Breaking

Aksi Direksi AMMN Borong Saham Senilai Rp12,35 Miliar Jadi Sinyal Positif

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 09 Juli 2026
Aksi Direksi AMMN Borong Saham Senilai Rp12,35 Miliar Jadi Sinyal Positif
ILUSTRASI, Empat direktur AMMN memperbanyak kepemilikan saham melalui transaksi di Bursa Efek Indonesia. (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – Sejumlah jajaran direksi dari PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) secara bersama-sama memperbanyak kepemilikan saham mereka di perseroan melalui transaksi personal di Bursa Efek Indonesia (BEI). Aksi pembelian saham ini dilangsungkan sejak akhir Juni sampai awal Juli 2026, dengan total akumulasi yang terkumpul mencapai 3,72 juta lembar saham.

Merujuk pada keterbukaan informasi yang disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), terdapat empat anggota direksi Amman Mineral Internasional yang melakukan aksi beli saham ini demi tujuan investasi pribadi. 

Direktur AMMN Arief Widyawan Sidarto menjadi orang dalam yang mengantongi saham paling banyak, yakni sebesar 1,6 juta lembar saham pada 30 Juni 2026 dengan harga Rp3.105 per lembar saham. 

Melalui transaksi ini, porsi kepemilikannya melonjak dari semula 79,06 juta lembar saham menjadi 80,66 juta lembar saham, atau setara dengan 0,111% dari keseluruhan saham yang memiliki hak suara.

Selanjutnya, Direktur Lal Naveen Chandra mengantongi 1 juta lembar saham pada 6 Juli 2026 pada tingkat harga Rp3.565 per lembar saham. 

Pasca transaksi dilaksanakan, jumlah kepemilikannya bertambah dari 52,16 juta lembar saham menjadi 53,16 juta lembar saham, atau berkisar 0,073% dari keseluruhan saham berhak suara. 

Direktur Aditya Sasmito juga ikut mempertebal portofolionya lewat pembelian 850.000 lembar saham pada 6 Juli 2026 pada harga Rp3.530 per lembar saham. 

Porsi kepemilikan saham miliknya merangkak naik dari 72,89 juta lembar saham menjadi 73,74 juta lembar saham, atau berkisar 0,102% dari jumlah saham beredar yang memiliki hak suara.

Sementara itu, Direktur Anthony Robert Mathias memboyong total 272.700 lembar saham melalui empat kali transaksi pada 7 Juli 2026. 

Aksi beli tersebut dilakukan dalam rentang harga Rp3.480-Rp3.510 tiap saham, sehingga porsi kepemilikannya naik dari 1,41 juta lembar saham menjadi 1,69 juta lembar saham. Seluruh rangkaian transaksi ini dilaporkan sebagai langkah penempatan dana untuk investasi pribadi.

Di dalam laporan resmi kepada OJK, tiap-tiap direktur juga menegaskan bahwa mereka tidak berstatus sebagai pemegang saham pengendali perseroan, dan aktivitas transaksi tersebut sama sekali tidak mengubah peta kendali atas jalannya perusahaan. 

Jika dikalkulasikan secara total, keempat direksi AMMN tersebut mengumpulkan sekitar 3,72 juta lembar saham. Mengacu pada harga transaksi dari masing-masing pihak, nilai dari aksi borong saham ini diestimasi menembus angka sekitar Rp12,35 miliar.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M Nafan Aji Gusta, memberikan pandangan bahwa aksi borong saham yang dilakukan oleh jajaran direksi AMMN ini dapat dibaca sebagai sebuah sinyal kolektif terkait besarnya rasa percaya diri manajemen terhadap masa depan perseroan, dan bukan sekadar langkah investasi personal biasa.

"Aksi jajaran direksi AMMAN ini bisa mengindikasikan bahwa manajemen melihat prospek masa depan perusahaan yang positif, dengan kinerja bisnis yang solid. Terlebih saat ini pasar sedang tertekan oleh sentimen makro dan capital outflow asing, yang tidak mencerminkan fundamental atau kondisi bisnis perusahaan yang sebenarnya," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan analisis Nafan, pergerakan positif harga saham AMMN turut ditopang oleh prospek komoditas di tingkat global, khususnya komoditas emas dan tembaga. 

Ia menyebutkan bahwa lonjakan harga pada kedua komoditas tersebut dipicu oleh makin tingginya tingkat kebutuhan tembaga sebagai bahan baku utama dalam industri kendaraan listrik serta pengerjaan proyek pusat data (data center).

Sebagai salah satu produsen tembaga dan emas yang memiliki kadar bijih tinggi, tuturnya, AMMN mempunyai sensitivitas yang sangat besar terhadap pergerakan naik harga kedua komoditas tersebut. 

Oleh sebab itu, perseroan berpeluang besar untuk meraup manfaat yang lebih optimal saat harga komoditas global mengalami penguatan.

Ditinjau dari sudut pandang fundamental, catatan kinerja operasional Amman sepanjang beberapa tahun ke belakang terbilang masih cukup solid. Hal ini membuktikan bahwa perseroan memiliki tingkat resiliensi atau daya tahan yang andal dalam melewati berbagai macam tantangan, baik berupa fluktuasi harga komoditas maupun dinamika situasi ekonomi global.

"Apabila tren produksi, efisiensi operasional, dan prospek proyek pengembangan tetap berjalan sesuai rencana, maka fundamental tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi kinerja perusahaan dan harga saham dalam jangka menengah hingga panjang," kata Nafan sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua