Breaking

Kenaikan Harga Minyak Ancaman Baru Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Rabu, 26 Agustus 2026
Kenaikan Harga Minyak Ancaman Baru Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi
Ilustrasi Kenaikan harga minyak mentah Brent berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi global, menurut IMF. (sumber foto: NET)

JAKARTA - Ekonomi global mampu menghadapi guncangan energi akibat perang di Iran lebih baik dari perkiraan, kata Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional Kristalina Georgieva pada Selasa 25 Agustus.

Namun, Georgieva memperingatkan memburuknya kondisi fiskal di sejumlah negara yang tercermin dari kenaikan imbal hasil obligasi dan terhentinya proses penurunan inflasi, mengutip dari Reuters.

Dalam pengarahan kepada wartawan menjelang pertemuan para menteri keuangan negara-negara G20 pekan depan di Asheville, North Carolina, Georgieva mengatakan perekonomian global tengah menghadapi "tarik-menarik" antara dampak negatif gangguan pasokan energi dari kawasan Teluk dan dorongan pertumbuhan dari ledakan investasi kecerdasan buatan.

Menurutnya, risiko terhadap prospek ekonomi global kini lebih seimbang dibandingkan April, tetapi masih condong ke sisi negatif akibat meningkatnya tekanan fiskal dan kemungkinan bank sentral harus mempertahankan kebijakan moneter ketat untuk mengendalikan inflasi.

"Pertumbuhan global mampu menahan hambatan kuat dari tingkat utang yang tinggi, inflasi yang sulit turun, dan ketegangan perdagangan. Sejauh ini, ekonomi global menghadapi guncangan energi akibat penutupan Selat Hormuz lebih baik dari yang kami khawatirkan," kata Georgieva, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Beberapa faktor yang membantu perekonomian global antara lain penggunaan cadangan minyak dan gas oleh sejumlah negara, peningkatan pasokan energi dari luar kawasan Teluk, penurunan permintaan energi, bertambahnya kapasitas energi terbarukan, serta kembalinya penggunaan batu bara di sejumlah wilayah.

Investasi AI di AS juga menjaga laba perusahaan dan belanja konsumen tetap kuat.

Negara-negara lain mulai meningkatkan pembangunan pusat data serta produksi perangkat keras yang berkaitan dengan AI.

IMF belum memberikan proyeksi baru dalam penilaian tersebut.

Pada Juli, IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3%, sekaligus memperingatkan risiko penurunan akibat perang di Timur Tengah, fragmentasi perdagangan, dan ketidakpastian terkait AI.

IMF dijadwalkan memperbarui proyeksi pertumbuhan global pada pertengahan Oktober dalam pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok.

Georgieva meminta pembuat kebijakan tidak berpuas diri meski harga minyak mentah Brent saat ini berada di kisaran US$ 80-US$ 90 per barel sejak pertengahan Juni.

Level tersebut masih jauh di bawah puncak pada musim semi yang sempat menembus US$ 118 per barel.

"Guncangan energi belum berakhir," ujar Georgieva, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurutnya, kenaikan kembali harga minyak dapat mendorong inflasi dan memaksa bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat.

Kondisi tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan biaya pembayaran utang dan menekan aktivitas ekonomi.

Georgieva meminta seluruh negara menangani persoalan fiskalnya dan menyusun rencana kredibel untuk memastikan utang serta defisit berada pada jalur yang berkelanjutan.

Ia tidak menyebut negara tertentu yang membutuhkan konsolidasi fiskal.

Namun, pernyataannya muncul setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun pekan lalu naik ke level tertinggi dalam 19 tahun.

Kenaikan tersebut mendorong Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan keputusan mengejutkan untuk menggandakan ukuran pembelian kembali obligasi pemerintah AS berjangka panjang.

IMF telah lama menyerukan Washington mengurangi defisit fiskalnya yang terus membesar.

Langkah tersebut juga dinilai dapat membantu mengurangi defisit perdagangan dan transaksi berjalan AS.

Georgieva juga mengatakan bank sentral harus tetap "sangat fokus" pada mandat menjaga stabilitas harga di tengah risiko inflasi yang masih ada, meskipun kebijakan moneter ketat berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, negara-negara perlu mengatasi ketidakseimbangan ekonomi global yang berlebihan dan menjadi salah satu sumber ketegangan perdagangan.

Georgieva tidak menyebut negara tertentu, tetapi IMF sebelumnya berulang kali meminta China menyeimbangkan kembali model pertumbuhannya, dari ketergantungan pada ekspor yang membanjiri pasar global dengan barang murah menuju pertumbuhan yang lebih didorong konsumsi domestik.

"Ekonomi yang lebih seimbang adalah ekonomi global yang lebih kuat, dan itu baik bagi semua pihak," kata Georgieva, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua