Sabtu, 28 Maret 2026

Lo Kheng Hong Dorong ABM Investama Capai Target Strategis 2026

Lo Kheng Hong Dorong ABM Investama Capai Target Strategis 2026
Lo Kheng Hong Dorong ABM Investama Capai Target Strategis 2026

JAKARTA - Emiten portofolio Lo Kheng Hong, PT ABM Investama Tbk (ABMM), mencatat pendapatan konsolidasian senilai US$ 1,03 miliar sepanjang 2025, mengalami penurunan 13,5% dibandingkan tahun sebelumnya. 

Penurunan ini terutama disebabkan oleh melemahnya harga batu bara global dan berbagai kendala operasional yang muncul akibat faktor eksternal.

Di sisi laba, adjusted EBITDA ABMM tercatat sebesar US$ 339,3 juta, sementara laba bersih perseroan mencapai US$ 70,6 juta. Direktur ABMM, Hans Manoe, menegaskan bahwa capaian ini menunjukkan konsistensi dalam penerapan strategi perusahaan. 

Baca Juga

Multivision Siapkan Rights Issue Perkuat Ekspansi Bioskop Nasional

“Kinerja perseroan pada tahun ini mencerminkan hasil dari pelaksanaan strategi yang kami jalankan secara konsisten di seluruh unit usaha. Dengan berfokus pada keunggulan operasional serta pengelolaan keuangan yang disiplin, kami telah memperkuat fundamental perseroan dan menjaga daya saing serta kinerja di tengah persaingan industri melalui optimalisasi aset operasional dan pengelolaan investasi strategis secara efektif guna mendukung pertumbuhan jangka panjang,” jelas Hans.

Perseroan menegaskan kewaspadaan terhadap perubahan kondisi eksternal. “Perseroan senantiasa waspada terhadap perubahan lingkungan eksternal dan berbagai tantangan yang berpotensi memengaruhi penciptaan nilai bagi seluruh pemangku kepentingan,” tambahnya.

Pergerakan Saham dan Valuasi Menarik

Saham ABM Investama sempat ditutup melemah 0,33% di level Rp 3.030 pada akhir perdagangan Jumat (27/3/2026), namun sepanjang sepekan tercatat menguat 5,94%. 

Dari sisi valuasi, rasio price to book value (PBV) tercatat 0,57 kali, yang berarti nilai buku per saham ABMM sekitar Rp 5.300-an. Sementara itu, price earning ratio (PER) ABMM berada di angka 7,17 kali.

Kepemilikan Lo Kheng Hong pada ABMM juga meningkat. Per 28 Februari 2026, investor kondang ini memegang 5,624% saham ABM Investama, naik dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 5,611%. Langkah ini menunjukkan kepercayaan Lo Kheng Hong terhadap prospek jangka panjang perseroan.

Selain itu, ABM Investama telah mengumumkan rencana rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) pada 29 April 2026, sebagai bagian dari upaya transparansi dan keterlibatan pemegang saham dalam menentukan arah perusahaan.

Fokus Pengembangan Tambang Batu Bara Aceh

Memasuki 2026, ABMM menyiapkan rencana strategis besar di sektor pertambangan. Hans menjelaskan bahwa perusahaan akan memfokuskan pengembangan operasional tambang batu bara di Provinsi Aceh. 

Tambang ini telah berhasil menjual batu bara perdana pada Februari 2026, menandai langkah penting dalam ekspansi produksi.

Perseroan menargetkan tambang Aceh dapat mencapai produksi bulanan yang stabil. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat kinerja keseluruhan perusahaan sepanjang 2026, sekaligus meningkatkan kontribusi terhadap pendapatan dan laba bersih perseroan. 

Dengan pemanfaatan aset yang optimal, ABMM ingin memaksimalkan nilai bagi pemegang saham sekaligus menjaga posisi kompetitif di industri batu bara yang semakin dinamis.

Akuisisi Tambang Baru di Kalimantan Tengah

Selain proyek di Aceh, ABMM juga mengakuisisi aset tambang batu bara di Kalimantan Tengah. Proses saat ini sedang difokuskan pada penyelesaian seluruh kelengkapan perizinan yang dibutuhkan. 

Targetnya adalah agar tambang baru ini dapat memulai operasi komersial (COD) pada kuartal III-2026.

Hans menegaskan bahwa pengembangan aset ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang ABMM untuk memperluas kapasitas produksi dan memperkuat portofolio pertambangan. 

Dengan kombinasi pengembangan proyek baru dan optimasi aset yang ada, perseroan menyiapkan diri untuk menghadapi fluktuasi harga komoditas dan tantangan operasional di masa depan.

Strategi Jangka Panjang dan Optimisasi Aset

ABM Investama terus menegaskan fokus pada pengelolaan investasi yang efisien serta penguatan fundamental perseroan. Menurut Hans, strategi ini mencakup optimalisasi aset operasional, pengelolaan keuangan yang disiplin, dan pemanfaatan peluang pertumbuhan di sektor batu bara. 

Semua langkah tersebut ditujukan untuk menjaga daya saing perusahaan sekaligus mendukung pertumbuhan jangka panjang.

Dengan valuasi saham yang saat ini berada di bawah nilai buku, ABMM menjadi sorotan investor yang mencari saham dengan potensi upside tinggi. Kepercayaan Lo Kheng Hong yang terus bertambah menjadi sinyal positif, menunjukkan keyakinan investor institusi terhadap arah strategis perusahaan.

ABMM menegaskan komitmen untuk terus memantau dinamika eksternal, menghadapi risiko, dan memaksimalkan nilai bagi seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemegang saham, karyawan, dan mitra bisnis. 

Dengan rencana pengembangan tambang di Aceh dan Kalimantan Tengah, serta manajemen keuangan yang solid, ABM Investama siap menatap tahun 2026 dengan strategi yang matang.

Celo

Celo

Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Blue Bird Bersaing Kuat Menghadapi Serbuan Taksi Online Modern

Blue Bird Bersaing Kuat Menghadapi Serbuan Taksi Online Modern

PGEO Pimpin Transisi Energi Bersih Dengan Panas Bumi Nasional

PGEO Pimpin Transisi Energi Bersih Dengan Panas Bumi Nasional

Transaksi Digital Perbankan Jadi Sumber Pendapatan Baru Bagi Bank

Transaksi Digital Perbankan Jadi Sumber Pendapatan Baru Bagi Bank

BCA Dorong Pembiayaan Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan di Indonesia

BCA Dorong Pembiayaan Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan di Indonesia

Pendapatan GOLF Tumbuh 2025 Berkat New Kuta Golf Bali

Pendapatan GOLF Tumbuh 2025 Berkat New Kuta Golf Bali