Breaking

Antisipasi Likuiditas Kering, Sejumlah Bank Rilis Obligasi

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 02 Juli 2026
Antisipasi Likuiditas Kering, Sejumlah Bank Rilis Obligasi
Ilustrasi: Sejumlah bank terbitkan obligasi untuk mengantisipasi ketatnya likuiditas pasar. (Gambar: NET)

JAKARTA – Banyak bank kini mulai bersiap untuk mengantisipasi ketatnya perebutan Dana Pihak Ketiga (DPK) saat kondisi likuiditas di pasar sedang mengering. Merujuk pada data dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), sudah ada enam bank yang meluncurkan surat utang atau obligasi sepanjang tahun ini.

Beberapa lembaga perbankan yang terpantau sudah menerbitkan obligasi di antaranya adalah Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank BJB, Bank Mandiri Taspen, serta Panin Bank. Di sisi lain, Maybank Indonesia bersama Bank Victoria kini tengah bersiap untuk merilis obligasi mereka pada Juli 2026.

Staf Riset Ekonomi Makro BTN, Myrdal Gunarto, mengungkapkan bahwa maraknya penerbitan surat utang ini dipicu oleh kompetisi DPK yang semakin sengit karena pertumbuhan penyaluran kredit jauh lebih agresif ketimbang pertumbuhan DPK itu sendiri. "Rasio likuiditas perbankan semakin ketat. Ketika likuiditas di pasar mulai mengering, bank harus beralih ke wholesale funding, salah satunya melalui penerbitan obligasi, agar terhindar dari perang suku bunga simpanan yang berlebihan di tingkat ritel," jelas Myrdal sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Myrdal menerangkan lebih lanjut, langkah mengamankan pendanaan jangka panjang lewat instrumen obligasi ini bermanfaat untuk memperbaiki performa neraca sekaligus mencegah terjadinya mismatch antara penyaluran kredit bertenor panjang dengan DPK yang berkarakter jangka pendek. 

Penerbitan obligasi juga memberikan keleluasaan bagi industri perbankan untuk menjaga margin keuntungan, sebab persentase kupon obligasi dinilai jauh lebih rasional bila dibandingkan dengan pemberian skema special rate pada produk deposito.

Bukan hanya itu, instrumen deposito juga harus menanggung beban Giro Wajib Minimum (GWM) yang berpotensi memangkas imbal hasil, sedangkan instrumen obligasi bebas dari risiko penarikan dana secara mendadak sewaktu-waktu. 

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menjabarkan bahwa langkah menerbitkan obligasi ini diproyeksikan untuk melengkapi pendanaan bank supaya struktur funding mix menjadi jauh lebih stabil.

“Penerbitan obligasi agar funding mix bank jadi bagus and lebih stabil. Sifatnya melengkapi,” ujar Hery sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Senada dengan pandangan itu, Presiden Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan, memastikan bahwa penerbitan obligasi ini menjadi bagian dari strategi pendanaan jangka menengah serta panjang demi menjaga diversifikasi pada struktur pendanaan perusahaan. 

Dia menguraikan bahwa DPK bakal tetap diposisikan sebagai pilar pendanaan yang utama, sementara obligasi berperan untuk mendorong pertumbuhan aset produktif sekaligus ekspansi bisnis yang berkelanjutan.

Direktur Utama Bank Mandiri Taspen, Panji Irawan, juga memaparkan bahwa langkah menerbitkan surat utang ini dijalankan selaras dengan Rencana Bisnis Bank (RBB). 

Pihak korporasi berhasil menghimpun total dana segar mencapai Rp 1,5 triliun dari hasil realisasi emisi obligasi tersebut guna memperkuat ekspansi bisnis mereka.

“Utamanya penyaluran kredit kepada nasabah pensiunan secara berkesinambungan,” katanya sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua