Breaking

Tumbuh Masif, Paylater Perbankan Capai Rp 30,1 Triliun Mei 2026

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 09 Juli 2026
Tumbuh Masif, Paylater Perbankan Capai Rp 30,1 Triliun Mei 2026
ILUSTRASI, Paylater Perbankan (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – Produk buy now pay later (BNPL) atau yang populer disebut paylater tampaknya semakin digemari masyarakat, tidak terkecuali yang disediakan oleh sektor perbankan.

Berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai baki debet paylater di industri perbankan mengalami peningkatan sebesar 37,72% secara tahunan (year-on-year/yoy) hingga menyentuh angka Rp 30,1 triliun pada Mei 2026. 

Angka tersebut menunjukkan percepatan dibanding pertumbuhan bulan sebelumnya yang berada di posisi 37,29% yoy. Secara total, porsi produk kredit paylater perbankan pada periode ini berada di angka 0,34%.

Menariknya, performa ini melesat jauh di atas pertumbuhan kredit konsumsi perbankan. Sampai dengan Mei 2026, kredit konsumsi bank tercatat hanya tumbuh sebesar 5,89% yoy, yang berarti mengalami perlambatan dari capaian bulan sebelumnya sebesar 6,13% yoy.

Menurut penjelasan Trioksa Siahaan selaku Head of Research and Product Development Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), pergerakan paylater yang melaju lebih cepat daripada kredit konsumsi salah satunya dipicu oleh pergeseran perilaku masyarakat.

Trioksa mengamati bahwa para konsumen saat ini lebih menyukai instrumen pembiayaan yang menawarkan proses instan, terkoneksi langsung dengan aplikasi digital, menyediakan limit kecil, serta fleksibel digunakan sewaktu-waktu untuk menutup keperluan jangka pendek. 

Terlebih lagi, hal ini terjadi di tengah situasi daya beli masyarakat yang masih mengalami tekanan.

Karakteristik fleksibel semacam itu dinilai Trioksa tidak ada pada produk kredit konsumsi konvensional. Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Pengajuan kredit konsumsi bank umumnya memerlukan proses yang lebih panjang dan persyaratan yang lebih ketat,” jelas Trioksa, Selasa (7/7/2026).

Untuk masa mendatang, Trioksa memprediksi bahwa tren kenaikan paylater ini masih akan terus berjalan seiring dengan kian luasnya digitalisasi pada layanan keuangan serta pergeseran selera masyarakat.

Kendati demikian, laju kenaikannya berisiko mulai mendatar jika situasi daya beli tidak kunjung pulih, aturan hukum diperketat, serta perbankan menjadi lebih selektif dalam mengucurkan pembiayaan demi memelihara kualitas aset yang dimiliki.

Namun, di tengah lonjakan yang sangat masif ini, perbankan yang menawarkan produk paylater diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan. 

Trioksa mewanti-wanti bahwa risiko kredit macet bisa saja melonjak tinggi jika langkah ekspansi hanya mengejar pertumbuhan volume tanpa memperhatikan kualitas dari penyaluran kredit itu sendiri.

Langkah-langkah seperti memperkuat sistem credit scoring berbasis data, memantau rekam jejak pembayaran nasabah secara real time, membatasi limit kredit, hingga mendeteksi lebih awal nasabah yang mulai seret dalam membayar dinilai sebagai strategi kunci untuk menjaga kualitas portofolio bank.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua