKARTA - Pergerakan saham sektor perbankan kembali menjadi perhatian pelaku pasar menjelang agenda penting yang akan digelar salah satu bank terbesar di Indonesia.
PT Bank Central Asia Tbk dijadwalkan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dalam waktu dekat, yang di dalamnya akan membahas penggunaan laba bersih perusahaan, termasuk potensi pembagian dividen kepada pemegang saham.
Bagi investor, keputusan terkait pembagian dividen sering kali menjadi faktor penting yang memengaruhi pergerakan harga saham. Semakin besar rasio pembagian dividen, semakin besar pula potensi daya tarik saham tersebut di mata investor yang mencari pendapatan dari dividen.
Baca JugaAkulaku Tetap Optimis Capai Target Pembiayaan Baru di Tahun 2026
Sinyal kenaikan rasio pembagian dividen tahun buku 2025 bisa menjadi katalis positif terhadap gerak saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). BBCA dijadwalkan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Kamis, 12 Maret 2026.
Dari tujuh mata acara yang akan dibahas, agenda kedua RUPST perseroan akan memutuskan penetapan penggunaan laba bersih tahun buku 2025.
Agenda RUPST Bahas Penggunaan Laba Bersih
Dalam agenda tersebut, manajemen perusahaan akan mengusulkan pembagian laba bersih yang telah dibukukan sepanjang tahun lalu. Sebagian dari laba tersebut direncanakan untuk dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen tunai.
Seiring dengan hal tersebut, manajemen BCA mengusulkan agar sebagian laba bersih disisihkan untuk pembagian dividen tunai, sedangkan sisanya akan dibukukan sebagai laba ditahan.
Adapun, pembagian dividen itu dimungkinkan lantaran BBCA mampu membukukan laba bersih senilai Rp57,5 triliun sepanjang 2025.
Angka tersebut meningkat sebesar 4,9% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Pertumbuhan laba ini menjadi salah satu indikator kuatnya kinerja perusahaan dalam menjaga profitabilitas di tengah dinamika industri perbankan. Dengan capaian laba tersebut, ruang untuk pembagian dividen yang lebih besar dinilai masih terbuka.
Kinerja BBCA Tetap Stabil Meski Ada Tekanan Margin
Sejumlah analis menilai kinerja perusahaan masih menunjukkan stabilitas yang baik meskipun terdapat tekanan pada beberapa indikator keuangan, khususnya margin bunga bersih atau net interest margin (NIM).
Riset CGS International menjelaskan BBCA bisa mempertahankan kinerja yang stabil kendati ada tekanan terhadap margin bunga bersih (net interest margin/NIM).
Sejak rilis kinerja kuartal III/2025, manajemen BBCA memang telah memberi kisi-kisi adanya penurunan NIM pada tahun ini. Analis CGS International Handy Noverdanius memproyeksi pendapatan bunga bersih BBCA mencapai Rp88,23 triliun pada 2026, naik 3% dibandingkan 2025.
Sementara itu laba bersih diproyeksi naik 5,7% menjadi Rp60,82 triliun pada 2026.
“BBCA masih memiliki ruang untuk meningkatkan rasio pembagian dividen untuk tahun buku 2025, yang berpotensi menjadi katalis positif bagi pergerakan saham perseroan”.
Likuiditas Dan Kinerja Awal Tahun Tetap Kuat
Selain mempertahankan kinerja stabil, perusahaan juga mencatat capaian kinerja yang cukup positif pada awal tahun ini. Hal tersebut terlihat dari pertumbuhan laba bersih yang tercatat pada Januari.
Pada Januari 2026, BBCA telah mencatat laba bersih Rp5 triliun, naik 5,8% secara year on year. Pencapaian ini setara dengan 8% proyeksi laba setahun dari konsensus analis yang dikompilasi Bloomberg.
Peningkatan laba bersih pada Januari 2026 secara tahunan terutama didorong oleh kenaikan pendapatan non-bunga sebesar 11% serta penurunan beban pencadangan yang signifikan sebesar 54%.
Dari sisi pendanaan, lanjutnya, posisi likuiditas BBCA tetap kuat dengan rasio dana murah atau CASA mencapai sekitar 84,8%, mencerminkan keunggulan biaya dana dibandingkan bank sejenis.
Adapun, loan to deposit ratio (LDR) masih rendah di level 77,4%. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu faktor yang menjaga stabilitas profitabilitas perseroan.
Rekomendasi Analis Terhadap Saham BBCA
Sejumlah perusahaan sekuritas juga memberikan pandangan positif terhadap prospek saham perusahaan. Rekomendasi tersebut didasarkan pada kekuatan fundamental serta strategi bisnis yang dinilai mampu menopang pertumbuhan kinerja ke depan.
CGS mempertahankan rekomendasi beli terhadap saham BBCA dengan target harga Rp10.000 per saham. Proyeksi ini setara dengan potensi kenaikan 43% dari harga saham BBCA di akhir tahun lalu. Sementara itu, Samuel Sekuritas mempertahankan rekomendasi Buy terhadap BBCA dengan target harga Rp8.600 per saham.
Analis dari Samuel Sekuritas, Prasetya Gunadi dan Brandon Boedhiman menilai strategi pendanaan berbasis transaksi serta dominasi rasio dana murah (current account saving account/CASA) akan tetap menjadi penopang utama pertumbuhan kinerja bank tersebut.
“BBCA terus mengeksekusi strategi transaction banking dan pendanaan berbasis CASA yang kuat sehingga mampu menopang pertumbuhan laba yang stabil,” tulis Samuel Sekuritas dalam risetnya.
Samuel memperkirakan kredit BBCA dapat tumbuh sekitar 10–11% pada 2026, dengan margin bunga bersih berada di kisaran 5,4–5,6% serta biaya kredit sekitar 40–50 basis poin.
Dari sisi profitabilitas, laba bersih BBCA diproyeksikan meningkat sekitar 7,4% secara tahunan menjadi Rp61,8 triliun pada 2026, dari Rp57,5 triliun pada 2025.
Sementara itu, kualitas aset juga diperkirakan tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) di kisaran 1,6%, didukung oleh manajemen risiko yang konservatif serta buffer pencadangan yang kuat.
Dengan berbagai indikator fundamental yang solid, potensi kenaikan rasio pembagian dividen dipandang dapat menjadi faktor tambahan yang mendorong minat investor terhadap saham BBCA dalam jangka menengah.
Celo
Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Pendapatan PGEO Tembus Rp7,32 Triliun, Kamojang Jadi Kontributor Utama
- Senin, 09 Maret 2026
Solusi Bangun Kembangkan Dermaga dan Produksi Pabrik Tuban Rp1,4 Triliun
- Senin, 09 Maret 2026
Berita Lainnya
Pendapatan PGEO Tembus Rp7,32 Triliun, Kamojang Jadi Kontributor Utama
- Senin, 09 Maret 2026
Solusi Bangun Kembangkan Dermaga dan Produksi Pabrik Tuban Rp1,4 Triliun
- Senin, 09 Maret 2026








