Breaking

Saham Teknologi Tekan Nasdaq di Tengah Kekhawatiran Sentimen AI

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Jumat, 26 Juni 2026
 Saham Teknologi Tekan Nasdaq di Tengah Kekhawatiran Sentimen AI
ILUSTRASI, Saham sektor teknologi menekan indeks Nasdaq di tengah kekhawatiran pengeluaran AI. (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – Indeks utama bursa Wall Street mencatatkan hasil penutupan yang bervariasi atau mixed pada akhir sesi perdagangan Kamis (25/6/2026), akibat terseret oleh pelemahan saham-saham di sektor teknologi raksasa. Indeks Dow Jones Industrial Average mengalami kenaikan sebesar 71,72 poin atau 0,14 persen menuju posisi 51.920,62. Sementara itu, indeks S&P 500 mengalami penurunan tipis 0,73 poin atau 0,01 persen ke level 7.357,49, dan indeks Nasdaq Composite merosot hingga 118,03 poin atau 0,46 persen ke level 25.358,60.

Dari total 11 sektor utama yang ada di S&P 500, sebanyak enam sektor berhasil menguat, dengan sektor industri menjadi pemimpin laju kenaikan sebesar 2,2 persen. 

Sebaliknya, saham-saham pada sektor barang konsumsi non-esensial dan esensial mencatatkan koreksi paling dalam, sedangkan saham di bidang teknologi terpantau mengalami penurunan sebesar 0,1 persen.

Aktivitas perdagangan di bursa saham Amerika Serikat mencatatkan volume sebesar 20,34 miliar saham, angka yang lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata volume perdagangan dalam 20 hari terakhir yang mencapai 23,04 miliar saham. 

Pergerakan saham teknologi yang berbalik melemah menaruh beban berat pada indeks Nasdaq karena para pelaku pasar mulai mengkhawatirkan besarnya nilai pengeluaran yang digelontorkan oleh perusahaan-perusahaan raksasa demi pengembangan kecerdasan buatan.

Adanya kekhawatiran tersebut pada akhirnya mengabaikan sinyal-sinyal positif terkait tingginya permintaan kecerdasan buatan yang sempat ditunjukkan oleh Micron dan Qualcomm. Kondisi ini menempatkan Nasdaq dalam tren penurunan bulanan paling besar sejak periode Maret 2025.

Saham Apple Inc. mengalami penurunan sebesar 6,1 persen setelah perusahaan mengambil langkah menaikkan harga perangkat iPad serta MacBook untuk menutup pembengkakan biaya pengadaan chip memori dan ruang penyimpanan. Langkah ini diikuti pula oleh saham Nvidia, Microsoft, serta Alphabet yang kompak melemah di kisaran 0,5 persen hingga 3,5 persen.

Di sisi lain, saham Micron berhasil melonjak signifikan sebesar 15,7 persen usai rilis performa pendapatan serta proyeksi bisnis mereka sukses melewati target estimasi Wall Street. 

Kendati demikian, kecemasan pasar terhadap pembengkakan pengeluaran yang berbasis utang oleh perusahaan-perusahaan skala hyperscale, ditambah kekhawatiran akan pengetatan kebijakan moneter oleh Federal Reserve, tetap memberikan tekanan yang kuat di pasar.

”Pasar menyadari bahwa pendapatan dan laba luar biasa dari satu perusahaan berarti pihak lain yang akan menanggung akibatnya di kemudian hari,” sebagaimana dilansir dari berita sumber. ”Agar Micron dapat menghasilkan pendapatan dan laba sebesar itu, itu berasal dari pihak lain,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sementara itu, saham produsen chip memori Sandisk berhasil meroket hingga 22 persen. Penguatan ini juga menular pada performa saham Qualcomm, Western Digital, serta Seagate Technology yang sama-sama membukukan kenaikan harga saham.

Pada hari yang sama, Departemen Perdagangan AS memublikasikan rilis sejumlah data ekonomi teranyar. Angka inflasi di Amerika Serikat terpantau merangkak naik pada Mei, hingga berhasil menembus level 4,0 persen untuk pertama kalinya dalam kurun waktu tiga tahun terakhir akibat dipicu oleh tingginya harga komoditas energi.

Situasi perkembangan inflasi ini berpotensi besar menjadi stimulus bagi Federal Reserve untuk kembali mengerek suku bunga acuan mereka. 

Mengacu pada data yang dihimpun LSEG, para pelaku pasar kini memproyeksikan bahwa The Fed bakal menaikkan tingkat suku bunga setidaknya sebesar 25 basis poin sebelum pergantian tahun ini.

Di samping itu, hasil rilis akhir untuk data PDB pada kuartal pertama menunjukkan indikator ekonomi Amerika Serikat tumbuh di angka 2,1 persen, lebih tinggi dari proyeksi awal yang berada di angka 1,6 persen. 

Pada waktu yang sama, rilis data klaim pengangguran memperlihatkan adanya penurunan jumlah warga negara Amerika yang mengajukan permohonan tunjangan, dengan angka penurunan yang lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.

”Inflasi cukup tinggi, seperti yang diperkirakan orang, tetapi tidak terlalu tinggi,” sebagaimana dilansir dari berita sumber. ”Kecurigaannya adalah, dengan harga minyak yang turun, Anda akan melihat inflasi terus sedikit mendingin saat kami memasuki bulan-bulan musim panas dan musim gugur,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua