Harga Minyak Dunia Naik 3 Persen Akibat Ketegangan AS dan Iran
- Sabtu, 09 Mei 2026
HOUSTON – Harga minyak global sempat mengalami kenaikan tajam hingga 3 persen pada transaksi Jumat (8/5/2026) waktu setempat, dipicu oleh aksi saling serang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di kawasan Teluk. Namun, penguatan tersebut perlahan berkurang karena pelaku pasar berharap konflik tidak meluas dan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dapat segera kembali normal.
Berdasarkan data Reuters, harga minyak Brent ditutup menguat US$ 1,23 (1,23 persen) ke level US$ 101,29 per barel, setelah sebelumnya sempat melonjak sekitar 3 persen pada perdagangan intraday. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 61 sen (0,64 persen) ke posisi US$ 95,42 per barel.
Meski berakhir di zona hijau, kedua kontrak minyak tersebut masih mencatatkan koreksi mingguan lebih dari 6 persen akibat pasar yang masih dibayangi ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
Baca JugaIHSG Terkoreksi tetapi Saham FIRE dan MORA Naik Hingga 23 Persen
Mitra Again Capital, John Kilduff, menjelaskan bahwa pergerakan pasar saat ini sangat dinamis karena investor sedang menimbang antara peluang perdamaian atau risiko pecahnya konflik yang lebih besar, sebagaimana dilansir dari berita sumber:
“Kami berada di ambang terobosan negosiasi atau justru di ambang pecahnya kembali pertempuran. Situasi seperti ini sudah sering terjadi,” kata Kilduff.
Kilduff berpendapat bahwa pasar masih memiliki harapan pada kesepakatan awal yang dapat membuka ruang negosiasi lanjutan selama 30 hari antara AS dan Iran. Selama sesi perdagangan, harga minyak bergerak fluktuatif merespons dinamika di Timur Tengah serta pernyataan resmi dari pejabat kedua negara.
Analis senior Price Futures Group, Phil Flynn, melihat pasar sangat sensitif terhadap informasi mengenai perselisihan AS-Iran, sebagaimana dilansir dari berita sumber: “Pasar masih terus dimainkan oleh arus berita. Pergerakan kapal di Teluk Persia sejauh ini masih berlangsung relatif normal,” tutur Flynn.
Ketegangan kembali meningkat setelah militer AS dan Iran terlibat bentrokan di Teluk. Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan kembali menjadi sasaran serangan saat Washington menunggu respons Teheran terkait proposal penghentian konflik. Perseteruan ini bermula dari serangan udara gabungan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.
Presiden AS Donald Trump menyebutkan bahwa gencatan senjata masih berlangsung dan mencoba menenangkan pasar. Meski demikian, pada Jumat, Trump kembali memberikan ultimatum agar Iran menghentikan ambisi nuklirnya.
Analis PVM Oil Associates, John Evans, berpendapat bahwa dampak jangka panjang terhadap pasokan minyak mentah dunia masih sukar diprediksi sebelum tercapai solusi permanen, sebagaimana dilansir dari berita sumber:
“Seberapa cepat pasokan minyak dari negara-negara Teluk bisa kembali normal, bagaimana kondisi persediaan menjelang musim puncak konsumsi bensin, hingga seperti apa sanksi pascaperdamaian, semuanya masih belum jelas,” jelas Evans.
Di sisi lain, pendiri Vanda Insights, Vandana Hari, menilai pasar terlalu optimis terhadap kemungkinan meredanya konflik, sebagaimana dilansir dari berita sumber: “Pemerintah AS terus membesar-besarkan peluang terciptanya perdamaian dan pasar cenderung mempercayainya,” ucap Hari.
Dalam situasi ini, Reuters melaporkan bahwa CFTC AS tengah melakukan pengusutan terhadap transaksi minyak senilai US$ 7 miliar yang dilakukan menjelang pengumuman penting Trump soal perang Iran.
Sebagian besar transaksi tersebut berupa posisi short di bursa ICE dan CME yang dilakukan sebelum adanya pengumuman penundaan serangan atau gencatan senjata yang memicu jatuhnya harga minyak.
Gemilang Ramadhan
Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Kolaborasi Nasional, Gerakan Indonesia ASRI Libatkan Semua Elemen Bangsa
- Kamis, 16 April 2026
Peran Krusial Tendik Dorong Kualitas Kampus Adaptif Berkelanjutan Nasional
- Jumat, 10 April 2026












