Breaking

Kinerja Operasional MYOH Kompak Menanjak pada Separuh Pertama 2026

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Jumat, 10 Juli 2026
Kinerja Operasional MYOH Kompak Menanjak pada Separuh Pertama 2026
ILUSTRASI, PT Samindo Resources (MYOH) mencatat kenaikan volume overburden hingga 17 juta bcm pada semester I-2026. (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – PT Samindo Resources Tbk (MYOH) mencatatkan kenaikan kinerja operasional pada semester I-2026. Volume pemindahan batuan penutup (overburden), pengambilan batubara (coal getting) sekaligus pengangkutan batubara (coal hauling) secara bersamaan meningkat pada paruh pertama tahun ini.

Aktivitas operasional Samindo Resources tetap melaju mulus sekalipun industri jasa pertambangan sedang dihadapkan pada tekanan berat. 

Sepanjang enam bulan pertama di tahun 2026, sektor jasa pertambangan terbebani oleh berbagai hal, khususnya imbas pengurangan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.

Hingga saat ini, MYOH masih belum mempublikasikan laporan kinerja semester I-2026 secara resmi. 

Meski demikian, Corporate Secretary Samindo Resources, Ahmad Zaki Natsir memberikan proyeksi bahwa perkiraan volume overburden MYOH pada paruh pertama 2026 telah menembus angka 17 juta bank cubic meters (bcm).

Angka ini tercatat lebih tinggi bila dikomparasikan dengan raihan pada semester I-2025 yang sebesar 14,8 juta bcm.

Zaki menambahkan, perkiraan volume coal getting MYOH telah melewati 2,7 juta ton pada semester I-2026. Di saat yang sama, MYOH memproyeksikan realisasi volume coal hauling telah melampaui 11,8 juta ton. 

Sebagai catatan pembanding, realisasi volume coal getting serta coal hauling MYOH pada semester I-2025 masing-masing berada di angka 2,4 juta ton dan 11,4 juta ton.

"Estimasi volume produksi di semester pertama semua di atas target," ungkap Zaki saat dihubungi Kontan.co.id, Kamis (9/7/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Zaki menjelaskan, peningkatan performa operasional MYOH sepanjang semester I-2026 disokong oleh beberapa aspek. Di antaranya ialah situasi cuaca yang kondusif di area tambang serta maksimalisasi pemanfaatan armada alat berat. 

Faktor-faktor ini memperlancar jalannya proses pengerukan batuan penutup, pengerjaan batubara, hingga proses pengangkutan.

Selain dari sisi teknis tersebut, poin krusial lainnya yaitu korporasi tambang yang menjadi mitra kerja MYOH hingga kini tergolong sebagai pihak yang tidak terkena pemotongan kuota produksi dalam dokumen RKAB 2026.

"Cuaca tahun ini relatif cukup baik. Kami secara berkala melakukan komunikasi yang intens dengan klien sehingga hambatan-hambatan operasional dapat ditanggulangi. Kami juga menjaga tingkat ketersediaan alat berat serta meningkatkan produktivitasnya," terang Zaki sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berbekal dorongan dari pelbagai faktor penunjang tersebut, MYOH merasa yakin mampu memenangi target operasional yang dicanangkan untuk sepanjang tahun 2026.

Sementara itu, emiten penyedia jasa pertambangan yang kepemilikan sahamnya juga dipunyai oleh taipan Low Tuck Kwong ini mematok target volume overburden sebesar 34,5 juta bcm, coal getting sebanyak 4,5 juta ton, dan coal hauling berkisar di angka 24 juta ton.

Demi mengejar seluruh target operasional serta menyokong rencana ekspansi bisnis, pada tahun ini MYOH mengalokasikan anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai US$ 35,5 juta.

"Target (operasional) tahun 2026 masih sama. (Realisasi capex) belum keluar datanya," tandas Zaki sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua