Nilai Emas Dunia Naik 0,60 Persen Pasca Rilis Data Tenaga Kerja AS
JAKARTA – Harga komoditas emas global terpantau mengalami kenaikan pada Rabu (1/7/2026) setelah rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang di bawah estimasi, ditambah dengan pernyataan dari Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh yang mengindikasikan bahwa risiko inflasi kian mereda.
Harga emas spot mengalami kenaikan sebesar 0,60 persen ke angka USD4.031,71 per troy ons, setelah sebelumnya sempat jatuh ke level terendahnya sejak November pada sesi perdagangan lalu. Logam mulia ini juga sempat mencatatkan penurunan secara kuartalan dalam aktivitas pasar pada hari Selasa.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, trader logam independen Tai Wong mengatakan, "Emas mencatatkan kenaikan yang cukup baik hari ini. Data ADP yang lebih rendah dari perkiraan menjadi pemicu awal, sementara komentar Ketua The Fed Warsh mengenai penurunan inflasi mendorong imbal hasil turun dan membuat pasar emas yang sebelumnya lesu kembali bergerak naik,"
Wong menambahkan, "Emas kemungkinan telah membentuk titik terendah setidaknya untuk jangka pendek, kecuali jika laporan ketenagakerjaan nonpertanian besok menunjukkan hasil yang jauh lebih kuat dari perkiraan,"
Menjelang perilisan laporan Nonfarm Payrolls (NFP) pada Kamis, data ketenagakerjaan nasional dari versi ADP mengindikasikan sektor swasta di AS menyerap sebanyak 98.000 lowongan kerja baru pada bulan lalu, mengikuti perolehan 122.000 lapangan kerja di bulan Mei yang posisinya tidak mengalami perubahan revisi.
Sejumlah ekonom dalam survei Reuters sebelumnya memperkirakan bahwa penyerapan lapangan kerja baru pada sektor swasta tersebut mampu menyentuh level 118.000.
Di lain sisi, Warsh mengutarakan bahwa proyeksi serta risiko inflasi terpantau kian merosot dalam beberapa minggu belakangan.
Walau begitu, otoritas bank sentral tersebut kembali menegaskan komitmen penuh dari The Fed untuk terus menekan laju inflasi agar bisa mencapai target di angka 2 persen.
Meski emas secara umum dipandang sebagai alat lindung nilai (hedging) dalam menghadapi inflasi, kebijakan pengetatan moneter atau peningkatan suku bunga acuan biasanya akan mengurangi daya tarik dari aset logam mulia, mengingat sifatnya yang tidak memberikan imbal hasil bunga (non-yielding).
Para partisipan pasar saat ini memproyeksikan adanya peluang sebesar 65 persen untuk perubahan suku bunga pada September mendatang, berdasarkan basis data CME FedWatch Tool.
Dari sisi geopolitik, pihak Amerika Serikat (AS) dan Iran mengadakan pembicaraan teknis di Doha pada hari Rabu guna menyusun kesepakatan terkait kelancaran jalur maritim di Selat Hormuz, sekaligus mengusahakan langkah-langkah menuju gencatan senjata permanen, merujuk pada penjelasan dari seorang pejabat birokrat Iran.
Pada pergerakan logam lainnya, harga perak spot melesat sebesar 2,5 persen ke posisi USD60,01 per ons, beriringan dengan komoditas paladium yang juga terangkat sebesar 1,2 persen menuju level USD1.218,75 per ons.
Sementara itu, harga platinum terkerek naik sebesar 2,2 persen ke angka USD 1.584,75 per ons setelah sempat terperosok ke tingkat paling rendah sejak November pada awal sesi transaksi.