Breaking

PPRO Targetkan Pendapatan Rp1 Triliun Lewat Transformasi Bisnis 2034

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Senin, 08 Juni 2026
PPRO Targetkan Pendapatan Rp1 Triliun Lewat Transformasi Bisnis 2034
ILUSTRASI, Logo PPRO (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA - PT PP Properti Tbk. (PPRO) tengah merancang transformasi bisnis jangka panjang yang ditargetkan berjalan hingga 2034. Langkah ini diambil guna merombak struktur bisnis perseroan yang selama ini didominasi oleh proyek apartemen, menjadi lebih fokus pada pengembangan hunian tapak (landed house), hunian mahasiswa (student residence), serta retirement house.

Melalui peta jalan strategis ini, PPRO membidik untuk masuk ke fase New PPRO Era setelah tahun 2034. Beberapa indikator kinerja utama yang dipatok dalam fase tersebut antara lain meluncurkan satu proyek baru tiap dua tahun, memasarkan di atas 1.000 unit properti per tahun, mencetak pendapatan melampaui Rp1 triliun per tahun, serta mengumpulkan penerimaan kas lebih dari Rp1 triliun per tahun.

Direktur Utama PPRO Dyah Rahadyannie menjelaskan bahwa langkah transformasi ini dilakukan demi memperkokoh fundamental usaha sekaligus membentuk model bisnis yang lebih sehat dan berkelanjutan. 

Sebagaimana dilansir dari berita sumber "Berbagai langkah strategis yang kami lakukan, termasuk optimalisasi portofolio melalui divestasi aset untuk memperkuat arus kas, merupakan bagian dari upaya menciptakan fondasi perusahaan yang lebih sehat," ujarnya dalam paparan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dikutip pada Minggu (7/6/2026).

Menurut Dyah, agenda perombakan ini tidak cuma difokuskan untuk mendongkrak performa usaha, melainkan juga demi memperkuat tata kelola perseroan serta kualitas laporan keuangan.

Di tengah bergulirnya proses transformasi tersebut, performa finansial PPRO hingga Maret 2026 terpantau belum maksimal. 

Nilai total aset konsolidasian berada di angka Rp10,58 triliun, atau mengalami penurunan sebesar 41,13% jika disandingkan dengan posisi Maret 2025 yang mencapai Rp17,98 triliun. 

Jumlah liabilitas juga ikut turun 24,80% menjadi Rp4,52 triliun dari periode sebelumnya yang sebesar Rp6,01 triliun.

Sementara itu, posisi ekuitas menyusut 49,33% menjadi Rp6,06 triliun dari Rp11,97 triliun pada kuartal yang sama tahun lalu. Di sisi operasional, perseroan berhasil mengantongi pendapatan senilai Rp79 miliar pada kuartal I/2026, alias tumbuh sebesar 21,54% dari raihan Rp65 miliar di kuartal I/2025. 

Kendati demikian, EBITDA emiten properti ini masih minus sebesar Rp81 miliar, walaupun nilai itu sudah membaik bila berkaca pada kerugian EBITDA kuartal I/2024 yang menembus Rp209 miliar.

Sebagai bagian dari strategi peralihan ini, PPRO bakal merombak komposisi portofolio bisnisnya secara masif. Saat ini, porsi portofolio perusahaan masih didominasi oleh apartemen sebesar 70%, diikuti oleh student residence 20%, dan landed house 10%. 

Ke depan, target komposisi tersebut akan diubah menjadi 70% landed house, 20% student residence dan retirement house, serta menyisakan 10% saja untuk apartemen dan service apartment.

Pihak manajemen menilai bahwa lini bisnis apartemen memerlukan belanja modal yang besar dengan serapan pasar yang cenderung terbatas. Di sisi lain, sektor rumah tapak dinilai punya basis pasar yang jauh lebih luas dengan kebutuhan investasi yang lebih efisien.

Guna menyokong jalannya transformasi ini, PPRO turut memanfaatkan skema kerja sama operasi (KSO) bersama para pemilik tanah maupun investor. 

Lewat taktik ini, perseroan berharap bisa menggarap proyek-proyek baru tanpa harus membebani modal perusahaan secara berlebihan, sebagaimana dilansir dari berita sumber "Kami optimis dapat melanjutkan proses perbaikan secara bertahap, menjaga disiplin pengelolaan USAHA. Ke depan, Perseroan akan terus berfokus pada penguatan fundamental usaha, peningkatan kualitas TATA kelola, serta pengelolaan bisnis yang prudent," imbuhnya.

Tahapan Transformasi Bisnis PPRO

Rencana transformasi bisnis PPRO ini dirancang dalam empat tahapan utama yang akan bergulir hingga 2034. Di fase penyembuhan pada 2025, perseroan menitikberatkan pada pembentukan tim pengendali kesehatan finansial, akselerasi penjualan ready stock dan lahan, pemulihan citra merek, hingga penataan ulang organisasi.

Selanjutnya, pada fase pemulihan yang dijadwalkan tahun 2026–2027, PPRO membidik pembenahan prosedur operasional, penguatan kapasitas SDM lewat digitalisasi serta simplifikasi proses, optimalisasi lahan yang ada, alih fungsi aset menjadi service apartment, dan penguatan merek dagang perseroan.

Ketika melangkah ke fase transformasi awal pada periode 2028–2030, perusahaan menargetkan perilisan proyek baru lewat kemitraan dengan pemilik lahan, mendaur ulang aset-aset lama yang kinerjanya menurun, serta memperkokoh lini building management sebagai sumber keuntungan baru.

Sementara pada fase transformasi akhir untuk periode 2031–2034, PPRO menargetkan kesuksesan lima proyek berjalan, peluncuran proyek Prime Permata Puri, perampungan sistem manajemen hunian mahasiswa, pengembangan retirement house, serta pembentukan basis data konsumen yang lebih luas.

Setelah menyelesaikan seluruh tahapan tersebut, PPRO menargetkan diri untuk melangkah ke fase New PPRO Era yang diiringi sejumlah indikator kinerja utama, yaitu menelurkan satu proyek baru tiap dua tahun, memasarkan di atas 1.000 unit properti per tahun, mencetak pendapatan di atas Rp1 triliun per tahun, serta menghasilkan aliran penerimaan kas melampaui Rp1 triliun per tahun.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua