Breaking

Gelar IPO PT Esa Medika Mandiri Tbk Targetkan Rp245,74 Miliar

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 02 Juli 2026
Gelar IPO PT Esa Medika Mandiri Tbk Targetkan Rp245,74 Miliar
ILUSTRASI, PT Esa Medika Mandiri Tbk resmi menggelar IPO dengan target dana Rp245,74 miliar. (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – PT Esa Medika Mandiri Tbk. (EMMI) telah menetapkan nilai nominal untuk penawaran umum perdana saham mereka di angka Rp470 per saham. Melalui aksi korporasi tersebut, jumlah dana segar yang berpotensi untuk dikumpulkan diproyeksikan bisa menyentuh Rp245,74 miliar.

Sebelumnya, dalam masa penawaran awal atau book building yang dilangsungkan pada tanggal 22 hingga 24 Juni 2026, EMMI sempat menyodorkan estimasi harga saham pada kisaran Rp446 sampai Rp515. 

Pihak manajemen pada akhirnya memilih untuk menetapkan nominal Rp470 per saham atas sejumlah 522.857.000 lembar saham baru yang akan dirilis oleh emiten tersebut.

Direktur Utama Esa Medika Mandiri, Florian Chris Widjaja, mengungkapkan bahwa langkah melantai di bursa saham merupakan keputusan strategis demi memperkokoh basis perkembangan korporasi selaku penyedia perangkat medis di dalam negeri.

”IPO ini bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari fase pertumbuhan baru. Melalui IPO ini, kami optimistis dapat mendorong EMMI menjadi perusahaan alat kesehatan nasional yang lebih kuat dan semakin relevan dalam mendukung peningkatan layanan kesehatan di Indonesia,” katanya dalam keterangan resmi, Kamis (2/7/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan dokumen prospektus yang diterbitkan, semua perolehan dana dari hasil penawaran umum ini, setelah dikurangi dengan seluruh pengeluaran emisi, bakal dialokasikan ke dalam tiga segmen operasional utama. 

Segmen pertama yakni sekitar Rp50 miliar diarahkan untuk melunasi sebagian dari pokok utang pinjaman yang dimiliki perseroan. 

Segmen kedua, yaitu sebesar 6,4%, dialokasikan bagi belanja modal untuk pembangunan unit pabrik yang berlokasi di Cikupa. 

Sementara itu, porsi terbesar sebesar 72,3% akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja operasional, termasuk untuk pengadaan barang operasional proyek softloan hingga pembelian bahan baku produksi.

”Kami melihat kebutuhan alat kesehatan nasional masih memiliki ruang pertumbuhan yang luas, didorong oleh modernisasi rumah sakit, peningkatan kapasitas layanan kesehatan, serta penguatan industri alat kesehatan dalam negeri,” katanya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Apabila ditinjau dari aspek operasional finansial, EMMI memperlihatkan grafik kenaikan performa yang teratur selama periode tiga tahun belakangan. 

Nilai penjualan bersih korporasi tercatat merangkak naik dari Rp172,98 miliar pada periode 2023, melonjak ke angka Rp384,93 miliar sepanjang tahun 2024, dan terus melaju hingga mencapai nominal Rp454,64 miliar pada pembukuan tahun 2025.

Pertumbuhan pendapatan tersebut juga berbanding lurus dengan perolehan laba bersih emiten yang terkerek naik secara masif, berawal dari posisi Rp939,42 juta pada tahun 2023, kemudian melonjak ke level Rp11,01 miliar pada 2024, hingga puncaknya sukses mengantongi Rp34,13 miliar pada laporan akhir tahun 2025.

Setelah rampungnya seluruh rangkaian proses IPO serta implementasi program ESA, porsi kepemilikan saham oleh publik diproyeksikan bakal berada di kisaran 29,7%. 

Di sisi lain, figur Surya Gunawan Widjaja akan tetap bertahan selaku pemegang saham mayoritas dengan persentase kepemilikan sebesar 21,1%.

Porsi kepemilikan berikutnya diisi oleh Andrew Ignatius Widjaja dengan andil saham sebesar 16,4%, lalu Florian Chris Widjaja sebesar 11,2%, Andrian Matthew Widjaja di angka 11,2%, serta Eddy Lie yang menguasai 10,2%. 

Secara kumulatif, total modal ditempatkan serta disetor oleh korporasi mengalami peningkatan dari semula sejumlah 1,22 miliar lembar saham menjadi sebanyak 1,74 miliar lembar saham pasca-IPO dilaksanakan.

Hingga saat ini, pihak EMMI mengonfirmasi telah menyuplai kebutuhan operasional ke lebih dari 200 unit rumah sakit beserta jaringan fasilitas pelayanan kesehatan yang tersebar di wilayah Indonesia. 

Dalam melancarkan pelaksanaan IPO ini, pihak korporasi menunjuk BRI Danareksa Sekuritas bersama Ina Sekuritas Indonesia untuk mengemban tugas sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Sementara itu, peran sebagai penjamin emisi efek dipercayakan kepada Yulie Sekuritas Indonesia serta Investindo Nusantara Sekuritas.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua