Minggu, 10 Mei 2026

Saham BUMI Turun 6,09 Persen dan Kembali ke Posisi Awal Pekan Ini

Saham BUMI Turun 6,09 Persen dan Kembali ke Posisi Awal Pekan Ini
Ilustrasi Tambang batu bara BUMI, (Sumber Gaambar: net).

JAKARTA – Saham emiten pertambangan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sempat konsisten berada di zona hijau pada pekan terakhir bulan lalu, tepatnya pada periode 27-30 April 2026.

Dari harga Rp 216 pada 24 April (pekan sebelumnya), saham BUMI melonjak 11,11% ke level Rp 240 pada penutupan 30 April.

Namun, kondisi tersebut berbalik arah pada pekan ini. Saham BUMI tercatat dua kali mengalami penurunan dan tiga kali stagnan.

Baca Juga

Harga Emas Antam Naik Jadi Rp2.585.000 per Gram Hari Ini

Penurunan BUMI pada 4 Mei mencapai -4,17% dan pada 8 Mei kemarin jatuh sebesar -6,09%. Hal ini menyebabkan saham BUMI kembali ke ‘titik awal’ di harga Rp 216, sama dengan posisi penutupan 24 April lalu, sebelum sempat melesat pada 27-30 April.

Salah satu faktor yang memicu pelemahan saham BUMI adalah adanya aksi jual oleh investor asing. Pada 4 Mei, net sell asing tercatat sebesar Rp 114,62 miliar dan pada 8 Mei berjumlah Rp 82,88 miliar.

Dalam kurun waktu satu pekan terakhir, saham emiten milik Grup Bakrie dan Salim ini membukukan net sell asing total Rp 195,7 miliar.

Kiwoom Sekuritas dalam hasil hitung-hitungannya kemarin menyebutkan bahwa support pertama saham BUMI berada pada level 229 dan support kedua pada 226. Sementara itu, titik stoploss ditetapkan pada level 222.

Sebelumnya, BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menyebutkan adanya sentimen negatif di sektor pertambangan.

Menurut broker efek tersebut, pemerintah kini tengah mengkaji kenaikan royalti minerba melalui revisi PP 19/2025, sekaligus membuka opsi untuk penerapan skema bagi hasil layaknya migas untuk sektor tambang.

Potensi dampak bagi emiten pertambangan, menurut BRIDS, di antaranya adalah margin laba yang berpotensi tertekan akibat meningkatnya beban royalti.

Selain itu, ketidakpastian regulasi dapat menahan laju ekspansi dan investasi, sehingga sentimen pasar terhadap sektor tambang cenderung negatif dalam jangka pendek.

"Namun di sisi lain, kebijakan ini dapat meningkatkan penerimaan negara di tengah tingginya harga komoditas global," sebut BRIDS dalam ulasannya pada Jumat (8/5/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Gemilang Ramadhan

Gemilang Ramadhan

Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

IHSG Menguat dan Investor Asing Borong Saham 11 Triliun Rupiah

IHSG Menguat dan Investor Asing Borong Saham 11 Triliun Rupiah

Harga Emas Antam Naik Jadi Rp2.585.000 per Gram Hari Ini

Harga Emas Antam Naik Jadi Rp2.585.000 per Gram Hari Ini

Utang Global Tembus 6.133 Kuadriliun Rupiah dan Diversifikasi Investor

Utang Global Tembus 6.133 Kuadriliun Rupiah dan Diversifikasi Investor

 Saham EURO Melesat 1,342 Persen dan Lepas dari Papan Pemantauan Khusus

Saham EURO Melesat 1,342 Persen dan Lepas dari Papan Pemantauan Khusus

LTLS Bagikan Laba Bersih 30,37 Persen sebagai Dividen

LTLS Bagikan Laba Bersih 30,37 Persen sebagai Dividen