Breaking

Harga Minyak Brent Turun 4,3 Persen Capai Titik Terendah Baru

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 25 Juni 2026
Harga Minyak Brent Turun 4,3 Persen Capai Titik Terendah Baru
ILUSTRASI, minyak bumi (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – Harga minyak mentah di pasar internasional kembali mengalami penurunan tajam pada sesi perdagangan Rabu (24/6/2026) waktu setempat. Redanya kekhawatiran pasar terkait gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah menjadi pemicu utamanya, hingga membawa harga minyak Brent jatuh ke level terendah sejak sebelum konflik Iran memanas.

Berdasarkan data yang dihimpun, harga minyak Brent ditutup melemah sebesar US$ 3,34 (4,3%) ke level US$ 73,74 per barel. Sejalan dengan itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga merosot US$ 2,87 (3,9%) menjadi US$ 70,34 per barel.

Di sepanjang sesi transaksi tersebut, harga Brent sempat menyentuh angka US$ 73,12 per barel, yang merupakan titik terendah sejak 27 Februari 2026 atau sehari sebelum serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran. 

Di sisi lain, harga WTI bahkan sempat tersungkur di bawah level US$ 70 per barel untuk pertama kalinya sejak awal Maret.

Penurunan nilai komoditas ini didorong oleh meredanya kecemasan para pelaku pasar atas potensi hambatan jalur logistik energi di Selat Hormuz, rute laut vital yang menjadi jalur utama perdagangan minyak dunia.

Menteri Energi AS Chris Wright menjelaskan bahwa saat ini arus pengiriman minyak mentah yang melintasi Selat Hormuz sudah mulai berangsur normal.

Dalam kurun waktu 24 jam terakhir, ada sekitar 20 juta barel minyak mentah yang berhasil melewati jalur tersebut dengan aman berkat adanya pengawalan ketat dari pihak militer terhadap kapal-kapal tanker yang sebelumnya sempat tertahan.

Data pergerakan kapal juga menunjukkan bahwa tiga kapal tanker yang memuat total sekitar 50 juta barel minyak mentah telah mulai berlayar meninggalkan Selat Hormuz pada hari Rabu. Dua kapal di antaranya dilaporkan sedang menuju ke wilayah Asia.

Tekanan bagi pasar minyak kian bertambah setelah AS kembali mengizinkan penjualan minyak asal Iran sebagai bagian dari upaya untuk mendorong terciptanya kesepakatan damai jangka panjang dengan pihak Teheran. 

Langkah diplomasi ini membuka potensi melonjaknya pasokan minyak mentah dunia dalam waktu dekat.

Analis dari KCM Trade, Tim Waterer, menilai bahwa relaksasi sanksi terhadap Iran berpotensi meningkatkan volume produksi serta ekspor minyak negara tersebut hanya dalam hitungan minggu, bukan lagi bulan. Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Tim Waterer menyatakan:

“Jika sanksi benar-benar dilonggarkan, Iran memiliki cadangan minyak yang cukup besar di kapal tanker sehingga ekspor dapat meningkat dengan cepat,”

Analis dari ING juga memandang peningkatan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz sebagai indikator positif bagi pasar energi dunia. Kendati demikian, mereka mencatat bahwa volume lalu lintas kapal saat ini sebenarnya masih berada di bawah level normal sebelum konflik pecah.

Koreksi harga minyak mentah semakin diperparah oleh aksi transaksi kargo minyak fisik di sejumlah wilayah yang mulai menerapkan potongan harga akibat melimpahnya pasokan dari Timur Tengah.

Kondisi pasar Brent pun mengalami pergeseran struktur, di mana harga untuk kontrak pengiriman bulan kedua kini terpantau lebih tinggi dibandingkan kontrak pengiriman terdekat. 

Hal ini mengindikasikan bahwa pasokan komoditas untuk jangka pendek berada dalam kondisi yang semakin longgar.

Meski demikian, ketidakpastian situasi geopolitik dinilai belum sepenuhnya berakhir. Presiden AS Donald Trump mengeklaim bahwa Iran telah menyepakati peninjauan program nuklir tanpa tenggat waktu. 

Namun, klaim sepihak tersebut langsung dibantah oleh otoritas Iran yang menyatakan tidak pernah membuat kesepakatan seperti itu.

Di tengah tren penurunan harga, volume stok minyak mentah milik AS justru menunjukkan penyusutan yang cukup signifikan.

Berdasarkan data resmi dari Energy Information Administration (EIA), cadangan minyak total AS—termasuk cadangan strategis milik pemerintah menyusut sebanyak 15,1 juta barel menjadi 743,3 juta barel pada pekan yang berakhir 19 Juni. Angka cadangan tersebut menjadi yang paling rendah sejak tahun 1984.

Sementara itu, lembaga keuangan JP Morgan memutuskan untuk memangkas proyeksi harga minyak Brent untuk periode paruh kedua tahun 2026. 

Langkah ini diambil karena adanya prediksi melemahnya permintaan global serta tingkat penurunan pasokan dunia yang ternyata tidak sedalam perkiraan awal.

Bank investasi global tersebut kini memproyeksikan harga minyak Brent akan bergerak di kisaran rata-rata US$ 86 per barel pada kuartal III dan turun menjadi US$ 80 per barel pada kuartal IV tahun ini.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua