Breaking

Wall Street Beragam, Sektor Teknologi Terseret Saham Alphabet

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Selasa, 23 Juni 2026
Wall Street Beragam, Sektor Teknologi Terseret Saham Alphabet
Ilustrasi: Saham Alphabet turun 5 persen, menyeret pelemahan indeks S&P 500 dan Nasdaq. (Gambar: NET)

NEW YORK – Indeks utama di bursa saham Wall Street mencatatkan pergerakan yang bervariasi pada penutupan perdagangan hari Selasa. Indeks S&P 500 dan Nasdaq harus rela terperosok ke zona merah lantaran terbebani oleh koreksi pada saham-saham teknologi raksasa, termasuk Alphabet, di kala perhatian para pelaku pasar tertuju pada proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.

Indeks Dow Jones Industrial Average melaju positif dengan kenaikan 148,01 poin atau 0,29 persen ke posisi 51.712,71. Di lain pihak, S&P 500 terkoreksi 27,79 poin atau 0,37 persen ke level 7.472,79, sementara Nasdaq Composite merosot tajam hingga 351,33 poin atau 1,32 persen ke angka 26.166,60.

Dari 11 sektor utama dalam S&P, sebanyak tujuh sektor berhasil ditutup di zona hijau, di mana sektor real estat dan energi bertindak sebagai motor penggerak utama. 

Sebaliknya, sektor Layanan Komunikasi terpuruk dengan penurunan 3,8 persen, namun Dow Jones sanggup bertahan berkat sokongan dari performa sektor industri dan perawatan kesehatan.

Saham SpaceX terpantau anjlok signifikan sebesar 16,4 persen, menorehkan penurunan harian paling tajam sekaligus memberikan tekanan yang cukup berat pada Nasdaq Composite. 

Adapun volume transaksi perdagangan di bursa AS menyentuh angka 22,97 miliar saham, melampaui rata-rata perdagangan 20 hari terakhir yang berada di angka 22,12 miliar saham.

Mengenai performa saham Alphabet, korporasi ini masih bergerak di atas harga penawaran umum perdana senilai US$ 135 per lembar saham. 

Perusahaan yang dikomandoi oleh Elon Musk tersebut baru saja menggulirkan penawaran utang perdana pada hari Senin dengan posisi kas dan setara kas sebesar US$ 100,8 miIiar per tanggal 19 Juni.

Ekspektasi tinggi terhadap perkembangan kecerdasan buatan sebelumnya sempat memicu lonjakan di Wall Street, namun saat ini para analis mulai menyoroti keraguan para investor terkait masifnya anggaran ekspansi infrastruktur yang digelontorkan oleh perusahaan-perusahaan hyperscaler. 

Saham Alphabet terpangkas hingga 5 persen, yang kemudian diikuti oleh kemerosotan saham Meta, Amazon, dan Microsoft dalam rentang 2,3 persen hingga 4,7 persen.

"Ini adalah sektor yang sangat dipengaruhi oleh sentimen dan kelompok ini cenderung diperdagangkan bersamaan setiap hari," kata Bill Northey, direktur investasi senior di US Bank sebagaimana dilansir dari sumber berita. "Namun jika kami melihat ke belakang... beberapa fundamental terkuat berada di ruang pembangunan pusat data AI. Itu termasuk baik perusahaan hyperscaler maupun banyak komponen yang terlibat dalam pembangunan berkelanjutan tersebut," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Ujian selanjutnya bagi kelanjutan reli di pasar saham adalah publikasi laporan kinerja kuartalan dari Micron Technology pada hari Rabu. Saham emiten produsen chip memori tersebut tercatat telah melonjak hampir 300 persen sepanjang tahun ini.

Di sektor komoditas, harga minyak mentah dunia dilaporkan mengalami penurunan setelah Washington dan Teheran menyepakati peta jalan menuju kesepakatan final dalam jangka waktu 60 hari. 

Perwakilan dari AS dan Iran dikabarkan mencapai progres yang signifikan dalam rangkaian perundingan di Swiss, walaupun tensi geopolitik masih membayangi kawasan Lebanon dan Selat Hormuz.

"Harga energi sedang turun, yang tentu saja menjadi katalis bagi konsumen maupun bisnis," ujar Bill Northey sebagaimana dilansir dari sumber berita. "Di sisi lain, kami melihat (Federal Reserve) yang sangat agresif di bawah Ketua baru Kevin Warsh, dan itu membuat pasar percaya bahwa akan ada fokus yang lebih diprioritaskan untuk kembali ke stabilitas harga dalam waktu dekat," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Sikap hawkish terhadap Federal Reserve ini mendorong lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dan menekan pergerakan harga saham.

Perhatian pelaku pasar pada pekan ini akan terarah pada rilis data Pengeluaran Konsumsi Pribadi atau PCE pada hari Kamis, yang menjadi indikator utama inflasi inti acuan Federal Reserve.

Realisasi angka yang melebihi estimasi berpeluang memperkuat proyeksi kelanjutan kebijakan moneter ketat oleh Federal Reserve, setelah Ketua Kevin Warsh menegaskan krusialnya langkah menekan inflasi pada pekan lalu. 

Berdasarkan data dari LSEG, pelaku pasar saat ini memproyeksikan adanya kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin oleh Federal Reserve pada bulan September mendatang.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua