Breaking

Harga BBM Subsidi Aman Sebab Jalur Impor Tidak Lewat Selat Hormuz

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Kamis, 13 Agustus 2026
Harga BBM Subsidi Aman Sebab Jalur Impor Tidak Lewat Selat Hormuz
Ilustrasi bbm subsidi (FOTO : NET)

JAKARTA – Pemerintah memastikan harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biodiesel tetap aman hingga akhir 2026 meski ketidakpastian geopolitik masih membayangi pasar energi global. Terkendalinya harga minyak serta jalur impor BBM Indonesia yang tidak melintasi Selat Hormuz menjadi faktor utama penjaga pasokan dan harga domestik.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan pemerintah terus memantau pergerakan harga minyak dunia sebagai indikator utama mengukur dampak konflik geopolitik pada perekonomian serta ketahanan energi nasional.

Saat ini, rata-rata harga pembelian minyak mentah Indonesia masih bertahan di kisaran US$91 per barel. Angka tersebut masih berada di bawah level US$110 per barel yang menjadi salah satu perhatian pemerintah.

"Kita selalu melihat bahwa kalau harga minyak di atas US$110 per barel itu biasanya ada ceasefire. Jadi bagi Indonesia relatif masih melihat dengan situasi harga minyak yang tidak di atas US$100 per barel," ujar Airlangga sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Melihat kondisi harga minyak tersebut, Airlangga menjamin Pertalite dan Biodiesel masih aman sampai akhir tahun.

"Artinya Indonesia sekarang pembelian minyaknya masih rata-rata di angka US$ 91per barel. Itu relatif sampai akhir tahun at least Pertalite dan Biodiesel aman," tegasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Selain faktor harga, pemerintah memastikan pasokan BBM Indonesia relatif terlindungi dari potensi gangguan di Selat Hormuz.

Airlangga menjelaskan impor bensin Indonesia salah satunya berasal dari Singapura dan dikirim melewati Selat Malaka. Oleh karena itu, pasokan tersebut tidak bergantung pada jalur Selat Hormuz yang sedang menjadi kekhawatiran pasar energi global.

"Sedangkan dari gasoline itu yang di hilir itu juga kami ambilnya dari Singapura jadi tidak lewat Selat Hormuz, dia lewatnya Selat Malaka. Jadi relatif Indonesia masih bisa memitigasi situasi gejolak," terangnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pemerintah tetap mewaspadai berbagai risiko bagi perekonomian global pada paruh kedua 2026, seperti perang di Ukraina, konflik Timur Tengah, hingga ketegangan di area Selat Hormuz.

Struktur pasokan energi Indonesia dinilai menjadi salah satu faktor penolong untuk meredam dampak gejolak geopolitik terhadap kebutuhan energi dalam negeri.

Pemerintah pun memastikan pasokan energi untuk kebutuhan pembangkit listrik nasional berada dalam posisi aman.

Sebagian besar pembangkit listrik di Indonesia masih bertumpu pada sumber energi domestik, khususnya batu bara. Kondisi ini membuat sektor kelistrikan tidak terlalu terkena dampak langsung dari lonjakan harga energi internasional.

"Dan yang lain, tentu kalau masalah listrik, itu kami kebanyakan dibiayai oleh indigenous energy, yaitu batu bara. Sehingga juga tidak ada lonjakan harga dari batu bara," jelas Airlangga sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua