Breaking

Harga Minyak Dunia Menguat Tipis Ditopang Ketegangan AS dan Iran

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Kamis, 13 Agustus 2026
Harga Minyak Dunia Menguat Tipis Ditopang Ketegangan AS dan Iran
Ilustrasi minyak dunia (FOTO : NET)

JAKARTA – Harga minyak dunia menguat tipis pada perdagangan Rabu (12/8/2026), namun kenaikannya tertahan oleh prospek permintaan global yang kian melemah. Pasar terus mencermati kebuntuan negosiasi Amerika Serikat (AS) dan Iran serta maraknya serangan terhadap kapal di jalur pelayaran krusial Timur Tengah.

Harga minyak Brent pengiriman berikutnya ditutup naik 7 sen menjadi US$ 88,98 per barel. Adapun minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turut menguat 7 sen ke US$ 83,27 per barel.

Ketidakpastian konflik AS-Iran menjadi penopang utama harga. Seorang sumber senior Iran menyampaikan bahwa tidak ada pembahasan antara Teheran dan Washington untuk memperpanjang gencatan senjata lantaran dari sudut pandang Iran kesepakatan tersebut belum memiliki tanggal mulai.

"Pasar semakin meragukan kesepakatan dapat segera tercapai untuk meredakan gangguan arus minyak atau mencegah konflik kembali meningkat," kata Simon-Peter Massabni, Head of Business Development XS.com sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kekhawatiran pasokan turut membumbung setelah AS dan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran melaporkan insiden serangan terpisah terhadap kapal di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb. Kedua jalur tersebut merupakan rute krusial bagi lalu lintas minyak dan gas dari Timur Tengah.

Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz bahkan merosot ke level terendah dalam sepekan, yaitu hanya delapan kapal pada Selasa. Sebelum pecah perang, sekitar 125-140 kapal melintasi rute tersebut setiap harinya.

Kendati demikian, tekanan geopolitik tersebut tertahan oleh proyeksi permintaan minyak yang kian suram. Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memangkas estimasi pertumbuhan permintaan minyak dunia 2026 menjadi 580.000 barel per hari (bph).

Badan Energi Internasional (IEA) bahkan memproyeksikan permintaan minyak tahun ini menyusut 1,6 juta bph. Di sisi lain, IEA memperkirakan pasokan bakal turun lebih dalam, yakni sekitar 4,3 juta bph, sehingga pasar minyak diperkirakan mengalami defisit sekitar 1,27 juta bph pada 2026.

Manajer portofolio Gabelli, Simon Wong, menilai penurunan proyeksi permintaan tersebut bukan hal yang mengejutkan. Kilang, khususnya di kawasan Asia, kesulitan memperoleh pasokan minyak mentah akibat hambatan di Selat Hormuz sehingga memotong kapasitas pengolahan.

"Pertanyaannya, setelah perang berakhir, seberapa besar permintaan itu akan kembali? Saya rasa tidak semuanya," ujar Wong sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dari AS, tekanan terhadap harga minyak juga bersumber dari lonjakan persediaan. Data Energy Information Administration (EIA) memperlihatkan stok minyak mentah AS secara tak terduga melonjak pekan lalu dan mencatatkan kenaikan mingguan terbesar sejak Januari 2023.

Peningkatan stok tersebut utamanya dipicu oleh lesunya ekspor minyak mentah AS serta melonjaknya volume impor. Kondisi ini mempertegas sinyal bahwa permintaan dan aktivitas perdagangan minyak masih dibayangi tekanan, walaupun risiko gangguan pasokan akibat ketegangan Timur Tengah tetap menjadi penahan utama agar harga tidak merosot.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua