Breaking

Kontrak Saham AS Naik, Bursa Asia Bersiap Menguat Didorong Sektor AI

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 25 Juni 2026
Kontrak Saham AS Naik, Bursa Asia Bersiap Menguat Didorong Sektor AI
Ilustrasi: Bursa saham Asia menguat mengikuti kenaikan kontrak berjangka saham AS pada 25 Juni 2026. (Foto: NET)

JAKARTA – Pasar saham di kawasan Asia bersiap untuk membukukan lonjakan yang berarti pada sesi perdagangan hari Kamis (25/6/2026). Sentimen positif ini membuntuti pergerakan naik pada kontrak berjangka indeks saham Amerika Serikat setelah produsen cip terkemuka, Micron Technology Inc, mempublikasikan estimasi performa bisnis yang meyakinkan, yang sekaligus memulihkan keyakinan para pelaku pasar atas prospek penanaman modal di bidang kecerdasan buatan.

Kontrak Nasdaq 100 terpantau menanjak mendekati angka 2 persen, di samping kontrak S&P 500 yang mengalami apresiasi sebesar 0,6 persen pada permulaan transaksi di pasar Asia.

Di waktu yang sama, kontrak berjangka untuk indeks saham di Jepang, Australia, serta Korea Selatan turut menunjukkan pergerakan ke atas.

Micron, selaku produsen cip memori komputer paling masif di Amerika Serikat, mencatatkan lonjakan nilai sekitar 15 persen pada sesi transaksi setelah penutupan pasar reguler. 

arget nilai penjualan kuartalan perusahaan yang berhasil melampaui prediksi Wall Street menjadi indikator bahwa akselerasi yang disokong oleh ekosistem AI masih berjalan secara solid.

Capaian performa keuangan tersebut, yang juga dibarengi oleh merosotnya nilai minyak mentah bumi, diproyeksikan mampu menghadirkan sentimen positif yang melegakan bagi para pemodal saham di Asia, setelah tertekan selama dua hari berturut-turut. 

Komoditas minyak mentah Brent terpangkas hingga melampaui 4 persen pada sesi transaksi sebelumnya, dipicu oleh suplai yang terus bertambah serta progres positif dari dialog damai antara pihak AS dan Iran.

“Micron jauh melampaui ekspektasi analis dan, yang terpenting, memproyeksikan permintaan chip yang kuat ke depan,” kata Kyle Rodda, sebagaimana dilansir dari berita sumber. “Kontrak berjangka saham AS telah lebih dari sekadar menutupi kerugian yang terjadi pada perdagangan reguler, sehingga menempatkan pasar Asia pada posisi yang jauh lebih positif,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Publikasi laporan capaian keuangan dari Micron bergulir pada momentum krusial bagi industri AI, menyusul terjadinya tekanan jual pada saham-saham sektor produsen cip dan korporasi teknologi lainnya pada awal pekan ini. 

Hingga kini, tingkat kebutuhan pasar terhadap cip memori konvensional maupun high-bandwidth memory (HBM), yang menjadi peranti vital dalam arsitektur AI, terus bergerak melampaui kapasitas produksi yang tersedia.

Keyakinan pasar terhadap ekosistem ini semakin diperkuat setelah SK Hynix membeberkan rencana mereka untuk melangsungkan pencatatan saham di Amerika Serikat. 

Korporasi tersebut menargetkan penghimpunan dana segar mendekati angka US$29 miliar lewat skema penawaran saham, di tengah meroketnya permintaan atas produk memori dengan teknologi mutakhir.

“Ketika saham naik terlalu tinggi dan terlalu cepat, koreksi hampir selalu terjadi,” kata Rick Gardner dari RGA Investments, sebagaimana dilansir dari berita sumber. “Kami jauh lebih memilih membeli saham teknologi ketika sedang turun, dan koreksi ini bisa menjadi peluang bagi investor yang belum memiliki eksposur memadai di sektor yang secara fundamental masih sangat kuat,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Langkah penurunan harga komoditas minyak ikut andil dalam meminimalkan kecemasan pasar terhadap tekanan inflasi, menjelang rilis indikator inflasi acuan dari Federal Reserve (The Fed), yang pada gilirannya memicu lonjakan harga obligasi pemerintah AS. 

Tingkat imbal hasil (yield) untuk surat utang negara dengan tenor 10 tahun merosot hingga 11 basis poin, sedangkan untuk tenor 30 tahun mendarat pada angka 4,85 persen, yang menjadi titik paling rendah semenjak tanggal 8 April.

Tren kenaikan tersebut mencerminkan adanya kalkulasi ulang dari para pelaku pasar mengenai arah kebijakan tingkat suku bunga acuan dari The Fed. 

Walau demikian, barisan pengamat ekonomi memproyeksikan bahwa indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang akan dipublikasikan pada hari Kamis tetap bakal memperlihatkan adanya percepatan laju, baik dalam kalkulasi bulanan maupun tahunan untuk periode Mei.

“Inflasi akan turun secara signifikan,” kata Raghav Datla, ahli strategi suku bunga di Citigroup Inc, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Bahkan jika The Fed mempertahankan suku bunga hingga 2027, “tingkat suku bunga saat ini tampaknya masih terlalu tinggi,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua