Bumi Resources Minerals Tancap Gas Emas Tembaga Saham Bisa Melonjak
- Minggu, 29 Maret 2026
JAKARTA - PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menunjukkan langkah agresif dengan memperluas bisnis tidak hanya pada emas, tetapi juga menatap potensi besar di tembaga.
Kinerja perseroan sepanjang 2025 berhasil melampaui ekspektasi analis dan pasar, yang membuat prospek saham BRMS diprediksi mampu melonjak hingga 87% dalam jangka menengah.
BRMS mencatat laba bersih US$ 12 juta pada kuartal IV-2025 (4Q25), meningkat 37,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy), meski turun 19,7% dibanding kuartal sebelumnya (qoq).
Baca Juga
Penurunan kuartalan ini terutama disebabkan oleh penurunan volume produksi emas sebesar 12,7% qoq akibat pushback, yakni pengupasan area tambang untuk membuka akses cadangan baru yang berlanjut hingga kuartal I-2026. Proses ini berdampak pada kadar bijih yang diolah, namun sebagian terkompensasi oleh kenaikan harga jual rata-rata emas sebesar 20,2% qoq.
Secara keseluruhan, laba bersih BRMS sepanjang 2025 mencapai US$ 50 juta, melonjak 142% yoy.
“Ini setara dengan 119% dari estimasi kami, sehingga melampaui ekspektasi, meskipun tetap sejalan dengan konsensus pasar,” tulis analis UOB Kay Hian Sekuritas, Benyamin Mikael.
Proyeksi Laba BRMS Meningkat Tajam
Melihat tren positif ini, UOB Kay Hian memproyeksikan laba BRMS tahun ini akan meningkat 86,8% yoy menjadi US$ 94 juta.
Kenaikan laba diperkirakan ditopang oleh sejumlah faktor, termasuk proyeksi peningkatan volume penjualan emas sebesar 6,8% yoy, asumsi harga emas yang lebih tinggi, kenaikan harga minyak, serta tidak adanya penjualan aset atau penghapusan nilai aset (write off).
“Faktor utama pendorong laba adalah kenaikan volume penjualan emas, harga yang lebih tinggi, serta kestabilan operasional yang tidak terganggu oleh penjualan atau write off,” tambah Benyamin.
Prediksi ini memperkuat pandangan bahwa saham BRMS memiliki potensi pertumbuhan yang signifikan di pasar modal.
Peningkatan Kapasitas Produksi Emas
Dari sisi operasional, BRMS tengah meningkatkan kapasitas fasilitas carbon in leach (CIL) pertama dari 500 tpd menjadi 2.000 tpd, dengan target penyelesaian pada kuartal IV-2026.
Selama proses peningkatan kapasitas ini, fasilitas sementara tidak beroperasi sehingga produksi jangka pendek tertekan. Namun, dampak negatif ini sebagian diimbangi oleh CIL kedua yang sudah beroperasi sejak pertengahan 2025 dengan kapasitas sekitar 4.500 tpd.
Selain itu, pengembangan tambang bawah tanah di Poboya, yang dioperasikan oleh Macmahon Indonesia, menunjukkan progres baik dan diperkirakan mulai produksi pada pertengahan 2027.
Tambang ini memungkinkan pengolahan bijih berkadar lebih tinggi, yakni 3,5-4,9 g/t, dibandingkan kondisi saat ini sekitar 1,5 g/t. Ekspansi fasilitas CIL dan pengembangan tambang bawah tanah diyakini mendukung target produksi emas BRMS hingga 246.000 ons pada tahun 2030.
Potensi Tambang Tembaga Jadi Pendorong Diversifikasi
BRMS tidak berhenti pada emas. Hasil pengeboran tambang tembaga di Gorontalo diperkirakan diumumkan pada 2027. Indikasi awal menunjukkan potensi cadangan tembaga yang bisa sebanding dengan tambang Batu Hijau PT Amman Mineral International Tbk (AMMN) yang memiliki sekitar 16,6 miliar pon tembaga.
“Hal itu membuka peluang upside tambahan dari diversifikasi BRMS ke komoditas tembaga,” ungkap Benyamin.
Strategi diversifikasi ini memberikan potensi pertumbuhan jangka panjang bagi BRMS, sekaligus mengurangi risiko ketergantungan terhadap fluktuasi harga emas semata.
Target Harga Saham BRMS Menjanjikan
Melihat keseluruhan kinerja, UOB Kay Hian tetap mempertahankan rekomendasi beli saham BRMS. Target harga saham dinaikkan menjadi Rp 1.330 dari sebelumnya Rp 1.080, yang menunjukkan potensi kenaikan harga saham sebesar 87,3%.
Valuasi ini didasarkan pada estimasi EV/EBITDA 2026 sebesar 69,3 kali, serta pembaruan model discounted cash flow (DCF).
Dengan kombinasi ekspansi kapasitas produksi emas, pengembangan tambang bawah tanah, serta diversifikasi ke tembaga, BRMS dipandang memiliki fondasi yang kuat untuk pertumbuhan laba dan valuasi saham. Investor dapat melihat peluang jangka menengah hingga panjang dari langkah strategis ini, yang mengindikasikan saham BRMS memiliki potensi apresiasi signifikan di pasar.
Celo
Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Berita Lainnya
Terpopuler
1.
Harga Perak Antam Minggu Ini 29 Maret Turun Rp 2.100
- 29 Maret 2026
2.
4.
5.
DAMRI Resmi Buka Rute Jogja Semarang Lewati Borobudur
- 29 Maret 2026








