Breaking

Bio Farma Cs Targetkan EBITDA Rp1,55 Triliun dan Laba pada 2026

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Rabu, 10 Juni 2026
Bio Farma Cs Targetkan EBITDA Rp1,55 Triliun dan Laba pada 2026
ILUSTRASI, PT Bio Farma (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA — Holding BUMN farmasi yang dipimpin oleh PT Bio Farma (Persero) merasa optimistis dapat meneruskan tren positif pada tahun 2026. Hal ini menyusul keberhasilan mereka dalam membalikkan kinerja operasional pada tahun 2025 dengan meraih EBITDA positif sebesar Rp827 miliar, setelah sebelumnya pada tahun 2024 sempat berada di zona negatif.

Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya, mengungkapkan bahwa tahun 2024 menjadi masa-masa yang penuh dengan tantangan bagi kelompok usaha farmasi milik negara tersebut. 

Pada periode itu, pendapatan konsolidasi yang dikumpulkan adalah sebesar Rp15,1 triliun, yang berasal dari Bio Farma sebesar Rp5,2 triliun, PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) Senilai Rp9,9 triliun, dan PT Indofarma Tbk. (INAF) sebanyak Rp210 miar. 

Walaupun Bio Farma masih mampu meraih EBITDA positif sebesar Rp539 miliar, secara akumulatif EBITDA grup justru tercatat negatif karena kinerja Kimia Farma dan Indofarma yang masih mengalami tekanan.

Apabila dilihat dari sisi laba bersih, holding farmasi ini menanggung kerugian konsolidasi mencapai Rp1,08 triliun pada tahun 2024. 

Kerugian tersebut disebabkan oleh jebloknya kinerja Kimia Farma dengan rugi Rp1,2 triliun dan Indofarma sebesar Rp334 miliar, kendati Bio Farma sendiri sebenarnya masih mencetak laba sebesar Rp418 miliar.

Namun begitu, bermacam langkah perbaikan yang diterapkan di sepanjang tahun 2025 sudah mulai membuahkan hasil. 

Walau pendapatan konsolidasi mengalami penurunan tipis menjadi Rp14,67 triliun karena keterbatasan modal kerja, tingkat profitabilitas operasional grup justru menunjukkan peningkatan yang sangat berarti.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Namun, di tahun 2025 kami sudah mencatatkan EBITDA yang positif, nampak di sini dari Rp14,6 triliun, 827 adalah EBITDA-nya, yang bersyukur bahwa ini kami bisa mencatatkan kinerja EBITDA yang positif," tutur Shadiq ketika menghadiri rapat kerja bersama Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada hari Selasa (9/6/2026).

Ia menambahkan bahwa Bio Farma bertindak sebagai penyumbang paling besar dengan raihan EBITDA Rp580 miliar. Di sisi lain, Kimia Farma sukses menciptakan turnaround dari posisi EBITDA negatif Rp348 miliar pada tahun 2024 menjadi positif Rp245 miliar pada tahun 2025. 

Untuk Indofarma, meskipun masih mencatatkan EBITDA negatif sebesar Rp112 miliar, angka ini terpantau membaik jika disandingkan dengan posisi negatif Rp225 miliar pada tahun sebelumnya.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Secara umum dengan EBITDA yang positif ini sangat memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan keuntungan," kata Shadiq.

Pemulihan ini pun terlihat pada pos laba bersih konsolidasi. Kerugian yang dialami holding farmasi menyusut secara tajam menjadi Rp45 miar pada tahun 2025 dari yang sebelumnya Rp1,08 triliun di tahun lalu. 

Bio Farma mencatatkan laba bersih senilai Rp345 miliar, sementara kerugian Kimia Farma susut menjadi Rp443 miliar dari yang sebelumnya Rp1,2 triliun. Indofarma dinilai masih membukukan kerugian, akan tetapi memperlihatkan tren yang membaik dibandingkan dengan tahun-tahun terdahulu.

Shadiq berpendapat, pemulihan performa ini disokong oleh kesuksesan proses restrukturisasi keuangan yang telah diimplementasikan lebih dari satu tahun pada beberapa anak perusahaan, termasuk Kimia Farma beserta entitas afiliasinya. 

Di samping restrukturisasi, manajemen juga melaksanakan efisiensi operasional lewat pengendalian harga pokok penjualan serta penghematan biaya penjualan dan administrasi di seluruh sektor bisnis.

Holding BUMN Farmasi Membidik EBITDA Rp1,55 Triliun pada 2026

Memasuki tahun 2026, holding BUMN farmasi mematok target pendapatan mencapai Rp15,9 triliun seperti yang dicantumkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP). Target tersebut ditopang oleh Bio Farma sebesar Rp5,5 triliun, Kimia Farma Rp10,4 triliun, dan Indofarma Rp351 miar.

Pihak perseroan juga menargetkan perolehan EBITDA sebesar Rp1,55 triliun, yang terdiri atas andil Bio Farma Rp620 miliar, Kimia Farma Rp868 miliar, serta Indofarma Rp48 miliar. 

Melalui ketetapan target ini, holding farmasi berharap bisa kembali meraup laba bersih konsolidasi di kisaran Rp2 miliar pada pengujung tahun 2026.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "[Laba bersih] Bio Farma [sendiri sesuai RKAP] harus mencapai Rp246 miliar, kemudian Kimia Farma ini walaupun masih negatif [rugi] Rp268 miliar, dan Indofarma itu [laba Rp13 miliar]," urai Shadiq.

Sampai dengan kuartal I/2026, performa grup memperlihatkan pergerakan tren yang selaras dengan target. Penjualan konsolidasi tercatat sudah menyentuh Rp2,7 triliun dengan perolehan EBITDA sebesar Rp320 miliar serta laba bersih senilai Rp175 miliar secara unaudited.

Ke depannya, Bio Farma bakal meneruskan transformasi bisnis lewat penguatan penjualan produk yang memiliki margin lebih tinggi, merilis produk baru, sekaligus menekan ketergantungan terhadap produk-produk generik yang tingkat profitabilitasnya lebih rendah.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Kami juga harus merubah portfolio dari produk-produk yang generik salah satunya di produk farmasi, dan juga di Bio Farma ini harus merubah portofolionya dari produk-produk yang lama, sekarang harus diimbangi dengan produk-produk yang baru," pungkasnya.

Pihak manajemen turut menilai bahwa langkah pergeseran portofolio produk serta kedisiplinan dalam efisiensi operasional akan menjadi elemen krusial demi menjaga tren pemulihan kinerja sekaligus merealisasikan target laba di tahun 2026.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua