Brent dan WTI Jatuh ke Level Terendah Tiga Pekan, Goldman Tetap Optimis
JAKARTA - Harga minyak mentah global jatuh signifikan pada perdagangan Selasa (4/8/2026). Brent turun 5,3 persen atau 4,41 US dolar ke 79,36 US dolar per barel, sedangkan WTI merosot 5,7 persen atau 4,57 US dolar ke 75,77 US dolar per barel. Penurunan ini menandai level terendah dalam tiga pekan.
Tekanan harga dipicu optimisme terhadap diplomasi AS–Iran–Oman terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia. Menlu AS Marco Rubio menyebut ada kemajuan dalam pembicaraan, meski kesepakatan akhir belum tercapai. Menkeu AS Scott Bessent menambahkan bahwa peluang kesepakatan pembukaan jalur pelayaran bisa terjadi dalam waktu dekat.
Dukungan Qatar juga muncul setelah Emir Qatar dan Presiden AS Donald Trump membahas langkah meredakan ketegangan dengan Teheran. Selain itu, perundingan Israel–Lebanon yang dimediasi AS turut menambah sentimen positif bahwa risiko gangguan pasokan berkurang.
Goldman Sachs memproyeksikan harga Brent tetap bertahan di kisaran 80–90 US dolar per barel. Meski sempat jatuh di bawah 80 US dolar, level tersebut dinilai masih menjadi batas bawah realistis. Faktor geopolitik dan diplomasi Timur Tengah akan menjadi penentu arah harga dalam jangka pendek.
Ke depan, risiko gangguan pasokan mengecil jika Selat Hormuz kembali dibuka, sehingga tekanan harga bisa berlanjut. Namun ketidakpastian geopolitik tetap tinggi, sehingga harga berpotensi kembali volatil.
Bagi Indonesia, harga minyak yang lebih rendah bisa meringankan tekanan impor energi, tetapi juga berpotensi menekan penerimaan negara dari ekspor komoditas.