Breaking

Harga Emas Dunia Terperosok ke Level US$ 4.434 Per Ons Troi

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 04 Juni 2026
Harga Emas Dunia Terperosok ke Level US$ 4.434 Per Ons Troi
Ilustrasi Emas (Sumber Gambar : Net)

NEW YORK – Nilai komoditas emas global merosot secara signifikan pada sesi transaksi Rabu (3/6/2026). Hal ini terjadi di tengah kecemasan pasar bahwa eskalasi konflik geopolitik yang memicu lonjakan inflasi akan memaksa tingkat suku bunga bertahan di level tinggi dalam periode yang lebih panjang.

Nilai emas di pasar spot terperosok 1,19% dan berakhir di posisi US$ 4.434,5 per ons troi. Di waktu yang sama, kontrak emas berjangka AS juga mengalami penyusutan sebesar 1,27% menuju level US$ 4.462,7 per ons troi.

Berdasarkan laporan Reuters, para investor masih memantau secara ketat situasi konflik di kawasan Timur Tengah. Situasi geopolitik kembali memanas menyusul kabar serangan Iran ke Kuwait yang merusak fasilitas bandara dan mengakibatkan puluhan orang mengalami luka-luka.

Pada saat bersamaan, angkatan bersenjata Amerika Serikat (AS) menggelar operasi militer di kawasan Selat Hormuz. Sementara itu, langkah-langkah diplomasi yang dilakukan untuk meredakan ketegangan hingga kini belum membuahkan hasil yang signifikan.

Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger menilai bahwa fluktuasi harga emas saat ini sangat terdampak oleh memanasnya hubungan antara AS dan Iran sebagaimana dilansir dari berita sumber.

“Seiring konflik yang semakin intensif, harga energi berpotensi naik dan mendorong ekspektasi inflasi. Kondisi tersebut dapat memicu suku bunga yang lebih tinggi, memperkuat dolar AS, dan pada akhirnya memberi tekanan tambahan terhadap harga emas,” ujar Meger.

Walaupun emas umumnya dinilai sebagai aset pelindung dari risiko inflasi, komoditas logam mulia ini biasanya menjadi kurang atraktif saat suku bunga berada di level tinggi karena sifatnya yang tidak menghasilkan imbal hasil (yield).

Beban yang menekan posisi emas juga dipicu oleh apresiasi mata uang dolar AS serta kenaikan harga minyak mentah. Indeks dolar AS dilaporkan membukukan penguatan selama tiga hari berturut-turut, yang mengakibatkan transaksi emas dalam mata uang dolar menjadi lebih mahal bagi para pelaku pasar luar negeri.

Terkait arah kebijakan moneter, Presiden The Fed Bank New York John Williams menyatakan bahwa belum ada urgensi bagi bank sentral AS untuk menyesuaikan level suku bunga jangka pendek dalam waktu dekat sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Akan tetapi, Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack memberikan pandangan bahwa bank sentral AS berpeluang mengerek kembali suku bunga jika tekanan inflasi yang sudah tinggi terus merangkak naik sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Para pelaku pasar sekarang tengah mencermati data indikator ketenagakerjaan AS, terutama rilis nonfarm payrolls (NFP) periode Mei yang dijadwalkan keluar pada Jumat (6/6/2026). Informasi ini dinilai krusial untuk memproyeksikan langkah kebijakan suku bunga The Fed selanjutnya.

Di sisi lain, laporan ADP sebelumnya telah menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja di sektor swasta AS sepanjang bulan Mei tumbuh melampaui prediksi pasar.

Tren penurunan ini juga diikuti oleh komoditas logam mulia lainnya yang turut terdepresiasi. Nilai perak spot terpangkas 2,2% ke level US$ 73,40 per ons troi, platinum anjlok 3,5% menjadi US$ 1.868,58 per ons troi, serta paladium melemah hingga 3,5% ke angka US$ 1.321,97 per ons troi.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua