Breaking

Kinerja Bank Syariah Kinclong, Laba BSI Tumbuh 16,73 Persen

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 09 Juli 2026
Kinerja Bank Syariah Kinclong, Laba BSI Tumbuh 16,73 Persen
ILUSTRASI, Bank Syariah Indonesia catatkan laba bersih Rp 3,39 triliun hingga Mei 2026, naik 16,73% YoY. (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – Tren positif terus ditunjukkan oleh kinerja sejumlah bank umum syariah (BUS) hingga Mei 2026. Di tengah ketatnya tantangan likuiditas serta situasi ekonomi yang tidak menentu, mayoritas bank syariah sukses mencatatkan kenaikan laba, memperluas penyaluran pembiayaan, sekaligus mendongkrak penghimpunan dana pihak ketiga (DPK).

Berdasarkan publikasi laporan keuangan bulanan dari sejumlah bank syariah, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) tetap mendominasi, baik dari aspek skala bisnis maupun akselerasi keuntungan. 

BSI berhasil mengantongi laba bersih senilai Rp 3,39 triliun hingga Mei 2026, yang berarti melesat 16,73% secara tahunan (year on year/YoY). 

Capaian impresif ini didorong oleh pertumbuhan dana murah (CASA), ekspansi pembiayaan yang terjaga kualitasnya, akselerasi transformasi digital, serta ekspansi pada lini bisnis bullion bank.

Direktur Finance & Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho menjelaskan bahwa kombinasi strategi sebagai bank syariah dan bank emas menjadi motor pertumbuhan baru bagi perseroan, sebagaimana dilansir dari berita sumber:

"Sebagai bank syariah, kami terus memperkuat penghimpunan dana melalui ekosistem haji dan umrah. Sementara sebagai bank emas, kami memperluas literasi dan akses Tabungan BSI Emas yang kini dapat dimulai dari Rp50 ribu. Strategi ini mendapat respons yang sangat positif, terutama dari generasi muda yang kini menjadi mayoritas nasabah baru BSI."

Pada fungsi intermediasi, pembiayaan yang disalurkan BSI naik 14,60% YoY menjadi Rp335 triliun, dibarengi dengan kualitas aset yang kian sehat. 

Rasio pembiayaan bermasalah (NPF) gross berhasil ditekan ke angka 1,80% dari posisi 1,88% pada periode yang sama di tahun sebelumnya. 

Hingga Mei 2026, total DPK BSI tercatat sebesar Rp372 triliun atau naik 16,74% YoY. Pertumbuhan ini ditopang oleh dominasi dana murah, di mana porsi tabungan mencapai Rp165 triliun (sekitar 44,35% dari total DPK), sehingga rasio CASA ikut terangkat ke level 63,16%.

Cahyo menambahkan bahwa pihaknya bakal terus memperkuat kolaborasi layanan digital, jaringan kantor, serta perluasan ekosistem syariah demi menjaga keberlanjutan bisnis perseroan, sebagaimana dilansir dari berita sumber:

"Kami optimistis penguatan dana murah, transformasi digital, serta pengembangan ekosistem haji, umrah, dan bisnis bank emas akan menjadi mesin pertumbuhan berkelanjutan bagi Perseroan."

Di sisi lain, PT Bank BCA Syariah juga menorehkan performa yang tangguh. Hingga Mei 2026, laba bersih yang dihimpun bank ini menyentuh Rp 93,47 miliar, naik 13,82% YoY dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 82,12 miliar.

Sementara itu, pendapatan setelah distribusi bagi hasil terkerek 16,43% YoY menjadi Rp387,81 miliar. Untuk aspek intermediasi, penyaluran pembiayaan tumbuh hingga 20,41% YoY menjadi Rp13,12 triliun, dan DPK terkumpul Rp15,17 triliun atau naik 15,73% YoY.

Selanjutnya, BTPN Syariah mencatatkan perolehan laba bersih sebesar Rp 540,09 miliar, atau mengalami kenaikan tipis 0,47% YoY. 

Meski demikian, penyaluran pembiayaan mereka tetap tumbuh 11,12% YoY menjadi Rp 11,29 triliun, dengan DPK yang meningkat sebesar 10,60% YoY menjadi Rp 12,67 triliun. 

Namun, pendapatan setelah distribusi bagi hasil BTPN Syariah terkoreksi 2,42% YoY menjadi Rp 1,92 triliun, sedangkan pendapatan komisi melonjak 36,36% YoY menjadi Rp 960 juta.

Direktur BTPN Syariah Fachmy Achmad memaparkan bahwa hasil pada lima bulan pertama ini membuktikan efektivitas dari strategi pendampingan nasabah yang dijalankan perseroan, sebagaimana dilansir dari berita sumber:

"Momentum lima bulan pertama menunjukkan bahwa model pendampingan yang kami terapkan berkontribusi pada kualitas pembiayaan. Kami melihat meningkatnya kepercayaan nasabah serta ketahanan usaha mereka yang pada akhirnya memperkuat kualitas bank."

Menurut Fachmy, perolehan ini merupakan buah dari sinergi seluruh elemen dalam memperdayakan kelompok masyarakat inklusi agar membangun karakter usaha yang kuat sebagai basis kesuksesan bersama.

Sementara itu, Bank bjb Syariah mencatatkan laba bersih senilai Rp16,04 miliar hingga Mei 2026, atau mengalami penurunan 26,80% secara tahunan (year on year/YoY) dari Rp21,92 miliar pada periode yang sama tahun lalu. 

Walau laba bersihnya menyusut, pendapatan setelah distribusi bagi hasil naik 15,96% YoY menjadi Rp 282,16 miliar. 

Dari sektor intermediasi, total pembiayaan tumbuh 13,83% YoY ke angka Rp11,37 triliun, dan Dana Pihak Ketiga (DPK) bertambah 11,14% YoY menjadi Rp11,60 triliun.

Direktur Utama Bank bjb Syariah Arief Setyahadi memaparkan, tata kelola aset yang efektif membuat perseroan tetap mampu mempertahankan pertumbuhan aset yang positif demi menghasilkan pendapatan optimal untuk menunjang performa perusahaan.

Arief menjabarkan, hingga Mei 2026 pergerakan pertumbuhan pembiayaan bertahan di level kisaran 14% secara tahunan, di mana pembiayaan produktif menjadi penyumbang terbesar dengan pertumbuhan yang sedikit di atas segmen pembiayaan konsumtif.

Guna menyongsong paruh kedua tahun ini, Bank bjb Syariah pun telah menyesuaikan Rencana Bisnis Bank (RBB) dengan tetap mematok target pertumbuhan yang positif pada aspek pembiayaan dan DPK, sebagaimana dilansir dari berita sumber:

"Penyesuaian RBB dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai tantangan yang dihadapi saat ini maupun yang diperkirakan berkembang pada masa mendatang."

Arief melanjutkan, demi mengawal kinerja hingga tutup tahun, manajemen bakal menyalurkan pembiayaan secara lebih selektif untuk mengamankan portofolio yang sehat serta memaksimalkan pendapatan. 

Di samping itu, bank juga fokus meredam laju pembiayaan bermasalah lewat penagihan yang lebih agresif serta penyelesaian pembiayaan bermasalah yang sejalan dengan aturan hukum. 

Dari aspek pendanaan, Bank bjb Syariah berkomitmen menggalang dana masyarakat dengan penawaran imbal hasil yang kompetitif, khususnya lewat optimalisasi raihan dana murah atau CASA.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua