Breaking

Tantangan Biaya dan Regulasi Membayangi Industri Kemasan Tahun Ini

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 09 Juli 2026
Tantangan Biaya dan Regulasi Membayangi Industri Kemasan Tahun Ini
ILUSTRASI, Industri kemasan menghadapi tantangan biaya bahan baku dan regulasi baru pada paruh kedua 2026. (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – Sektor industri kemasan masih harus menghadapi beragam tantangan berat pada paruh kedua tahun 2026. Kondisi ini tetap terjadi walaupun hambatan pasokan nafta dunia yang dipicu oleh penutupan Selat Hormuz—yang sebelumnya sempat mendongkrak harga biji plastik—kini mulai berangsur pulih.

Direktur Eksekutif Indonesia Packaging Federation (IPF) Henky Wibawa menjelaskan bahwa hambatan utama yang masih menghantui sektor ini di semester kedua adalah pembengkakan harga bahan baku (inflasi input), yang pada akhirnya memicu penurunan daya beli masyarakat.

"Lebih lanjut, krisis nafta yang memicu kenaikan harga biji plastik hingga 200%, walaupun saat ini sudah mereda atau menurun lagi, tapi dampaknya masih terasa," katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber pada Rabu (8/7/2026).

Bukan hanya persoalan tekanan harga bahan baku, Henky juga melihat sektor industri ini dituntut untuk segera menyesuaikan diri dengan sejumlah regulasi baru. 

Beberapa di antaranya meliputi pemberlakuan Extended Producer Responsibility (EPR) serta pembatasan pemakaian plastik sekali pakai yang mewajibkan adaptasi operasional berjalan dengan cepat.

Melihat situasi dari aspek manufaktur, para pelaku usaha saat ini lebih memilih untuk mengambil kebijakan yang aman.

Korporasi memutuskan untuk menangguhkan perluasan kapasitas pabrik mereka dan mengalihkan fokus pada efisiensi anggaran sekaligus penyelarasan volume pembuatan barang mengikuti dinamika pasar.

"Pertimbangannya adalah ketidakpastian harga bahan baku, risiko pelemahan daya beli konsumen, hingga kewajiban kepatuhan regulasi lingkungan yang menambah biaya," tuturnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kendati diterpa berbagai hambatan, IPF memproyeksikan masih ada celah bagi industri kemasan untuk berkembang di paruh kedua tahun 2026. Faktor pendorong utamanya berasal dari tingkat konsumsi rumah tangga yang dinilai masih cukup kokoh.

"Pertumbuhan permintaan pada e-commerce dan program pangan nasional, yakni 190 juta porsi makanan per hari, mendorong permintaan kemasan makanan dan minuman," jelas Henky sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menimbang situasi tersebut, IPF memprediksi valuasi pasar dari industri kemasan di tahun 2026 berpotensi meningkat di kisaran 5% sampai 6% secara tahunan (year-on-year). 

Hanya saja, tingkat ekspansi ini diperkirakan bakal lebih melambat jika berkaca pada target di awal tahun lantaran tingginya beban biaya operasional manufaktur yang belum turun.

Henky menekankan bahwa demi mempertahankan tren positif ini, sangat diperlukan kehadiran regulasi pemerintah yang mampu menghadirkan atmosfer bisnis yang jauh lebih stabil. 

Ia berpendapat bahwa pengendalian harga energi serta bahan baku menjadi aspek krusial demi meredam pembengkakan biaya produksi.

Di samping itu, sektor ini turut memerlukan stimulus penanaman modal untuk memajukan teknologi daur ulang serta pembuatan wadah yang ramah terhadap alam. 

Kepastian regulasi EPR yang ajek juga dinilai mendesak agar pelaku industri mempunyai pijakan yang jelas dalam merancang strategi ekspansi jangka panjang.

"Dan juga, dukungan infrastruktur logistik untuk memperkuat rantai pasok domestik," tandas Henky sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua