MOLI Alokasikan Capex Rp350 Miliar demi Genjot Kapasitas Etanol
JAKARTA – Emiten produsen etanol PT Madusari Murni Indah Tbk. (MOLI) atau Molindo mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar Rp350 miliar pada 2026 untuk menggenjot kapasitas produksi etanol dan liquid CO2.
Direktur MOLI Jose G. Tan memaparkan bahwa dana investasi tersebut bakal dimanfaatkan guna membangun fasilitas distilasi baru, lini produksi liquid CO2, boiler, serta beragam alat penunjang lainnya.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Capex sekitar Rp350 miliar dengan sumber dari pendanaan perbankan dan kas internal," ujar Jose dalam paparan publik, Selasa (9/6/2026).
Lewat investasi ini, Molindo menargetkan adanya peningkatan kapasitas produksi sekaligus efisiensi dalam proses manufaktur. Perusahaan juga melihat kesempatan untuk mengembangkan produk etanol premium yang memiliki spesifikasi lebih tinggi guna memenuhi kebutuhan industri tertentu.
Menurut Jose, salah satu lini yang memperlihatkan pertumbuhan permintaan ialah etanol berkualitas tinggi untuk industri kosmetik, parfum, serta farmasi.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Permintaan etanol tertentu seperti kosmetik dan farmasi masih kuat. Penjualan domestik juga cukup kuat," katanya.
Perusahaan menargetkan operasional fasilitas baru tersebut dapat berjalan secara bertahap sampai September 2027. Melalui suntikan investasi itu, kapasitas produksi etanol yang berbasis molase bakal melonjak dari kisaran 80 juta liter per tahun menjadi 100 juta liter per tahun.
Bukan cuma mendongkrak kapasitas etanol, MOLI pun memperlebar bisnis liquid CO2 yang dinilai punya prospek cerah seiring naiknya permintaan dari industri makanan dan minuman serta manufaktur.
KEBIJAKAN E5
Molindo juga mengincar peluang dari penerapan program mandatori pencampuran bioetanol 5% (E5) yang diagendakan mulai berjalan pada Juli 2026. Jose membeberkan bahwa perusahaan telah dipilih untuk menyuplai kebutuhan bioetanol di area Jawa Timur kepada Pertamina.
Menurutnya, regulasi tersebut berpeluang menjadi motor pertumbuhan baru bagi industri etanol di dalam negeri.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Program E5 menjadi salah satu peluang Molindo," ujarnya.
Ia menguraikan bahwa implementasi program E5 bakal diteruskan menuju E10 pada 2028. Kebijakan tersebut diproyeksikan memicu kebutuhan fuel-grade ethanol hingga berkisar 1,2 juta kiloliter pada 2030.
Saat ini, MOLI mempunyai kapasitas terpasang fuel-grade ethanol berkisar 10 juta liter per tahun. Dari total volume tersebut, sekitar 4 juta liter telah diserap demi kebutuhan industri sehingga masih terdapat ruang produksi sekitar 6 juta liter yang bisa dioptimalkan demi menyokong program campuran bioetanol nasional.
Di tengah penurunan harga etanol global serta ketidakpastian ekonomi imbas konflik yang masih bergejolak di Timur Tengah, pihak manajemen tetap merasa optimistis bisa menjaga tren kinerja positif pada tahun ini.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Kami optimistis bisa mencapai kinerja seperti 2025, meskipun harus melihat berbagai faktor eksternal seperti El Nino maupun kenaikan harga bahan baku," kata Jose.
Pada 2025, MOLI mencatatkan penjualan bersih senilai Rp1,49 triliun, atau tumbuh 7,6% ketimbang Rp1,39 triliun pada 2024.
Laba kotor perusahaan terkerek 40,5% menjadi Rp435,81 miliar dari Rp310,20 miliar pada tahun sebelumnya. Margin laba kotor pun merangkak naik menjadi 29,1% dari 22,3%.
Sementara itu, laba bersih melesat hingga 424,5% menjadi Rp93,11 miliar jika dibandingkan dengan Rp17,75 miliar pada 2024. Margin laba bersih ikut naik menjadi 6,2% dari yang sebelumnya 1,3%.
Selaras dengan perbaikan performa tersebut, perusahaan juga memiliki rencana untuk mengucurkan dividen berkisar Rp20 miliar kepada para pemegang saham dari keuntungan tahun buku 2025.