Breaking

Viral Ajakan Tarik Uang Massal dari Bank Mandiri, Ini Kata Pengamat soal Risikonya

RE
Jumat, 28 Agustus 2026
Viral Ajakan Tarik Uang Massal dari Bank Mandiri, Ini Kata Pengamat soal Risikonya

INSIDERINDONESIA.COM — Kabar ini bermula dari polemik penundaan transaksi pada rekening milik Supriyono yang menyimpan dana sekitar Rp80,9 juta. Dana tersebut disebut berasal dari donasi untuk kebutuhan logistik aksi AMPB di Jakarta.

Menanggapi hal ini, Polda Metro Jaya membenarkan adanya permintaan penundaan transaksi tersebut. Pihak kepolisian menegaskan rekening Supriyono tidak diblokir secara total, melainkan hanya ditunda transaksinya selama lima hari.

Meski sudah ada klarifikasi, seruan di media sosial tetap berkembang. Sebagian warganet mengaku ingin berhenti menggunakan Bank Mandiri, mengajak nasabah lain menarik saldo bersama-sama, hingga mengunggah foto kartu ATM yang dipatahkan.

Bahaya di Balik Aksi Tarik Tunai Massal

Penarikan dana adalah hak setiap nasabah. Namun, situasi bisa berubah ketika banyak orang menarik uang dalam jumlah besar di waktu yang hampir bersamaan.

Direktur Eksekutif Segara Research Institute, Piter Abdullah, menyebut kondisi ini bisa memicu bank run atau rush. Istilah ini merujuk pada situasi ketika nasabah beramai-ramai menarik dana sehingga bank menghadapi tekanan likuiditas.

Perlu dipahami, bank tidak menyimpan seluruh dana nasabah dalam bentuk uang tunai. Sebagian besar dana tersebut disalurkan kembali ke masyarakat melalui kredit.

Jika penarikan massal terjadi, bank sehat pun bisa menghadapi masalah. Dampaknya bisa meluas: - Tekanan likuiditas yang mengganggu operasional bank. - Terganggunya penyaluran kredit untuk masyarakat dan pelaku usaha. - Menurunnya kepercayaan publik terhadap sistem perbankan.

Dampak Berantai ke Ekonomi dan Risiko Menyimpan Tunai

Risiko ini tidak berhenti di bank. Perbankan punya peran penting menggerakkan ekonomi. Ketika likuiditas bank tertekan, aktivitas pembiayaan ikut terganggu.

Dunia usaha bisa kesulitan mendapat pendanaan, sementara konsumsi dan investasi berpotensi menurun. Piter mengingatkan, dalam kondisi ekstrem, hal ini bisa berdampak pada lapangan pekerjaan dan daya beli masyarakat.

Sementara itu, Pengamat Perbankan Arianto Muditomo menyoroti risiko lain dari menyimpan uang tunai dalam jumlah besar. Selain meningkatkan biaya produksi dan distribusi uang tunai, ada risiko keamanan yang mengintai.

Kepemilikan uang tunai berlebih bisa meningkatkan peluang pemalsuan uang, tindak pidana pencucian uang, hingga kriminalitas. Memindahkan seluruh dana dari bank ke bentuk tunai bukan berarti menghilangkan risiko, justru memunculkan bahaya baru.

Pada akhirnya, aksi protes lewat tarik tunai massal bisa membawa konsekuensi yang lebih luas dari sekadar bentuk ketidakpuasan. Masyarakat perlu mempertimbangkan aspek keamanan dan kebutuhan penggunaan dana sebelum mengambil langkah tersebut.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua