Jumat, 03 April 2026

Pertamina Gandeng POSCO Kembangkan Teknologi Rendah Karbon di Indonesia

Pertamina Gandeng POSCO Kembangkan Teknologi Rendah Karbon di Indonesia
Pertamina Gandeng POSCO Kembangkan Teknologi Rendah Karbon di Indonesia

JAKARTA - Upaya mempercepat transisi energi berkelanjutan kembali diperkuat PT Pertamina (Persero) melalui kerja sama strategis dengan mitra internasional.

Kali ini, Pertamina menandatangani Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan POSCO International Corporation untuk menjajaki pengembangan dan penerapan teknologi rendah karbon di Indonesia dan Korea Selatan. 

Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang kedua perusahaan dalam mendukung pengurangan emisi sekaligus membuka peluang baru di sektor energi masa depan.

Baca Juga

PKB CCEP Indonesia 2026-2028 Perkuat Hubungan Industrial Berkeadilan

Kerja sama ini menunjukkan bahwa pengembangan energi rendah karbon kini tidak lagi hanya menjadi agenda nasional, tetapi juga membutuhkan kolaborasi lintas negara dan lintas industri. 

Di tengah dorongan global menuju ekonomi hijau, sinergi antara perusahaan energi besar seperti Pertamina dan POSCO dinilai penting untuk mempercepat adopsi teknologi yang relevan, efisien, dan berkelanjutan. 

Kesepakatan tersebut pun dipandang sebagai pijakan awal untuk memperluas implementasi solusi energi yang lebih ramah lingkungan di kawasan Asia.

PT Pertamina (Persero) memperkuat kerja sama dengan mitra internasional dalam pengembangan solusi energi rendah karbon melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan POSCO International Corporation. POSCO merupakan perusahaan perdagangan dan investasi global asal Korea Selatan, yang menjadi bagian dari POSCO Group. 

Perusahaan ini bergerak dalam berbagai bidang strategis termasuk energi, bahan baku baja, agribisnis (termasuk perkebunan sawit), dan komponen ekonomi baru.

Kesepakatan tersebut menjadi langkah strategis kedua perusahaan untuk menjajaki pengembangan dan penerapan teknologi rendah karbon di Indonesia dan Korea Selatan. 

Dengan latar belakang dan kekuatan bisnis yang dimiliki masing-masing pihak, kolaborasi ini diharapkan mampu mendorong percepatan pengembangan infrastruktur serta pemanfaatan teknologi yang mendukung agenda transisi energi di kedua negara.

Kolaborasi Strategis Untuk Teknologi Rendah Karbon

Melalui MoU itu, kedua perusahaan akan mengeksplorasi potensi kolaborasi dalam pengembangan dan penerapan teknologi rendah karbon. 

Fokus utama kerja sama ini diarahkan pada beberapa sektor penting yang dinilai memiliki peran besar dalam menekan emisi karbon sekaligus mendukung keberlanjutan industri energi di masa depan.

Salah satu fokus utama kerja sama ini adalah pengembangan Carbon Capture Storage (CCS) dan Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS). 

Teknologi ini menjadi salah satu solusi yang banyak diperbincangkan dalam agenda dekarbonisasi global karena memungkinkan penangkapan emisi karbon dari aktivitas industri untuk kemudian disimpan atau dimanfaatkan kembali. 

Dalam konteks Indonesia dan Korea Selatan, pengembangan CCS dan CCUS dipandang relevan untuk mendukung target pengurangan emisi dari sektor energi dan industri berat.

Selain itu, kerja sama juga mencakup pengembangan Blue Hydrogen/Ammonia. Hidrogen biru dan amonia biru mulai dipandang sebagai bagian penting dari bauran energi masa depan, terutama untuk mendukung transisi menuju sumber energi yang lebih bersih. 

Di samping itu, kedua perusahaan juga membuka potensi kerja sama di sektor Energi Baru dan Terbarukan (EBT), yang selama ini menjadi salah satu pilar utama dalam upaya menurunkan emisi karbon.

Dengan cakupan tersebut, kerja sama Pertamina dan POSCO tidak hanya berfokus pada satu teknologi, melainkan membangun pendekatan yang lebih menyeluruh. 

Hal ini menunjukkan bahwa kedua perusahaan berupaya melihat peluang pengembangan energi rendah karbon secara komprehensif, mulai dari teknologi penangkapan karbon hingga pengembangan sumber energi alternatif yang lebih berkelanjutan.

Pertamina Tegaskan Komitmen Dukung Transisi Energi

Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menyampaikan, melalui kerja sama ini Pertamina terus memperkuat kolaborasi global dalam pengembangan teknologi rendah karbon, sekaligus mendukung percepatan transisi energi yang berkelanjutan dan memperkuat ketahanan energi nasional.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kerja sama ini bukan sekadar bentuk ekspansi bisnis, tetapi juga bagian dari komitmen strategis Pertamina dalam menghadapi perubahan lanskap energi global. 

Di tengah tekanan untuk menurunkan emisi dan mempercepat pemanfaatan energi bersih, perusahaan energi nasional dituntut untuk tidak hanya beradaptasi, tetapi juga aktif membangun ekosistem teknologi baru yang relevan dengan tantangan masa depan.

"Kolaborasi ini menjadi langkah penting bagi Pertamina untuk mempercepat pengembangan ekosistem teknologi rendah karbon di Indonesia, dengan pemanfaatan teknologi CCS/CCUS, pengembangan hidrogen biru, hingga energi baru terbarukan yang diharapkan dapat mendukung target penurunan emisi sekaligus membuka peluang ekonomi karbon di masa depan," ujar Simon.

Dari pernyataan itu, terlihat bahwa Pertamina menempatkan kerja sama ini dalam kerangka yang lebih luas, yakni membangun fondasi ekosistem rendah karbon di Indonesia. 

Tidak hanya berorientasi pada pengurangan emisi, kolaborasi ini juga diharapkan mampu membuka peluang ekonomi baru, termasuk potensi berkembangnya pasar dan aktivitas ekonomi karbon di masa mendatang.

Penandatanganan MoU Bertepatan Kunjungan Presiden Ke Korsel

MoU ditandatangani oleh Simon bersama Chief Executive Officer POSCO International, Kye-In Lee, di Korea Selatan pada 1 April 2026, waktu setempat. 

Penandatanganan ini menjadi momen penting karena dilakukan langsung oleh pimpinan tertinggi kedua perusahaan, yang menunjukkan keseriusan dan komitmen dalam menjajaki kolaborasi strategis di bidang energi rendah karbon.

Penandatanganan MoU dilakukan bertepatan dengan kunjungan Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, ke Korea Selatan dalam rangka kerja sama bilateral kedua negara. 

Momentum tersebut menambah nilai strategis dari kesepakatan ini karena berlangsung dalam suasana penguatan hubungan ekonomi dan investasi antara Indonesia dan Korea Selatan.

Dalam konteks hubungan bilateral, kerja sama Pertamina dan POSCO juga dapat dilihat sebagai bentuk konkret sinergi dunia usaha yang mendukung agenda pemerintah kedua negara. 

Saat hubungan antarnegara diperkuat melalui kerja sama resmi, sektor korporasi turut memainkan peran penting dalam menerjemahkan peluang tersebut menjadi proyek dan inisiatif nyata yang berdampak langsung pada pembangunan ekonomi dan transformasi energi.

Kehadiran kerja sama ini juga memberi sinyal bahwa agenda energi bersih kini semakin menjadi bagian penting dalam hubungan strategis Indonesia dan Korea Selatan.

 Tidak hanya pada level kebijakan, tetapi juga melalui aksi nyata pelaku usaha yang memiliki kapasitas teknologi dan investasi besar.

Diharapkan Dukung Target NZE Dan Penurunan Emisi

Kerja sama mencakup kajian aspek teknis pada rantai teknologi rendah karbon, serta kajian non teknis untuk penerapan teknologi rendah karbon tersebut. 

Dengan demikian, kedua perusahaan tidak hanya akan melihat potensi teknologi dari sisi operasional, tetapi juga akan mempertimbangkan faktor pendukung lain seperti kesiapan implementasi, model bisnis, hingga peluang pengembangan jangka panjang.

Pendekatan ini penting karena pengembangan teknologi rendah karbon tidak bisa hanya bergantung pada kecanggihan teknologi semata. 

Diperlukan pula kajian menyeluruh agar penerapan di lapangan benar-benar efektif, ekonomis, dan sesuai dengan kebutuhan industri di masing-masing negara. Oleh sebab itu, aspek teknis dan non teknis menjadi bagian yang saling melengkapi dalam tahap awal kerja sama ini.

Sinergi dua perusahaan ini diharapkan dapat meningkatkan kerja sama bilateral dalam mencapai target penurunan emisi karbon, sehingga mendukung target Pemerintah untuk Net Zero Emission (NZE). 

Harapan tersebut memperlihatkan bahwa kolaborasi ini memiliki relevansi langsung terhadap agenda besar pemerintah dalam mewujudkan masa depan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, MoU antara Pertamina dan POSCO menjadi langkah awal yang penting dalam membangun kerja sama teknologi rendah karbon yang lebih konkret. 

Jika pengembangan ini berjalan sesuai rencana, maka sinergi kedua perusahaan berpotensi memberi kontribusi besar bagi percepatan transisi energi, penguatan ketahanan energi nasional, serta pencapaian target penurunan emisi karbon di Indonesia dan Korea Selatan.

Celo

Celo

Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Program B50 Diprediksi Dongkrak Impor Metanol Hingga 2,5 Juta

Program B50 Diprediksi Dongkrak Impor Metanol Hingga 2,5 Juta

Saka Energi Catat Hasil Positif Pemboran Sumur UPA-17ST Pangkah

Saka Energi Catat Hasil Positif Pemboran Sumur UPA-17ST Pangkah

Pupuk Indonesia Dorong Pabrik Metanol Dukung Mandatori Biodiesel B50

Pupuk Indonesia Dorong Pabrik Metanol Dukung Mandatori Biodiesel B50

Stok Beras Bulog Aman, Masyarakat Diminta Tak Panik Beli

Stok Beras Bulog Aman, Masyarakat Diminta Tak Panik Beli

Ekspor CPO Naik Berkat Hilirisasi, Sawit Makin Bernilai Tinggi

Ekspor CPO Naik Berkat Hilirisasi, Sawit Makin Bernilai Tinggi