Tenancy Ratio Mitratel Naik 1,57 Kali Berkat Pertumbuhan Kolokasi
- Sabtu, 09 Mei 2026
JAKARTA – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel sukses membukukan peningkatan tenancy ratio pada kuartal I-2026. Hingga Maret 2026, rasio penyewaan menara Mitratel menanjak ke angka 1,57 kali.
Pertumbuhan tersebut selaras dengan kenaikan kolokasi Mitratel yang mencapai 11,3% secara tahunan atau Year on Year (YoY) menjadi 23.006 unit selama kurun waktu Januari–Maret 2026.
Kenaikan tenancy ratio ini juga didukung oleh langkah ekspansi para operator seluler ke wilayah luar Pulau Jawa. Saat ini, lebih dari 59% portofolio menara milik Mitratel berlokasi di luar Jawa, termasuk di area Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).
Baca JugaKredit BCA Naik 5,6 Persen per Maret 2026 Capai Rp994 Triliun
Sampai dengan Maret 2026, Mitratel tercatat mengelola sebanyak 40.327 menara atau mengalami pertumbuhan 1,9% secara tahunan. Pada saat yang sama, jaringan fiber optic perusahaan juga meningkat 17,3% YoY menjadi 72.842 km billable length.
Equity Analyst Panin Sekuritas, Aqil Triyadi, memberikan penilaian bahwa pertumbuhan yang bersumber dari kolokasi mempunyai kualitas yang lebih baik. Hal ini dikarenakan kolokasi mampu meningkatkan pendapatan tanpa memberikan perubahan signifikan pada struktur biaya.
Aqil menyatakan bahwa bagi perusahaan menara yang telah matang, poin utamanya bukan lagi sekadar menambah jumlah menara secara agresif, melainkan bagaimana mengoptimalkan aset yang telah tersedia agar menghasilkan pendapatan yang lebih besar.
“Ketika tenancy ratio naik, incremental revenue dari tenant tambahan biasanya memiliki margin yang lebih tinggi,” sebagaimana dilansir dari berita sumber, Jumat (8/5/2026).
Aqil menjabarkan lebih lanjut bahwa tenancy ratio MTEL memiliki potensi untuk terus menanjak seiring dengan diterapkannya program Internet Rakyat berbasis Fixed Wireless Access (FWA). Teknologi tersebut memang memerlukan sokongan infrastruktur menara telekomunikasi.
Berdasarkan pengamatannya, dua operator Internet Rakyat (IRA), yakni MyRepublic dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), mengusung target ekspansi layanan yang sangat agresif. Kondisi ini dapat menciptakan peluang tambahan kolokasi bagi perusahaan penyedia menara seperti MTEL.
“Target agresif kedua operator internet rakyat akan sulit dicapai jika seluruh kebutuhan infrastruktur dibangun sendiri karena opsi menyewa menara eksisting, termasuk milik MTEL,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Merujuk pada laporan keuangan per 31 Maret 2026, MTEL berhasil mengantongi pendapatan senilai Rp 2,29 triliun. Angka ini tumbuh 1,39% secara tahunan atau Year on Year (YoY) dari posisi sebelumnya Rp 2,26 triliun.
Dari sisi laba bersih, laba tahun berjalan Mitratel menyentuh Rp 545,05 miliar pada periode Januari–Maret 2026. Perolehan tersebut tumbuh 3,56% YoY jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 526,313 miliar.
Gemilang Ramadhan
Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Kolaborasi Nasional, Gerakan Indonesia ASRI Libatkan Semua Elemen Bangsa
- Kamis, 16 April 2026
Peran Krusial Tendik Dorong Kualitas Kampus Adaptif Berkelanjutan Nasional
- Jumat, 10 April 2026












