Breaking

Rupiah Diproyeksikan Melemah ke Rp17.850 per Dolar AS Hari Ini

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Senin, 22 Juni 2026
Rupiah Diproyeksikan Melemah ke Rp17.850 per Dolar AS Hari Ini
ILUSTRASI, rupiah dollar (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – Nilai tukar rupiah diperkirakan bakal melemah ke rentang Rp17.800 sampai Rp17.850 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Senin (22/6/2026).

Merujuk pada data RTI Infokom, mata uang Indonesia sebenarnya sempat menguat 0,24% dan ditutup pada level Rp17.797 per dolar AS pada hari Jumat (19/6/2026). Di lain sisi, situasi mata uang di kawasan Asia Pasifik bergerak secara variatif. 

Mata uang yuan China terpangkas 0,32%, dolar Hong Kong melemah 0,01%, sedangkan yen Jepang berhasil menguat 0,06%. Selanjutnya, won Korea Selatan menanjak 0,68%, dolar Singapura menyusut 0,09%, baht Thailand terdepresiasi 0,18%, serta dolar Taiwan merosot 0,02%.

Berdasarkan analisis dari pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi, kondisi psikologis pasar memperlihatkan pemulihan yang signifikan setelah tercapainya kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran. 

Kesepakatan tersebut dilakukan guna menghentikan konflik sekaligus memulihkan kembali jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz, yang merupakan rute air krusial bagi pengiriman sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Kesepahaman itu melahirkan optimisme bahwa jutaan barel minyak mentah yang sebelumnya mandek dapat disalurkan kembali ke pasar global secara bertahap dalam waktu dekat. 

Pihak AS memvalidasi telah menghentikan blokade terhadap Iran pada hari Kamis bersamaan dengan dimulainya implementasi kesepakatan sementara tersebut. 

Menurut kabar yang beredar, iringan kapal yang membawa minyak yang sempat tertahan pun sudah mulai bergerak keluar dari selat tersebut pada hari Kamis.

Di samping itu, sentimen dari The Fed mengindikasikan bahwa sembilan dari 19 otoritas pembuat kebijakan memproyeksikan akan ada minimal satu kali lagi peningkatan suku bunga acuan hingga akhir tahun ini. 

Situasi ini memperkuat dugaan pasar bahwa biaya pinjaman bakal bertahan pada level tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. The Fed sendiri memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan pada hari Rabu, namun pernyataan dari Ketua Kevin Warsh dianggap oleh para pelaku pasar cenderung sangat agresif (hawkish). 

Hal tersebut memicu kenaikan imbal hasil obligasi negara sekaligus memperkuat dolar AS hingga mencapai level tertingginya dalam periode lebih dari satu tahun.

Sementara dari dalam negeri, Ibrahim memaparkan bahwa sentimen datang dari langkah Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang secara resmi mengeluarkan peringkat kriteria arus informasi. 

Lembaga keuangan tersebut menetapkan peringkat kriteria arus informasi (information flow) untuk Indonesia berstatus negatif melalui laporan 2026 Global Market Accessibility Review. 

Langkah ini diambil setelah MSCI kembali menyoroti permasalahan terkait keterbukaan struktur kepemilikan saham serta adanya indikasi aktivitas perdagangan semu atau transaksional yang terkoordinasi pada bursa saham domestik.

Kendati demikian, MSCI menegaskan status Indonesia tetap berada dalam kelompok negara berkembang atau Emerging Market lantaran Indonesia dianggap mempunyai nilai positif dalam hal keterbukaan pasar. 

Faktor inilah yang mendasari MSCI untuk tetap menempatkan Indonesia pada kategori pasar berkembang, setelah sebelumnya sempat memunculkan sinyal penurunan status. 

Penegasan ini pun kembali membangkitkan optimisme pasar bahwa dana investasi asing akan kembali mengalir deras ke sektor keuangan Indonesia.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua