JAKARTA - Transformasi besar yang dijalankan PT Folago Global Nusantara Tbk. (IRSX) mulai menunjukkan hasil nyata pada tahun buku 2025.
Emiten teknologi dan solusi digital ini berhasil membalikkan kinerja dari posisi rugi menjadi laba setelah serangkaian aksi korporasi penting, termasuk pergantian pengendali dan akuisisi dua perusahaan milik publik figur Baim Wong.
Perubahan tersebut menjadi titik balik yang memperlihatkan arah baru perseroan, baik dari sisi model bisnis, struktur operasional, hingga kualitas profitabilitas.
Baca JugaOSL Indonesia Luncurkan Launchpool Tether Gold XAUT Pertama di Indonesia
IRSX yang sebelumnya bernama PT Aviana Sinar Abadi Tbk. resmi diakuisisi oleh PT Matra Tri Abadi (MTA) pada Agustus 2025. Akuisisi itu menjadikan MTA sebagai pengendali baru sekaligus mengubah nama perusahaan menjadi PT Folago Global Nusantara Tbk.
Langkah korporasi ini kemudian diperkuat dengan akuisisi dua entitas milik Baim Wong, yakni PT Tiger Wong Internasional dan PT Jaya Gemilang Wong, yang diarahkan untuk memperkuat lini bisnis Multi Channel Networking (MCN) dan digital gift.
Perubahan struktur dan fokus bisnis tersebut menjadi fondasi penting bagi perbaikan kinerja perseroan. Meski pendapatan neto tercatat lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, IRSX justru mampu mengonversi model bisnis baru yang lebih efisien menjadi lonjakan laba yang signifikan.
Ini menunjukkan bahwa transformasi perusahaan tidak semata mengejar skala, tetapi juga menitikberatkan pada kualitas pendapatan dan efisiensi operasional.
Transformasi Bisnis Jadi Titik Balik Kinerja
Berdasarkan laporan keuangan yang berakhir pada 31 Desember 2025, IRSX membukukan pendapatan neto sebesar Rp410,11 miliar. Angka ini memang turun dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai Rp841,59 miliar.
Namun, penurunan tersebut terjadi seiring dengan perubahan bisnis inti perseroan yang kini bergeser ke lini usaha yang dinilai lebih efisien dan memiliki struktur margin yang lebih sehat.
Perubahan arah bisnis inilah yang menjadi pembeda utama dibandingkan kinerja sebelumnya. Dalam struktur pendapatan baru, produk digital tampil sebagai kontributor terbesar dengan nilai Rp291,75 miliar atau menyumbang 71,14 persen dari total pendapatan.
Kontribusi dominan ini memperlihatkan bahwa strategi perseroan untuk mengedepankan bisnis digital mulai membentuk basis pendapatan yang lebih kuat dan terukur.
Selain produk digital, jasa pemasaran digital juga memberi sumbangan penting dengan pendapatan sebesar Rp96,44 miliar. Sementara itu, komisi dan iklan menyumbang kontribusi gabungan sebesar Rp18,76 miliar, dan peranti lunak menambah Rp3,16 miliar.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa IRSX kini memiliki beberapa sumber pendapatan yang saling menopang dalam ekosistem digital yang sedang dibangun.
Akuisisi Perusahaan Baim Wong Perkuat Arah Baru Perseroan
Langkah akuisisi dua perusahaan milik Baim Wong menjadi bagian penting dari strategi pertumbuhan IRSX. Perseroan mengambil alih PT Tiger Wong Internasional dan PT Jaya Gemilang Wong untuk memperkuat bisnis Multi Channel Networking (MCN) dan digital gift.
Dua lini ini dinilai memiliki prospek besar di tengah perkembangan ekonomi kreatif dan meningkatnya aktivitas digital berbasis konten, komunitas, serta monetisasi platform.
Aksi korporasi tersebut tidak hanya memperluas cakupan bisnis, tetapi juga mempertegas repositioning IRSX sebagai emiten teknologi dengan fokus pada solusi digital yang lebih relevan terhadap tren pasar saat ini.
Dengan dukungan entitas yang telah memiliki basis usaha dan ekosistem tersendiri, IRSX berupaya membangun sinergi agar pertumbuhan bisnis dapat berlangsung lebih cepat dan efisien.
Dampak dari transformasi ini mulai tercermin pada kinerja laba. Laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat menjadi Rp25,30 miliar.
Capaian ini jauh melampaui raihan tahun sebelumnya, saat perseroan masih membukukan rugi sebesar Rp541,06 juta. Perubahan dari rugi menjadi laba tersebut menegaskan bahwa restrukturisasi bisnis dan aksi akuisisi mulai menghasilkan efek positif terhadap bottom line perusahaan.
Kinerja ini juga berdampak pada laba per saham dasar yang ikut terkerek menjadi Rp4,60. Sebelumnya, perseroan masih mencatat rugi per saham dasar sebesar Rp0,08.
Peningkatan ini menjadi indikator bahwa pemulihan kinerja tidak hanya terlihat pada level operasional, tetapi juga mulai tercermin pada nilai yang dapat dirasakan pemegang saham.
Efisiensi Operasional Dorong Lonjakan Profitabilitas
Salah satu faktor utama yang membuat IRSX mampu berbalik laba adalah pengendalian biaya yang lebih efektif. Beban pokok pendapatan tercatat di angka Rp355,88 miliar, jauh lebih terkendali dibandingkan sebelumnya sebesar Rp836,70 miliar.
Penurunan ini sejalan dengan perubahan model bisnis perseroan yang kini dinilai lebih efisien dan lebih mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan biaya operasional.
Dengan struktur biaya yang lebih sehat, pendapatan yang diperoleh berhasil dikonversi menjadi pertumbuhan laba yang sangat kuat. Karena itu, laba bruto melonjak 1007,73 persen menjadi Rp54,23 miliar dari sebelumnya Rp4,89 miliar.
Lonjakan ini menjadi salah satu sinyal paling kuat bahwa strategi transformasi IRSX berjalan efektif.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa walaupun pendapatan secara nominal menurun, kualitas pendapatan justru membaik. Dalam banyak kasus, penurunan pendapatan kerap dianggap negatif, tetapi pada IRSX hal ini justru menunjukkan pergeseran menuju model bisnis yang lebih efisien dan berorientasi pada profitabilitas jangka panjang.
Likuiditas Prima Buka Ruang Ekspansi Ke Depan
Selain perbaikan laba, posisi keuangan IRSX juga menunjukkan penguatan yang sangat signifikan. Hingga akhir Desember 2025, total aset perseroan melonjak 115,19 persen menjadi Rp360,23 miliar, dibandingkan posisi 31 Desember 2024 yang sebesar Rp167,40 miliar. Peningkatan ini terutama didorong oleh penguatan kas yang sangat masif.
Kas perseroan melesat 3.950 persen menjadi Rp110,15 miliar dari sebelumnya hanya Rp2,72 miliar. Lonjakan kas ini menandakan kondisi likuiditas yang sangat prima dan memberi ruang lebih besar bagi perseroan untuk mendukung rencana ekspansi di masa mendatang.
Dengan cadangan kas yang kuat, IRSX memiliki fleksibilitas yang lebih baik untuk menjalankan strategi bisnis lanjutan tanpa tekanan likuiditas yang berlebihan.
Di sisi lain, liabilitas tercatat naik menjadi Rp44,87 miliar. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh peningkatan utang usaha pihak ketiga sebesar Rp32,69 miliar seiring dengan meningkatnya volume operasional. Meski demikian, struktur permodalan perseroan tetap terlihat sehat.
Hal ini tercermin dari total ekuitas yang tumbuh 92,78 persen menjadi Rp315,36 miliar dari sebelumnya Rp163,58 miliar. Peningkatan ekuitas tersebut memperlihatkan fondasi modal yang kuat, dengan debt-to-equity ratio yang tetap terjaga rendah.
Secara keseluruhan, kinerja 2025 menegaskan bahwa IRSX tidak hanya berhasil berbalik laba setelah mengakuisisi perusahaan milik Baim Wong, tetapi juga memperkuat posisi keuangan untuk menopang ekspansi bisnis digital ke depan.
Celo
Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Berita Lainnya
PTPP Ungkap Strategi Perkuat Fundamental Keuangan Saat Rilis Kinerja 2025
- Jumat, 03 April 2026








