JAKARTA - Perubahan perilaku keuangan masyarakat sering menjadi indikator penting dalam membaca kondisi ekonomi.
Ketika masyarakat mulai menahan belanja dan meningkatkan tabungan, hal tersebut biasanya mencerminkan sikap yang lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan. Fenomena ini juga dapat menjadi gambaran bagaimana masyarakat merespons dinamika ekonomi yang sedang berlangsung.
Dalam beberapa waktu terakhir, tren tersebut mulai terlihat dari perilaku konsumen di Indonesia. Sebagian masyarakat tampak mengurangi porsi pengeluaran untuk konsumsi dan memilih menyimpan lebih banyak pendapatan dalam bentuk tabungan. Pergeseran pola ini tercermin dalam survei terbaru yang dirilis Bank Indonesia.
Baca Juga
Data tersebut menunjukkan bahwa masyarakat semakin selektif dalam mengatur pengeluaran. Sementara itu, sebagian pendapatan justru dialihkan untuk disimpan sebagai cadangan keuangan di masa depan.
Porsi Konsumsi Masyarakat Mengalami Penurunan
Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa masyarakat semakin tipis menyisihkan pendapatan untuk belanja dan semakin banyak yang menabung pada Februari 2026.
Berdasarkan data Survei Konsumen BI Februari 2026, rata-rata porsi pendapatan masyarakat yang digunakan untuk konsumsi turun ke level 71,6%. Angka ini merosot dibandingkan posisi bulan sebelumnya yang masih mencatatkan angka 72,3%.
Bahkan, jika ditarik data historis lebih jauh ke belakang maka level 71,6% itu merupakan rekor terendah baru sejak Desember 2020 atau enam tahun lalu, yang mana porsi konsumsi sempat menyentuh 69,0% akibat hantaman pandemi Covid-19.
Penurunan porsi belanja ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat mulai menyesuaikan pola pengeluaran mereka. Dalam situasi ekonomi yang dinamis, keputusan untuk menahan konsumsi sering kali menjadi strategi rumah tangga dalam menjaga stabilitas keuangan.
Perubahan ini juga menjadi perhatian bagi para pengamat ekonomi karena konsumsi rumah tangga selama ini dikenal sebagai salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Tabungan Masyarakat Justru Mengalami Kenaikan
Penurunan porsi belanja ini diikuti peningkatan alokasi pendapatan yang dialihkan untuk tabungan. Data BI menunjukkan, proporsi pendapatan yang disimpan (tabungan) pada Februari 2026 ada di level 17,7%, naik dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 16,5%.
Menarik, sejalan dengan penurunan porsi uang belanja masyarakat, data historis pendapatan masyarakat untuk ditabung di level 17,7% itu menjadi yang tertinggi sejak Desember 2020. Saat itu, proporsi pendapatan untuk tabungan mencapai 20,8%.
Kenaikan proporsi tabungan ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat mulai memperkuat cadangan keuangan mereka. Tabungan sering dianggap sebagai langkah antisipatif untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi atau kebutuhan di masa depan.
Selain itu, kebiasaan menabung juga dapat mencerminkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perencanaan keuangan jangka panjang.
Beban Cicilan Masyarakat Mulai Berkurang
Selain meningkatkan tabungan, masyarakat juga terlihat mulai mengurangi beban pembayaran utang. Rasio pembayaran cicilan pinjaman terhadap pendapatan tercatat turun menjadi 10,6% pada Februari 2026, dibandingkan 11,2% pada bulan sebelumnya.
Penurunan rasio cicilan ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat berusaha mengelola kewajiban finansial dengan lebih hati-hati. Dengan menurunnya porsi pembayaran utang, masyarakat memiliki ruang lebih besar untuk menyimpan sebagian pendapatan.
Langkah ini juga dapat menjadi bagian dari strategi rumah tangga dalam menjaga stabilitas keuangan, terutama ketika kondisi ekonomi dianggap masih memerlukan kewaspadaan.
Perubahan pola tersebut sekaligus menggambarkan bahwa masyarakat tidak hanya menahan konsumsi, tetapi juga mulai memperbaiki struktur keuangan pribadi.
Perbedaan Pola Konsumsi Berdasarkan Kelompok Pendapatan
Secara demografi pendapatan, aksi tahan uang paling kencang dilakukan oleh kelompok masyarakat kelas menengah-atas. Kelompok dengan pengeluaran di atas Rp5 juta per bulan mencatatkan penurunan porsi konsumsi paling dalam, yaitu hanya 68,8% dari total pendapatan mereka.
Sebaliknya, kelompok masyarakat bawah dengan pengeluaran Rp1-2 juta per bulan menjadi yang paling banyak mengeluarkan pendapatnya untuk kebutuhan hidup, dengan rasio konsumsi yang masih tinggi di level 72,9%.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa kemampuan menahan konsumsi sangat dipengaruhi oleh tingkat pendapatan. Kelompok dengan penghasilan lebih tinggi cenderung memiliki ruang lebih besar untuk menabung, sementara kelompok berpenghasilan rendah masih harus menggunakan sebagian besar pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyidak Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Senin (9/3/2026) untuk memantau langsung daya beli masyarakat.
Purbaya mengaku tertarik mengecek langsung Pasar Tanah Abang karena banyak ekonom yang sebut ekonomi sedang resesi, daya beli menurun, hingga pasar-pasar sepi.
"Saya pengin cek karena kalau data-data kita, ekonomi lagi bagus. Harusnya kan di Tanah Abang, segala macam, ada pembelinya. Saya mau cek itu aja betul apa enggak. Ternyata betul, daya beli masih ada, orang masih belanja, itu pasar juga masih ramai," katanya.
Oleh sebab itu, dia mengklaim daya beli sedang membaik. Purbaya membantah pernyataan sejumlah ekonom yang menyatakan ekonomi Indonesia menuju resesi, apalagi krisis.
"Teman-teman enggak usah takut. Nanti kalau harga minyak dunia naik pun kita akan coba absorb lewat APBN dan kita akan kendalikan semaksimal mungkin," ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tetap optimistis terhadap kondisi ekonomi nasional, meskipun data survei menunjukkan adanya perubahan pola konsumsi masyarakat.
Celo
Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Perusahaan Didorong Berperan Aktif Tingkatkan Upskilling Pekerja Indonesia
- Selasa, 10 Maret 2026
Berita Lainnya
Indonesia Dorong Reformasi Pertanian Agar Kesejahteraan Petani Meningkat Signifikan
- Selasa, 10 Maret 2026








