Breaking

Sentimen FTSE Terbatas, Saham Big Caps Topang IHSG Naik 0,72 Persen

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Selasa, 26 Mei 2026
Sentimen FTSE Terbatas, Saham Big Caps Topang IHSG Naik 0,72 Persen
Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) (Foto: NET)

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup sesi transaksi pada hari Senin (25/5/2026) di teritori positif pada level 6.206,349 setelah mencatatkan pertumbuhan sebesar 0,72 persen.

Laju pergerakan pasar saham dalam negeri terpantau konsisten berada di jalur hijau meskipun sempat dibayangi sentimen kurang menguntungkan terkait kabar dikeluarkannya sejumlah saham emiten Indonesia dari jajaran indeks global FTSE Russell.

Merujuk pada data yang dipublikasikan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), faktor pendorong utama di balik apresiasi indeks kali ini bersumber dari kenaikan harga kelompok saham sektor perbankan berkapitalisasi pasar jumbo. 

Kelompok saham berstatus big caps tersebut memang memiliki porsi bobot yang amat dominan dalam menentukan arah pergerakan bursa saham domestik.

Analis Senior Pasar Modal dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, memaparkan bahwa dampak dari kegiatan penataan ulang (rebalancing) indeks FTSE kali ini tergolong relatif terbatas.

Dalam penilaiannya, jajaran emiten yang didepak tersebut tidak mempunyai pengaruh yang besar dalam menyetir arah laju indeks utama pasar modal Tanah Air.

Nafan juga menambahkan bahwa saham-saham dengan kapitalisasi pasar super besar seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI), serta PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM) sampai saat ini tetap berdiri kokoh sebagai pilar utama penopang pergerakan IHSG.

"Saham yang keluar seperti DSSA memang memiliki kapitalisasi pasar yang cukup besar, namun bobotnya terhadap pergerakan harian IHSG tidak sesignifikan saham super big caps seperti BBRI, BBCA, BMRI, atau TLKM," ujar Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sentimen negatif yang bersumber dari keputusan pihak FTSE sebelumnya sempat memicu tekanan jual pada saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) hingga merosot sebesar 11,93 persen ke level Rp 480.

Di sepanjang sesi perdagangan, saham kepunyaan entitas Grup Sinar Mas ini terpantau bergerak dengan tingkat volatilitas yang tinggi sebelum akhirnya mendarat di area terendah harian, menyusul pengumuman penghapusan dari kategori large cap FTSE Global Equity Index Series (GEIS) akibat kendala tingginya konsentrasi kepemilikan saham (HSC).

Meski demikian, kejatuhan tajam pada saham DSSA mampu diimbangi oleh maraknya aksi beli yang menyasar saham-saham perbankan kelas kakap. Saham BBRI tercatat melonjak hingga 3,93 persen menuju posisi Rp 3.170.

Diikuti oleh saham BBCA yang menguat 3,39 persen ke level Rp 6.100, saham BMRI yang menanjak 2,43 persen ke angka Rp 4.220, serta saham TLKM yang turut terangkat sebesar 0,34 persen ke posisi Rp 2.930.

Spesialis Investasi dari PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, juga menyampaikan pandangannya bahwa ketangguhan yang diperlihatkan oleh indeks saham domestik membuktikan daya pengaruh dari indeks FTSE ini tidak sekuat indeks global populer lainnya, seperti MSCI.

"Ketahanan IHSG hari ini menunjukkan bahwa sentimen rebalancing FTSE memang tidak terlalu berdampak signifikan karena porsi indeks tersebut terhadap IHSG relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan MSCI," kata Azharys Hardian, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di samping pengaruh faktor eksternal tersebut, para pelaku pasar saat ini juga sedang mengantisipasi potensi terbatasnya tingkat likuiditas transaksi perdagangan sepanjang pekan ini. Situasi tersebut seiring dengan momentum pasar modal Indonesia yang tengah memasuki periode minggu perdagangan pendek (short trading week).

Jumlah hari perdagangan yang terhitung singkat tersebut diperkirakan dapat memicu peningkatan volatilitas pasar dalam jangka pendek. Potensi risiko pergerakan fluktuatif ini terutama diwaspadai jika terjadi gelombang aksi ambil untung (profit taking) pada deretan saham berkapitalisasi pasar besar yang sebelumnya telah memimpin penguatan indeks.

Untuk proyeksi pergerakan hari Selasa (26/5/2026), IHSG diperkirakan berpotensi untuk bergerak fluktuatif dalam kisaran level 6.150 hingga 6.300. 

Peluang terjadinya pembalikan arah secara teknikal dinilai masih terbuka cukup lebar, dengan catatan kelompok saham perbankan besar tetap konsisten menjalankan perannya sebagai motor penggerak utama di lantai bursa.

Sebagai informasi tambahan, lembaga FTSE Russell sebelumnya telah merilis keputusan penghapusan terhadap empat saham asal Indonesia dari keanggotaan indeks FTSE GEIS lewat laporan June 2026 Quarterly Review.

Selain saham DSSA, saham PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) turut dikeluarkan dari kategori micro cap karena porsi kepemilikan saham publik berada di bawah batas minimal, sementara saham PT Hillcon Tbk (HILL) dan PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA) didepak lantaran dinilai tidak lolos kriteria penapisan pengawasan saham.

Seluruh langkah perombakan susunan portofolio indeks global oleh lembaga pemeringkat internasional tersebut dijadwalkan akan mulai berlaku secara efektif setelah penutupan sesi perdagangan pada tanggal 19 Juni 2026.

Meski begitu, manajemen FTSE Russell mengonfirmasi bahwa mereka tetap membuka ruang untuk melakukan proses penyesuaian atau revisi data hingga batas waktu tanggal 5 Juni 2026.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua