Breaking

Taspen Bukukan Laba 1,04 Triliun Rupiah Sepanjang 2025 Melampaui Target

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 09 Juli 2026
Taspen Bukukan Laba 1,04 Triliun Rupiah Sepanjang 2025 Melampaui Target
ILUSTRASI, PT Taspen catat laba bersih Rp 1,04 triliun sepanjang 2025, melampaui target. (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – PT Taspen (Persero) mengumumkan bahwa hasil dari investasi menjadi penyangga utama dalam perolehan laba perusahaan sepanjang tahun 2025. Direktur Utama PT Taspen Rony Hanityo Aprianto menjelaskan bahwa Taspen berhasil mengantongi laba bersih senilai Rp 1,04 triliun pada tahun 2025. Perolehan keuntungan tersebut berhasil melewati target yang telah ditetapkan sebelumnya, yakni mencapai 123,84%. 

Hasil laba yang dicatatkan ini bersumber dari pengelolaan program Tabungan Hari Tua (THT), Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), serta Jaminan Kematian (JKM).

Rony menguraikan beberapa aspek yang memberikan pengaruh terhadap raihan laba Taspen di sepanjang 2025. Salah satunya ditopang oleh perolehan hasil investasi yang menyentuh angka Rp 9,87 triliun pada tahun 2025.

Tingginya angka perolehan tersebut tidak lepas dari tingkat pengembalian (return) yang diperoleh dari manajemen investasi yang dilakukan.

Secara lebih mendalam, jumlah perolehan laba bersih ini terpantau lebih tinggi bila dibandingkan dengan perolehan iuran beserta premi sepanjang tahun 2025 yang tercatat senilai Rp 7,74 triliun. 

Melalui pencatatan ini, iuran menempati posisi sebagai penopang laba Taspen yang kedua, disusul oleh pos pendapatan lain yang tercatat sebesar Rp 1,86 triliun pada 2025. Di sisi lain, pos beban klaim yang dikeluarkan sepanjang tahun 2025 dilaporkan mencapai Rp 14,90 triliun.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Hal yang menolong bottom line Taspen tetap positif itu adalah hasil investasi. Jadi, kalau melihat iuran itu Rp 7,7 triliun dan klaim Rp 14,9 triliun. Artinya, tidak matching. Dengan demikian, yang ganjil adalah hasil investasi, makanya saat ini Taspen masih bisa membukukan keuntungan," ujarnya saat Rapat Dengar Pendapat di Komisi VI DPR RI, Rabu (8/7/2026).

Rony melanjutkan bahwa demi mengedepankan prinsip kehati-hatian serta sikap konservatif dalam roda pengelolaan Taspen, terdapat satu akun pos yang memangkas perolehan laba dalam jumlah yang cukup besar, yakni pos impairment yang bernilai sebesar Rp 1,82 triliun pada tahun 2025. Nilai impairment ini pada dasarnya dipersiapkan sebagai dana cadangan guna mengantisipasi situasi yang berada di luar dugaan.

Rony memaparkan bahwa portofolio investasi yang dimiliki perusahaan ditempatkan ke dalam instrumen beberapa obligasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) karya, yang mana kondisinya pada saat ini tengah penuh tantangan, sehingga alokasi pos impairment tersebut dapat difungsikan di kemudian hari.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Namun, kalau impairment nantinya obligasi tersebut jatuh tempo, itu bisa dibalikkan yang tadinya beban menjadi balik ke atas sebagai pendapatan. Kalau misalnya ada perbaikan rating, itu juga bisa di-reverse. Jadi, impairment tidak selama-lamanya berdiri sebagai beban," tuturnya.

Langkah ini diungkapkan Rony sebagai bagian dari strategi Taspen untuk bersikap konservatif dalam menjalankan sistem pembukuan keuangan. Apabila pos impairment tersebut tidak dialokasikan, ia menyebutkan keuntungan yang didapat Taspen berpotensi menyentuh angka Rp 2 triliun.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Cuma kami memilih untuk lebih konservatif. Mending dicadangkan sekarang, kalau kondisi membaik bisa di-reverse," kata Rony.

Jika menilik rincian dari pemaparan tersebut, perolehan iuran dan premi yang dikumpulkan oleh Taspen mengalami penurunan sebesar 11,03 Year on Year (YoY), dari yang sebelumnya Rp 8,7 triliun di tahun 2024 menjadi senilai Rp 7,74 triliun pada tahun 2025. 

Sebaliknya, hasil dari investasi mengalami peningkatan sebesar 9,54% YoY, dari posisi Rp 9,01 triliun pada tahun 2024 merangkak naik menjadi Rp 9,87 triliun di tahun 2025.

Selanjutnya, sektor pendapatan lain juga terkerek naik sebesar 8,14% YoY, dari nominal Rp 1,72 triliun pada tahun 2024 menjadi sebesar Rp 1,86 triliun pada tahun 2025. 

Di waktu yang sama, beban klaim terpantau mengalami penyusutan sebesar 1,45 YoY, dari nilai Rp 15,12 triliun di tahun 2024 berkurang menjadi Rp 14,90 triliun pada tahun 2025. 

Sementara itu, untuk laba yang berhasil dibukukan mencatatkan penurunan sebesar 16,13% YoY, dari angka Rp 1,24 triliun menyusut menjadi sebesar Rp 1,04 triliun pada tahun 2025.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua